Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Khotbah

Ketika Bela Negara Palestina Malah Jadi Zalim Tanpa Disadari

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
17 Agustus 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Bentuk respek terbesar kepada lawan seperti timnas Palestina itu adalah upaya saling mengalahkan dengan sekuat tenaga dan sekuat dukungan yang bisa diupayakan. Bukan malah sebaliknya.

Bunyi peliut akhir dari pengadil pertandingan ditiup malam itu. Pertandingan antara timnas Indonesia melawan timnas Palestina usai sudah. Hasil akhir pertandingan, Indonesia harus mengakui kalah 1-2 dari tamunya pada ajang Asian Games 2018 cabang olahraga sepak bola. Fanshuri uring-uringan melihat pertandingan tersebut dari televisi di rumahnya. Gus Mut yang menemaninya nonton cuma mesam-mesem saja melihat kekalahan Indonesia.

Iklan

Fanshuri patut saja uring-uringan, sepanjang pertandingan sebagian suporter Indonesia di dalam stadion malah tampak seperti suporter Palestina. Bukannya memberi semangat kepada timnas sendiri, suporter Indonesia pada beberapa momen justru mendukung pemain-pemain Palestina bermain. Bagi Fanshuri ini hal yang di luar nalar sehatnya.

“Sudahlah, Fan. Nggak apa-apa kalah, masih ada peluang lolos juga kok. Lagian secara fisik dan tenaga pemain Palestina lebih bagus dari timnas kita,” kata Gus Mut sambil menyalakan rokok.

“Lho, kalah kok nggak apa-apa itu gimana sih, Gus?” protes Fanshuri.

“Ya namanya pertandingan kan ada yang menang ada yang kalah. Ya wajar saja dong,” kata Gus Mut.

“Bukan soal pertandingannya, Gus, aku merasa kecewa. Tapi sama suporter timnas kita di stadion sendiri itu tadi lho. Ini gimana sih, sudah tahu yang main timnas, malah ngedukung tim lawan. Ini gimana sih?” Fanshuri masih mbesengut.

“Ya wajar tho, Fan. Banyak orang Indonesia yang respek sama perjuangan orang Palestina meraih kemerdekaannya. Jadi dukungan itu juga dilibatkan juga di pertandingan tadi. Beberapa orang ini kan sadar nggak bisa langsung kasih dukungan ke Palestina langsung, jadi ya mereka manfaatin momen kayak begini. Mumpung bisa dilihat langsung sama orang-orang Palestina,” kata Gus Mut.

“Respek soal politik mah oke-oke saja, Gus, tapi ini sudah kelewatan. Sudah salah kaprah kalau ngedukung negara Palestina disamakan dengan ngedukung timnas Palestina, Gus,” kali ini Fanshuri tidak sependapat dengan Gus Mut.

“Ya itu kan reaksi spontan aja tho, Fan. Banyak yang simpati sama Palestina, jadi ya wajar saja,” kata Gus Mut.

“Hal begitu malah nggak wajar, Gus. Itu malah zalim namanya,” kata Fanshuri masih saja setel kenceng.

“Zalim? Ah, masa iya. Berlebihan itu, Fan, kalau kamu bilang itu zalim,” balas Gus Mut mulai kepancing.

“Ya zalim dong, Gus. Tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya itu namanya kan zalim, Gus. Apalagi coba?”

“Iya sih kalau dari sisi itu…”

Iklan

“Makanya itu Gus, suporter kita malah kelewatan memasukkan dukungan politik ke ranah sepak bola sampai segitunya. FIFA aja punya aturan ngelarang itu. Apa-apaan tadi? Pemain Palestina malah terasa main di kandang, kita yang jadi tuan rumah malah berasa main tandang. Ini gimana ceritanya?”

“Tapi kan cuma di momen-momen kayak tadi saja dukungan rakyat Indonesia bisa kelihatan oleh dunia luar,” balas Gus Mut.

