Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kenapa Orang Jogja Dikenal Jago Navigasi?

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
3 September 2019
A A
Kenapa Orang Jogja Dikenal Jago Navigasi? Mojok.co
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Alam di Jogja memang kayak didesain untuk memudahkan orang agar bisa tahu mana utara mana selatan. Bikin kami jadi terbiasa memahami arah mata angin.

“Woy, Mas! Kalau ngasih patokan jangan pakai utara selatan gitu, bingung saya. Pakai patokan kanan atau kiri aja,” kata abang ojek online (ojol) yang jemput saya di depan Stasiun Pasar Minggu, Jakarta Selatan beberapa tahun lalu.

Saya kaget karena abang ojol ini ngegas begitu. Meski kalau dipikir-pikir lagi, ya wajar sih kalau ngegas, lha gara-gara saya juga kasih patokan arah mata angin ke si abang ojolnya. Bukannya jadi gampang, si abang ojol malah jadi bingung sendiri cari posisi saya.

Memang betul si abang ojol bisa cari saya di titik penjemputan, tapi karena ingin mempermudah pencarian, saya coba kirim chat dan memberinya arah yang spesifik.

“Sebelah selatan jembatan penyeberangan ya, Pak? Di utaranya perlintasan kereta api,” ketik saya waktu itu.

Sebagai orang Jogja yang baru beberapa bulan di Jakarta, kebiasaan menggunakan arah mata angin sudah ada di kepala saya sejak kecil. Jadi ketika saya gede dan merantau di kota lain, hal yang harus saya pahami lebih dulu adalah soal mata angin. Sudah jadi naluri aja gitu.

“Sori, Pak. Kebiasaan di kampung, hehe,” kata saya cengengesan usai diomelin si abang ojol.

Lalu saya ceritakan pengalaman ini ke teman saya yang asli Jakarta. “Masa orang Jakarta asli nggak bisa bedain utara selatan di Jakarta sih? Aneh banget,” kata saya ke teman saya.

Terang saja, saya gantian kena semprot teman saya. Katanya, upaya saya untuk mempermudah dengan sok-sok ngasih navigasi mata angin begitu, justru mempersulit bagi orang lain. Saya jadi paham, kalau ternyata nggak semua daerah di Indonesia itu terbiasa dengan patokan mata angin.

Protes semacam ini sebenarnya juga sudah saya dengar bertahun-tahun sebelumnya dari teman-teman saya yang merantau ke Jogja—entah untuk kerja, entah untuk kuliah.

Katanya, “Orang di sini kok ngasih arah pakai utara selatan gitu dah? Ribet amat. Kanan kiri aja kenapa sih? Heran deh, orang Jogja kok jago-jago amat sama navigasi beginian?”

Saya sendiri tidak paham, gimana sejarahnya orang Jogja selalu menggunakan arah mata angin. Mungkin tak semua orang Jogja juga sih, tapi kalau kamu ke Jogja, dan tanya jalan ke orang, kemungkinan besar kamu akan mendengar dialog seperti ini, “Nanti kalau ketemu Tugu Jogja, sampeyan ke selatan aja, Mas. Habis itu ke barat. Bla-bla-bla.”

Sekali lagi. Niat hati si orang ini tentu baik, ingin memberi arahan yang lebih spesifik, tapi kalau orang asing ini baru pertama kali ke Jogja dikasih navigasi serumit itu ya bakal puyeng juga lah. Tugu Jogja di mana juga belum tentu paham kok. Ini malah ngasih-ngasih arah selatan sama barat segala lagi.

Tapi setidaknya, saya bisa berbagi kenapa orang-orang Jogja (dan yang sudah lama tinggal di Jogja) punya kebiasaan seperti itu. Selain karena untuk tahu mana arah salat, alam di Jogja memang kayak udah didesain untuk memudahkan orang agar bisa tahu mana utara mana selatan. Paling tidak, bisa tahu mana arah utara lebih dulu.

Iklan

Memang patokan arah utara di Jogja itu apa? Yaktul, Gunung Merapi.

Gunung Merapi merupakan ujung utara dari Provisinsi Yogyakarta. Jadi kalau kamu ada di daerah Jogja dan melihat ada gunung besar, nah itu patokan arah utara. Tak perlu khawatir terdistorsi sama gunung yang lain, soalnya cuma itu satu-satunya gunung di Yogyakarta (oh iya Gunung Kidul itu bukan gunung ya, itu bukit). Simpel banget kan?

Dengan hanya tahu mana utara, kami orang Jogja secara otomatis akan paham, mana barat dan mana timur. Oh, kalau badan saya menghadap Gunung Merapi, berarti tangan kanan saya adalah timur dan tangan kiri saya adalah barat, sedangkan pantat saya adalah selatan. Udah gitu doang.

Lalu gimana saya bisa paham patokan mata angin di Jakarta seperti di awal cerita tadi?

