MOJOK.CORevolusi akhlak yang dilakukan Mas Is dan teman-temannya tidak disetujui Gus Mut. Secara konsep tak masalah, praktiknya aja yang agak nganu.

Geger tempat tongkrongan Yu Pariyem di pertigaan kantor kecamatan bikin Mas Is mendatangi Gus Mut. Kejadian di desa agak jauh itu, pikir Mas Is, perlu diketahui Gus Mut. Pasalnya, sudah sejak lama Yu Pariyem meresahkan Mas Is dan teman-temannya. Ya apalagi kalau bukan karena Yu Pariyem jualan ciu.

Atas nama semangat kampanye revolusi akhlak, Mas Is dan teman-teman laskarnya mendatangi warung Yu Pariyem yang terlihat seperti warung makan biasa kalau dari luar itu. Masalahnya, upaya itu dibarengi dengan aksi merusak perabotan Yu Pariyem, sekaligus mengancam akan datang lagi kalau Yu Pariyem melanjutkan bisnis haram tersebut.

“Gus, ini saya mewakili teman-teman laskar ingin klarifikasi ke panjenengan. Katanya sampean tidak setuju sama aksi kemarin itu. Padahal ya, Gus, kita itu perlu menutup peluang kemaksiatan, sekecil apapun itu. Ini bagian dari revolusi akhlak, Gus,” kalimat pertama Mas Is sudah cukup ngegas.

Gus Mut tahu betul apa maksud Mas Is. Soalnya, kabar perusakan warung Yu Pariyem itu pun sudah terdengar sampai ke desa Gus Mut. Meladeni semangat nahi mungkar yang meletup-letup dari Mas Is, Gus Mut tidak bisa gegabah.

Gus Mut cuma terdiam, belum mau komentar apa-apa.

Baca juga:  Kenapa Sabar dan Ikhlas Itu Kekuatan dan Bukan Kelemahan

“Iya, saya tahu pengrusakan itu di luar rencana, Gus. Kami sebenarnya maunya datang baik-baik. Lah tapi Yu Pariyem malah balik ngegas, ya wajar kalau ada anak-anak yang kepancing jadi ngrusakin warungnya,” kata Mas Is.

Kali ini Gus Mut cuma menghela nafas.

“Ta, tapi, Gus. Panjenengan harus tahu, semangat amar ma’ruf nahi mungkar ini penting untuk Islam. Agar orang-orang yang maksiat itu nggak ngelunjak kalau dibiarin,” kata Mas Is lagi. Padahal dari tadi Gus Mut cuma bergeming.

“Terus…” kali ini suara Gus Mut keluar, “kalian ganti rugi nggak itu barang-barang rusaknya Yu Pariyem?”

“Ya ngapain kita ganti? Tempat maksiat begitu kok, Gus. Kalau kita ganti rugi, lah malah kita ikut menyumbang lagi benih-benih kemaksiatan,” kata Mas Is.

Kali ini Gus Mut cuma tersenyum kecil.

“Justru karena sampean itu, Is, orang-orang kayak Yu Pariyem akan terus melanjutkan kemaksiatan,” kata Gus Mut.

“Lah, Gus Mut kok malah jadi ngebela orang jualan ciu? Memang Gus Mut mau kasih fatwa kalau ciu sekarang halal?” tanya Mas Is.

“Siapa yang menghalalkan ciu? Aku ini bilang, kalau aksi sampean dan temen-temen itu malah bikin orang kayak Yu Pariyem makin menjauh. Nahi mungkar sih nahi mungkar, tapi kalau nggak pakai cara ma’ruf ya orang bakal memilih tetep mungkar lah, Is,” kata Gus Mut.

Baca juga:  Cari Kos Bebas Nggak Berarti Mau Berbuat Maksiat, Bosku!

“Ya salah sendiri jualan ciu. Sudah tahu dilarang agama kok masih ngeyel,” kata Mas Is masih ngegas.

“Is, apa sampean tahu kalau Yu Pariyem itu bukan orang Islam? Beliau kan non-muslim, semua orang tahu,” kata Gus Mut.

“Ya tahu lah, Gus,” kata Mas Is.

“Lah kenapa tetep melakukan itu?” tanya Gus Mut.

“Ya walaupun Yu Pariyemnya orang non-muslim, tapi kan yang beli di tempat dia orang-orang Islam juga, Gus. Jadi ini bukan soal agamanya Yu Pariyem apa, tapi soal revolusi akhlak orang-orang Islam di sekitarnya,” kata Mas Is.

Kali ini Gus Mut terkekeh.

“Lah malah ketawa Gus Mut ini, serius ini, Gus,” kata Mas Is.

“Bukan, bukan gitu, Is. Memangnya, kalau orang udah ketagihan minum, lalu sampean nutup satu warung begitu, orang itu bakal berhenti minum?” tanya Gus Mut.

“Ya paling tidak, kalau mau cari warung yang lain, orang itu makin sulit lah. Mempersulit akses orang mau maksiat kan juga ibadah,” kata Mas Is percaya diri.

“Tapi menjauhkan orang dari keindahan Islam itu bisa jadi maksiat itu sendiri lho, Is,” kata Gus Mut.

“Kok gitu?” tanya Mas Is.

“Ya karena orang-orang itu jadi tahunya Islam dari wajah-wajah sampean itu, Is. Kasar, suka ngerusak, itu jadi citra nggak baik buat orang Islam yang nggak ikut-ikutan. Akhlak macam apa yang mau sampean tunjukkan dari cara-cara kayak gitu, Is?” tanya Gus Mut.

Baca juga:  Poligami karena Merasa Selevel dengan Nabi Adalah Sikap Sombong dan Bodoh

“Tapi kan lebih baik ada aksi, Gus. Ketimbang kayak Gus Mut cuma diam di rumah, ngajar ngaji santri-santri sendiri, nggak membawa perubahan sama sekali untuk revolusi akhlak di daerah sini,” kata Mas Is.

Gus Mut kembali terkekeh.

“Iya, Is. Aku itu emang cuma kiai kampung. Nggak punya pengaruh sama sekali. Makanya aku milih ngajar di surai kecil begini aja. Ta, tapi, Is, memangnya kalau sampean lihat kemaksiatan gitu sampean ngucapin apa?” tanya Gus Mut.

“Istighfar lah, Gus,” kata Mas Is.

“Lah kemarin, waktu sampean datang ke warungnya Yu Pariyem, sampean ngucapin apa?” tanya Gus Mut.

Mas Is berpikir sejenak, mengingat-ingat.

“Ya teriak takbir, Gus. Biar orang yang maksiat itu gentar,” kata Mas Is.

“Berarti revolusi akhlak kita itu buat orang lain, bukan buat diri sendiri, Is. Itu bukan revolusi akhlak namanya. Revolusi akhlak itu kita jadi uswatun hasanah, jadi contoh, banyak-banyak istighfar untuk mengingat maksiat kita sendiri, bukannya keseringan maidhoh hasanah ngingetin maksiat orang lain,” kata Gus Mut tersenyum.


*) Diolah dari nasihat Gus Irwan Masduqi.

BACA JUGA Yang Dibikin Karikatur Itu Bukan Nabi tapi Kelakuanmu Itu dan kisah-kisah GUS MUT lainnya.