“Iya, kelihatan di dunia luarnya malah kelihatan memalukan, Gus,” balas Fanshuri.

“Lha kok gitu kamu ngomongnya, Fan?” balas Gus Mut mulai sedikit emosi.

“Ya iya dong, Gus. Dalam lapangan itu, respek terbesar terhadap tim yang bertanding adalah saling mengalahkan. Kalau misal Gus Mut lagi main badminton sama aku nih, terus Gus Mut sengaja aku menangin. Aku main asal-asalan, apa iya Gus Mut merasa aku respek sama Gus Mut? Yang ada justru aku malu-maluin Gus Mut lah. Sudah tahu secara kualitas aku bisa ngalahin Gus Mut dengan mudah, eh sengaja aku kalahin. Apa iya Gus Mut bisa bangga dengan kemenangan kayak gitu? Yang ada malah Gus Mut dapat malu, aku juga dapat malu,” kata Fanshuri.

“Lho tapi kan timnas kita tadi nggak sengaja buat mengalah kan, Fan? Pemain-pemain kita main mati-matian lho di lapangan. Mereka tetep ngejar kemenangan tuh,” balas Gus Mut.

“Lha makanya itu, Gus. Yang aku komentari itu suporter di stadionnya, bukan pemain-pemainnya timnas kita. Aku itu cuma kasihan sama pemain timnas kita sendiri. Sudah mati-matian bela negara, eh, malah suporternya ngedukung tim lawan juga. Padahal mereka nggak bikin salah apa-apa, sudah berjuang mati-matian malah nggak dapat respek yang dari sesama negaranya,” kata Fanshuri.

Gus Mut cuma menyeruput kopinya saja, masih mendengarkan.

“Di dalam lapangan sepak bola itu respek terbesar justru mengalahkan lawan dengan sekuat tenaga, dengan sekuat dukungan yang bisa diupayakan. Terlalu hormat kepada tim lawan itu juga nggak bagus, Gus. Nggak sehat.”

“Lagian, mainnya pemain timnas Palestina tadi juga kasar-kasar. Tapi apa mereka salah? Ya nggak lah, dalam pertandingan sudah ada rules of the game-nya. Mereka kasar, mereka dapat ganjaran yang setimpal. Sudah ada wasit yang memimpin. Nah, orang-orang di dalam lapangan ini pada bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya. Politik ya politik aja, dukung merdeka ya dukung merdeka saja, tapi ini sepak bola, cabang olahraga, Gus. Nggak sehat kalau demi politik antar negara, kita jadi malah terlalu respek sama timnas lawan pakai cara mengabaikan sportivitas dengan mendukung tim lawan. Kalau dari aku sih itu malah memalukan buat kita sendiri,” kata Fanshuri panjang lebar.

“Ah, masa segitunya, Fan? Nggak yakin aku. Coba deh cek aja besok, pemain-pemain Palestina pasti pada respek sama suporter kita,” kata Gus Mut masih kukuh.

“Aku nggak peduli sama reaksi mereka, Gus, aku lebih peduli sama apa yang dirasakan pemain timnas kita,” balas Fanshuri.

Kali ini Gus Mut bergeming.

“Coba Gus Mut bayangkan rasanya jadi pemain Indonesia di lapangan. Mereka bertahun-tahun berkarier jadi pemain sepak bola profesional yang masa depannya kadang belum pasti hanya demi bisa bermain pakai lambang Garuda di dada mereka. Buat ngebanggain orang-orang kayak kita ini, Gus. Tapi begitu mereka bermain untuk kita, dengan segala beban yang ada di pundak mereka, kita malah ngedukung tim lawan juga. Apa ini nggak zalim namanya? Apa kita nggak zalim sama pemain-pemain timnas kita sendiri itu namanya?” kata Fanshuri.