Ini juga sederhana sebenarnya. Seperti yang sudah saya ceritakan tadi. Ketika berada di tempat asing, hal pertama yang harus saya ketahui adalah arah mata angin. Kalau sampai saya berada di lokasi yang tidak bisa tahu mana arah mata angin, rasanya saya insecure banget. Kayak hidup ini jadi terancam.

Kalaupun nyasar di jalan, paling tidak saya tidak pernah melepaskan bayangan navigasi mana utara mana selatan—kebiasaan yang tidak dilakukan saya juga, tapi teman-teman dan seluruh keluarga juga. Kebiasaan yang sudah dilakukan jauh sebelum ada Google Maps.

Itu pula yang saya lakukan ketika mendarat di Jakarta. Hal yang ada di pikiran saya sebelum mencari rute jalan ke kantor dari kos-kosan dengan melewati macet adalah, “mana nih utara dan selatannya?” Padahal tidak ada tanda alam yang gampang kelihatan di Jakarta kayak Gunung Merapi di Jogja.

Kebetulan Pemprov DKI Jakarta kayak mendesain kotanya begitu mudah untuk dihafal navigasinya bagi orang dari daerah seperti saya. Patokan saya untuk arah di Jakarta adalah lintasan rel KRL yang menghubungkan Jakarta sampai Bogor.

Jalurnya yang relatif lurus membujur dari utara ke selatang ini gampang banget nyangkut di kepala saya. Jadi, jika di Jogja saya punya Gunung Merapi, di Jakarta saya punya rel KRL jurusan Jakarta-Bogor. Jadi kalau ada di sebelah kiri KRL (dari arah Bogor) itu barat, kalau di sebelah kanan itu timur. Simpel.

Masalahnya adalah, rel KRL di Jabodetabek tidak cuma Jakarta-Bogor. Ada juga arah Bekasi, ada juga arah Tangerang, dan ada juga arah Serpong. Ini memusingkan saya kalau berjalan terlalu jauh dari jalur rel KRL Jakarta-Bogor. Soalnya jalanan di Jakarta itu jauh lebih rumit dihafal ketimbang di Jogja.

Masalah yang lain akhirnya muncul. Karena kebiasaan meletakkan arah mata angin di kepala saya sejak kecil, saya suka kesulitan kalau melihat rute KRL Jabodetabek yang dipajang di atas pintu kereta atau stasiun. Bagi saya rute itu malah bikin pusing.

Niatnya sih jelas mempermudah, tapi karena tidak ada patokan mana yang ke arah selatan, mana yang ke arah utara, melihat rute itu malah bikin saya bingung. Meski saya turun di stasiun yang tepat, tapi kan saya belum tentu tahu arah. Makanya saya tetap saja bingung.

Ini lho, bentuk gambar rute yang saya maksud:

Kalau lihat rute itu, ingin rasanya saya ngegas ke petugas KRL-nya, “Woy, Pak! Kalau ngasih patokan jangan pakai titik-titik ginian dong, bingung saya. Pakai patokan peta yang ada utara atau selatan aja gimana sih?”

Lalu petugas KRL dalam imajinasi saya cuma balas, “Sori, Pak. Kebiasaan di sini, hehe.”

Kemudian saya segera sadar, ini bukan soal siapa yang lebih jago navigasi, ini cuma soal siapa yang lebih jago adaptasi.

BACA JUGA Mencintai Jogja dengan Segenap Kemacetannya atau tulisan Ahmad Khadafi lainnya.

Terakhir diperbarui pada 3 September 2019 oleh

Tags: Jogjanavigasiorang jogjaYogyakarta
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO
Ragam

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026
Kos horor di Jogja.MOJOK.CO
Ragam

5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku

12 Januari 2026
Dosen Profesi Nelangsa, Gaji Kalah sama Ngajar Anak SD (Unsplash)
Pojokan

Gelap Masa Depan Dosen, Lulusan S2 Jogja Mending Ngajar Anak SD di Surabaya yang Lebih Menjanjikan dari sisi Gaji

12 Januari 2026
Mobilitas bus pariwisata menjadi tantangan tersendiri bagi Kawasan Sumbu Filosofi (KSF) dan tata kelola di Jogja MOJOK.CO
Liputan

Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata

10 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Olin, wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) pada 2025. MOJOK.CO

Pengalaman Saya sebagai Katolik Kuliah di UMMAD, Canggung Saat Belajar Kemuhammadiyahan tapi Berhasil Jadi Wisudawan Terbaik

14 Januari 2026
Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut MOJOK.CO

Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut

14 Januari 2026
Motor Honda Vario 150 2026, motor tahan banting MOJOK.CO

Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual

15 Januari 2026
Jombang itu kota serba nanggung MOJOK.CO

Jombang Kota Serba Nanggung yang Bikin Perantau Bingung: Menggoda karena Tenteram, Tapi Terlalu Seret buat Hidup

12 Januari 2026
Derita perempuan saat naik transportasi umum di Jakarta, baik KRL maupun TransJakarta MOJOK.CO

Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan

17 Januari 2026
Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa. MOJOK.CO

Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan Kuliah S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa

12 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.