Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Corak Curhat

Resepsi Mewah, Resepsi Sederhana

Redaksi oleh Redaksi
21 Juli 2018
A A
Hajatan, Resepsi Mewah, Resepsi Sederhana, Nikah.MOJOK.CO

Ilustrasi Resepsi Pernikahan (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Curhat

Dear, Mojok.

Perkenalkan, nama saya Intan, terserah nanti Mojok akan menuliskannya sebagai nama samaran atau tidak, saya tak peduli, yang jelas, saya merasa sangat perlu untuk mencurhatkan masalah saya yang satu ini.

Jadi begini. Dua bulan mendatang, saya boleh jadi akan menjadi salah satu perempuan paling bahagia di dunia, sebab, saya akan menikah dengan lelaki pujaan saya. Kami sudah pacaran lama, lebih tepatnya lima tahun, mangkanya saya bahagia betul begitu tahu kekasih hati saya mengajak saya menikah. Dan tambah senang lagi karena orangtua kami sama-sama setuju.

Lha, kalau begitu, di mana masalahnya?

Nah, ini dia. Masalahnya sebenarnya adalah masalah klise. Saya dan kekasih saya adalah tipikal orang yang simpel. Kami ingin sekali menggelar resepsi pernikahan sederhana. Semacam pesta kebun yang hanya dihadiri oleh kawan-kawan dekat saya dan kekasih saya.

Namun ternyata, orangtua saya (terutama ibu) adalah tipikal orangtua yang gengsian. Ibu tak mau kalau resepsi pernikahan saya hanya digelar dengan cara pesta kebun sederhana. Katanya, menikah itu hanya sekali, jadi kalau bisa ya dirayakan dengan hajatan besar. Ibu saya merasa malu sama tetangga dan kerabat jika ia resepsi nikahan saya digelar ala kadarnya.

Belakangan baru saya ketahui kalau ternyata ibu saya sudah menabung untuk menambah biaya resepsi pernikahan saya.

Saya jadi bingung, padahal sejak lama, saya ingin sekali menikah hanya dengan resepsi sederhana.

Ehm, dan sebenarnya, ada satu hal yang membuat saya merasa tak mau mengelar resepsi pernikahan yang mewah, yakni di sosial media, saya berkali-kali berkoar-koar soal resepsi sederhana. Jadi saya merasa agak malu saja sama teman-teman saya kalau saya menikah dengan resepsi yang mewah, padahal di sosial media saya sering mengampanyekan menikah dengan sederhana.

Nah, Jok, kira-kira punya penyelesaian nggak atas masalah saya ini?

Terima kasih, sebelumnya.

~Intan.

 

Iklan

Jawab

Dear, Intan.

Sebelumnya, saya ingin mengucapkan selamat atas rencana pernikahanmu yang akan segera digelar dalam waktu dekat. Sungguh, masih banyak orang yang belum bisa seberuntung dirimu. Jangankan menikah, untuk sekadar datang ke resepsi nikahan bareng pacar pun belum tentu sanggup.

Oke, langsung saja.

Jadi begini, Intan. Sebenarnya untuk pertanyaan ini, saya merasa agak salah sasaran. Sebab, dari seluruh awak redaksi Mojok yang ada, satu pun belum ada yang menikah. Kalau sekadar merencanakan menikah (dan merencanakan kawin) sih, semuanya sudah pernah. Namun begitu, tentu saja saya tak akan meninggalkan sampeyan dengan jawaban kosong.

Pertama, keinginan orangtua sampeyan untuk menggelar resepsi nikahan yang mewah harus sampeyan maklumi. Sebab bagi orangtua, adalah suatu kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri ketika anaknya menikah dengan dirayakan dengan meriah dan semarak.

Orangtua selalu ingin melihat anaknya bahagia, pun sebaliknya juga harus begitu, anak seharusnya juga harus berusaha membahagiakan orangtua. Nah, pada titik ini, menuruti apa kata orangtua adalah salah satu jalannya. Terlebih pada kasus ini, sampeyan sebenarnya tidak terlalu dirugikan, sebab orangtua sampeyan kan ikut menanggung biaya resepsinya.

Saran saya, iyakan permintaan orangtua sampeyan untuk menikah dengan resepsi yang besar. Toh keluarga sampeyan mampu. Beda soal kalau sampeyan dan keluarga sampeyan sampai ngutang sana-sini demi resepsi.