“Tapi, Fan…” Gus Mut ingin mendebat, tapi dia sadar. Kalau soal agama mungkin Gus Mut lebih unggul, tapi kalau soal bola, melawan orang yang pernah masuk sebagai pemain junior di klub lokal seperti Fanshuri meskipun gagal karena cedera, sepertinya bakal sia-sia belaka. Pengetahuan bola Gus Mut nggak ada seujung kukunya Fanshuri.

“Kalau aku sih benar-benar kecewa, Gus. Bagiku, kebanggaanku dari negara ini baru bisa diwakili sama cabang olahraga. Eh, cuma tinggal itu satu-satunya yang bisa aku banggain dari negara yang udah 73 tahun merdeka ini malah direbut sama niat-niat supaya kelihatan ngedukung, tapi malah salah jalur begitu,” kata Fanshuri yang kali ini gantian menyeruput kopi karena haus udah ngomong nggak berhenti-henti.

Gus Mut cuma tersenyum lalu membalas perlahan, “Iya, Fan… aku ngerti. Aku paham sama kemarahanmu itu. Memang nggak semua yang kelihatan benar itu bisa jadi baik kalau tempat dan waktunya nggak pas.”

Terakhir diperbarui pada 17 Agustus 2018 oleh

Tags: 73 tahunasian gamesFanshuriFIFAGus MutIndonesiakemerdekaanmerdekapalestinapolitikrespektimnas
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

WNI tergabung ke GSF menuju Gaza diculik militer Israel dan renungan kegagalan pemerintah dunia hentian genosida Palestina MOJOK.CO
Kabar

Di Balik Penculikan WNI-GSF oleh Militer Israel: Sipil Berlayar karena Pemerintah Dunia Gagal Stop Genosida Palestina

19 Mei 2026
Warteg Singapura vs Indonesia: Perbedaan Kualitas Langit-Bumi MOJOK.CO
Esai

Membandingkan Warteg di Singapura, Negara Tersehat di Dunia, dengan Indonesia: Perbedaan Kualitasnya Bagai Langit dan Bumi

22 Desember 2025
Gugun El Guyanie : Awalnya Soal Skripsi, Berakhir Membongkar Dinasti
Video

Gugun El Guyanie : Awalnya Soal Skripsi, Berakhir Membongkar Dinasti

28 Oktober 2025
Republik dan Bayang Penjajahan yang Tak Usai
Video

Republik dan Bayang Penjajahan yang Tak Usai

25 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

donasi ekonomi.MOJOK.CO

“Rakyat Bantu Rakyat” Menguat, tapi Jangan Jadi Alasan Pemerintah Lepas Tangan dan Abai Pada Nasib Masyarakat

14 Juli 2026
Yamaha Gear Ultima, Motor Underrated tapi Tangguh: Andalan Para Ibu Rumah Tangga bahkan Cocok Bagi Bikers Pecinta Touring.MOJOK.CO

Yamaha Gear Ultima, Motor Underrated tapi Tangguh: Andalan Para Ibu Rumah Tangga bahkan Cocok Bagi Bikers Pecinta Touring

12 Juli 2026
Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan MOJOK.CO

Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan

14 Juli 2026
Beralih dari profesi dokter ke petani di Klaten. MOJOK.CO

Resah Jadi Dokter: Tangani Pasien Petani dengan Keluhan Sama, Pilih Turun ke Sawah demi “Menyembuhkan” Tanah

13 Juli 2026
SSB MAS merawat bibit-bibit muda sepak bola Kota Jogja meski dari Lapangan Minggiran yang tidak rata MOJOK.CO

SSB Tertua di Kota Jogja Merawat Bibit-bibit Muda Meski dari Lapangan Bola Tidak Rata

11 Juli 2026
kebun sayur di kota jogja.MOJOK.CO

Cara Warga Wirobrajan Hadapi Keterbatasan Lahan: Mengubah Tembok Kampung Menjadi Kebun Sayur

8 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.