MOJOK.COViralnya Ariel Noah belakangan ini mengingatkan saya akan pemikiran Imam Al-Ghazali, soal kemuliaan orang yang berani bilang, “tidak tahu.”

Ayolah, akui saja, nama Ariel Noah sebenarnya sudah agak tenggelam sejak awal pandemi (karena konser musik dll dibatasi). Mendadak di akhir tahun 2020, nama Ariel Noah jadi jaminan viral di mana-mana. Uniknya, jika konotasi viral cenderung dekat dengan perkara kontroversial, Ariel Noah malah sebaliknya.

Jika kita mau sedikit saja melacak dari mana nama Ariel Noah kembali gampang viral akhir-akhir ini, kita bisa tengok pada awal Agustus 2020 lalu, ketika Anji ex-vokalis Drive kena kasus karena bikin konten kontroversial tentang obat Covid-19.

Tak ada angin tak ada hujan, nama Ariel Noah diseret-seret dalam kasus itu. Bukan diseret dalam makna negatif, tapi justru diseret untuk memberi pembanding terbalik bagaimana seharusnya seorang influencer mengomentari sebuah isu.

Pernyataan Ariel Noah yang gemar menarik diri ketika membicarakan isu-isu nasional, mendadak disukai banyak orang. Tiba-tiba ketika ada orang yang tanpa tedeng aling-aling bilang, “Wah, saya nggak tahu. Ketimbang nanti malah jadi masalah, saya nggak berani jawab,” justru jadi oase di tengah gurun informasi belakangan ini.

Apalagi ketika orang yang berbicara itu adalah sosok sepopuler Ariel Noah. Sosok yang kalau mau ngomong apa bakal didengerin banyak orang.

Baca juga:  Membaca Judul Sinetron Azab Versi Netizen Dengan Perspektif Kritis

Kebiasaan Ariel Noah ini kemudian terbawa juga ketika yang bersangkutan mulai sedikit “memanfaatkan” keviralan itu. Di berbagai channel YouTube, pelantun lagu “Separuh Aku” ini jadi sering nongol. Dari channel-nya Soleh Solihun, Armand Maulana, sampai kanal punya Sule.

Bahkan Ariel Noah juga muncul sendiri dengan konten merakit PC oleh pemula. Semua muaranya sama, dia hanya akan mengomentari apa yang dia ketahui.

Kita mungkin tak mengira, kebiasaan Ariel Noah ini sebenarnya bisa masuk pada penggolongan 4 manusia versi Imam Al-Ghazali. Filsuf Persia pengarang kitab terkenal Ihya’ Ummuluddin.

Nama filsuf yang juga sering bikin Google Indonesia bingung, ini Al-Ghazali filsuf atau Al-Ghazali anaknya Ahmad Dhani sih?

Nah, Imam Al-Ghazali pernah menyebut bahwa ada empat golongan manusia di planet ini. Yang kesemua contohnya bisa memakai sosok Ariel. Oke kita mulai dari yang pertama.

Orang tidak tahu kalau dirinya tahu

Eh, gimana? Gimana?

Oke begini penjelasannya.

Ada banyak orang di dunia ini yang suka tidak sadar kalau dirinya sebenarnya tahu. Kalau kamu pernah nonton channel-nya Armand Maulana ketika ngundang Ariel Noah, kamu akan ngeh kalau Ariel ini orangnya pelupa banget.

Masa-masa kecilnya sendiri sering sekali nggak inget. Uniknya, kebiasaan melupakan hal-hal masa lalu itu bikin Ariel jadi gampang bilang “tidak tahu” atau “tidak inget” di setiap acara wawancara. Di channel talkshow-nya Soleh Solihun juga begitu. Ini orang suka sekali tidak menyadari kalau dirinya tahu. Asli.

Baca juga:  Ya Allah, Cobaan Apa Lagi yang Kau Jatuhkan kepada Orang Minang?

Barangkali karena males ribet dan kelamaan, Ariel cenderung akan menjawab cepat saja, “gue nggak tahu.” Pada akhirnyanya kebiasaan untuk menolak mengomentari hal-hal yang dia tahu pun jadi keseringan.

Sekarang gini. Kejadian yang dia tahu aja Ariel bilang nggak tahu, apalagi isu yang beneran dia nggak tahu. Dan kebiasaan inilah yang akhirnya masuk pada golongan manusia kedua versi Imam Al-Ghazali.

Orang yang tahu kalau dirinya tidak tahu

Nah, ini adalah kebiasaan Ariel Noah yang bikin dia jadi viral lagi akhir-akhir ini. Di setiap momen ketika Ariel dimintai pendapat di luar kapasitasnya, dengan enteng dia bakal bilang tidak tahu.

Sekali lagi, hal ini justru jadi distingsi bagi seorang influencer. Ibarat merek dagang baru, Ariel Noah yang sekarang adalah orang yang berani bilang “tidak tahu” ketika banyak orang yang pede sekali ngemeng padahal kosong.

Hal ini sebenarnya juga jadi kampanye yang baik untuk iklim media sosial kita juga. Di saat media sosial bikin kepakaran jadi kayak mati suri, Ariel malah ujug-ujug nongol dan seolah kasih nasihat ke kita, “bilang nggak tahu di medsos itu juga bisa tetep keren kok.”

Keberanian yang—untungnya—disambut baik oleh kebanyakan netizen. Fiuh.

Orang yang tahu kalau dirinya tahu

Mungkin ini masuk pada kategori Ariel Noah ketika membicarakan perkara Gundam, rakit komputer, game, dan soal musik. Ketika membicarakan itu, Ariel Noah akan antusias dan nggak canggung untuk mengutarakan pendapatnya. Maklum, Ariel ini memang hidup di dunia kayak gitu.

Baca juga:  Saya Mau Bekerja Sama dengan Setan

Uniknya, pada perkara yang benar-benar diketahui sekalipun, Ariel tetap bilang dirinya “pemula”, bukan expert. Ini jelas kebiasaan yang menampar netizen yang sok-sokan expert kalau ngomentari sebuah isu.

Orang yang tidak tahu kalau dirinya tidak tahu

Ada banyak orang model begini di ekosistem media sosial kita. Bukan apa-apa, medsos kan bikin semua lapisan masyarakat nyampur jadi satu. Seorang profesor bisa aja dicaci-maki pemikirannya oleh seorang anak SMP.

Di satu sisi hal itu kadang bagus, meski di sisi yang lain cenderung toxic dan mengganggu. Masalah lebih serius lagi, orang-orang model begini biasanya adalah orang yang paling mudah terpapar hoaks.

Dan ketika tanpa sadar menyebarkan informasi hoaks, bukan tidak mungkin orang ini bakal kena masalah hukum akibat kesotoyannya.

Salah satunya? Ya Anji…

…yang justru bikin pengaruh Ariel Noah kembali terbangun dan bilang “tidak tahu” di medsos mendadak jadi wangun.

BACA JUGA Giring dan Pasha ‘Ungu’ Memang Perlu Belajar dari Ariel dan tulisan soal Ariel lainnya.