Ada fase-fase puncak kebahagiaan bagi orangtua. Saat melahirkan, saat melihat anaknya bisa berjalan, saat melihat anaknya masuk sekolah, saat anaknya lulus kuliah, melihat anaknya menikah, dan sampai berlanjut menimang cucunya. Maka, terlalu kejam rasanya jika sampeyan membatasi kebahagiaan orangtua sampeyan.

Orangtua sampeyan sudah memenuhi segala kebutuhan hidup sampeyan, mosok sampeyan nggak mau memenuhi kebutuhan bahagia orangtua.

Jangan sampai di hari resepsi pernikahan sampeyan, hanya sampeyan dan pasangan sampeyan yang berbahagia, sedangkan orangtua sampeyan bahagianya tidak paripurna karena resepsi nikahan sampeyan sederhana.

Nah, untuk perkara sampeyan takut diejek sama teman-teman sampeyan soal omongan sampeyan soal pernikahan sederhana, saya punya saran. Nanti setelah resepsi, sampeyan bisa bikin acara perayaan pernikahan sendiri secara sederhana, sampeyan bikin pesta kebun sendiri, yang diundang juga kawan-kawan sendiri.

Setidaknya, itu bisa menjadi bukti komitmen bahwa sampeyan memang menyukai resepsi pernikahan yang sederhana.

“Eh, tapi kalau bikin acara lagi, biayanya dari mana? Kan uangnya sudah dipakai buat resepsi mewah?”

Nah, kalau yang itu, silakan curhat sama orang lain. Tugas saya kan hanya melayani curhat asmara, sedangkan untuk urusan keuangan, sampeyan bisa berkonsultasi dengan ahli keuangan kami di rubrik Celengan.

Sekian.

~Agus Mulyadi

Terakhir diperbarui pada 9 Oktober 2018 oleh

Tags: nikahanorangtuaresepsi
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Hajatan, Resepsi Mewah, Resepsi Sederhana, Nikah.MOJOK.CO
Sehari-hari

Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

26 April 2026
Sandyakala Sinoman, Pasukan Sunggi Baki sing Mulai Ora Payu MOJOK.CO
Rerasan

Sandyakala Sinoman, Pasukan Sunggi Baki sing Mulai Ora Payu

3 Oktober 2020
Dudu Sosialita, Urip neng Ndesa Kiye Biaya Sosiale Tetep Larang MOJOK.CO
Rerasan

Dudu Sosialita, Urip neng Ndesa Kiye Biaya Sosiale Tetep Larang

26 September 2020
Nggak Cuma Onet dan Zuma, PNS Perlu Melombakan Kebiasaan Sebagai Bentuk Apresiasi MOJOK.CO
Curhat

Gelisah Karena Terus-Menerus Dipaksa Orangtua Ikut Seleksi CPNS

15 Agustus 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Zero post di Instagram cara hidup tenang Gen Z. MOJOK.CO

Gen Z Lebih Tenang Tanpa Feed Instagram (Zero Post), Aslinya Bukan Misterius Cuma Capek Mengejar Validasi dan Ingin Melindungi Diri

7 Mei 2026
Nasihat rezeki dan keuangan dari ibu-ibu penjual angkringan di Jogja yang bisa haji 2 kali MOJOK.CO

Wejangan Rezeki dan Uang dari Ibu Penjual Angkringan, Membalik Logika Ekonomi Anak Muda yang Anxiety in this Economy

11 Mei 2026
Tangis haru Valentina di hadapan Gubernur Ahmad Luthfi karena bisa sekolah gratis lewat program Sekolah Kemitraan Pemprov Jawa Tengah MOJOK.CO

Sekolah Kemitraan di Jawa Tengah bikin Menangis Haru, Anak Miskin Bisa Sekolah Gratis dan Kejar Mimpi

8 Mei 2026
pertemanan di usia 30.MOJOK.CO

Pertemanan di Usia 30 Memuakkan: Transaksional dan Isinya Cuma Adu Nasib, tapi Paling Mengajarkan Arti Ketulusan

7 Mei 2026
Ketika Laki-laki Memakai V-neck, Dianggap Tebar Pesona dan Menentang Kodrat padahal Cuma Mau Modis MOJOK.CO

Ketika Laki-laki Memakai V-neck, Dianggap Tebar Pesona dan Menentang Kodrat padahal Cuma Mau Modis

5 Mei 2026
Gus Ipul, Awas Kutukan Sepatu Hitam di Sekolah Rakyat MOJOK.CO

Gus Ipul, Awas Kutukan Sepatu Hitam di Sekolah Rakyat 

11 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.