Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Corak Curhat

Harus Bagaimana Jika Dianggap Beban oleh Orang Tua Sendiri

Audian Laili oleh Audian Laili
13 Oktober 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Seorang perempuan bercerita tentang perasaan tidak enaknya dianggap sebagai anak yang penuh beban oleh orang tua sendiri.

CURHAT

Mojok curhat dong….

Perkenalkan nama saya Nur. Sejak awal pendaftaran jurusan kuliah, pilihan saya dan orang tua sudah bertentangan. Mereka ingin saya masuk jurusan pendidikan biar saya bisa jadi guru. Ya, yang mereka ketahui, satu-satunya cara termudah menjadi PNS di Indonesia ini, ya hanyalah dengan menjadi guru.

Pada intinya sedari awal mereka menguliahkan saya biar cita-cita mulianya terwujud, yaitu anaknya jadi PNS.  Tapi, akhirnya saya mengambil jurusan Psikologi di salah satu Universitas di Jogja. Ndilalah, selama masa perkuliahan, saya sering mengalami kesulitan. Apalagi mengingat kalau saya berasal dari jurusan IPA sewaktu di SMA.

Tetapi, Alhamdulillah saya bisa menyelesaikan masa studi selama 5 tahun. Namun, 8 bulan setelah kuliah saya menganggur total. Benar-benar ngowoh dirumah dan orang tua menganggap saya kualat karena tidak mau mengambil jurusan kuliah di bidang pendidikan.

Beruntungnya, sekarang saya sudah mendapat pekerjaan meskipun gaji masih di bawah UMR. Nah, yang bikin saya tambah kesal sama mereka adalah, meskipun saya sudah bekerja dan bisa dibilang lebih mandiri, mereka masih saja suka memarahi saya karena besaran gaji yang tidak seberapa.

Sampai detik curhatan ini ditulis, saya merasa bahwa kedua orang tua saya tidak pernah bisa menerima keadaan saya, justru mereka selalu menganggap bahwa kelahiran saya di bumi ini hanyalah membebani kesejahteraan hidup mereka. Mohon bantuan dan solusinya Mojok bagaimana cara menghadapi kedua orang tua saya itu.

Terima kasih.

 

JAWAB

Hai Nur, yang merasa menjadi beban….

Pasti rasanya sedih sekali jika tidak dipercaya oleh orang tua sendiri. Ditatap dengan pandangan curiga oleh orang lain saja rasanya tidak nyaman dan menyebalkan. Bagaimana jika itu dilakukan oleh orang terdekat kita, yang menjadi tempat satu-satunya kita untuk pulang.

Tentu saja ini masalah yang cukup pelik buat kamu. Namun menjadi semakin terasa pelik, karena saya juga harus ikut memikirkannya. Tapi tak apa, saya akan tetap melakukannya dengan berusaha suka cita. Demi karier saya ke depannya.

Tapi ngomong-ngomong, kamu keren banget loh, Nur. Sebab, kamu sudah bertahan sampai sejauh ini. Bertahan keukeuh untuk berkuliah di Fakultas Psikologi dan berhasil lulus meski kamu mengalami kesulitan selama proses belajar di sana.

Begini, Nur. Pada dasarnya orang tua selalu menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Alasan mereka supaya kamu jadi PNS, tentu juga untuk kebahagianmu. Seperti yang mereka pahami, bahwa menjadi PNS adalah se enak-enaknya pekerjaan. Sebab, akan memberikan kamu gaji tetap, selama kamu tidak berbuat yang aneh-aneh tentu tidak mungkin dipecat, dan yang tak luput untuk dipromosikan adalah tunjangan untuk masa tuamu nanti.

Iklan

Nah loh, mereka sayang kamu banget, kan? Sampai masa tuamu saja, mereka pastikan kamu akan tetap baik-baik saja.

Saya jadi ingat sama ibu saya nih jadinya. Yang sejak saya SMA, selalu meminta saya untuk menjadi guru saja. Kata Ibu saya sih, enak jadi guru. Apalagi kalau jadi guru SD. Katanya, saya akan punya jam kantor dan hari libur yang sama dengan anak-anak saya–ketika mereka sudah bersekolah tentu saja. Jadinya, meski saya bekerja, saya tetap dapat mendampingi mereka.

Itu sih saran dari ibu saya. Dan seperti kamu, saya memilih tidak mengamini perkataan Ibu. Pilihan kita sama, saya juga masuk ke jurusan Psikologi. Sini tos dulu. Hehehe.

Namun berbeda dengan kamu, bapak dan ibu saya tidak masalah dengan pilihan saya tersebut. Bahkan terhadap pilihan pekerjaan pertama saya yang gajinya juga tidak seberapa itu.

Saya beneran kagum loh, sama kamu. Karena kamu mampu bertahan menjalani sesuatu yang benar-benar kamu yakini. Bahkan tanpa dukungan dari orang terdekat. Meski pernah merasa gagal, toh akhirnya kamu berhasil melewatinya juga, kan?

Saya yakin, meski pekerjaan yang kamu ambil itu gajinya masih di bawah UMR, namun sebelumnya pasti telah dipertimbangkan baik-baik, kan?

Ya, begitulah, yang namanya bekerja, pasti nggak pernah langsung enak. Selalu ada tantangan yang harus dihadapi. Kamu hanya butuh bekerja lebih keras lagi. Ini justru bisa jadi kesempatan kamu untuk menunjukkan diri. Bahwa pekerjaan yang mungkin dianggap sepele oleh orang tuamu itu, bukanlah sesuatu yang main-main bagi jalan kehidupan kamu nanti.

Pasti akan banyak pengalaman yang kamu dapatkan dengan pekerjaan pertamamu. Bagaimanapun juga, lingkungan kerja berbeda dengan lingkungan perkuliahan dulu. Ada banyak perbedaan yang dapat mengajakmu terbiasa untuk menghadapi tantangan pekerjaan lainnya.

Meski semua yang kamu lakukan belum dianggap membanggakan bagi bapak dan ibu kamu, tidak masalah. Tidak ada yang rugi dengan sesuatu yang telah kamu pelajari. Bukankah kehidupan ini hanya sekedar belajar dari satu hal ke hal yang lain? Jadi, masihkah ada alasan untuk berkecil hati, jika selama ini kamu sudah dan sedang menjalani sesuatu?

Nur, tidak ada orang tua yang benar-benar membenci anaknya. Mereka pasti akan menerima apa yang akan menjadi pilihanmu. Anggap saja, ini cara mereka untuk mendidikmu. Supaya kamu tidak mudah terlena dan biasa-biasa saja dalam berusaha.

Bukankah begitu?

Terakhir diperbarui pada 13 Oktober 2018 oleh

Tags: beban orang tuaBekerjagaji di bawah UMRpsikologi
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Kuliah soshum di PTN merasa gagal karena tak jadi wong untuk orang tua
Edumojok

Lulusan Soshum Merasa Gagal Jadi “Orang”, Kuliah di PTN Terbaik tapi Belum Bisa Penuhi Ekspektasi Orang Tua

6 April 2026
Omong kosong menua dengan bahagia di desa: menjadi orang tua di desa harus memikul beban berlipat dan bertubi-tubi tanpa henti MOJOK.CO
Catatan

Omong Kosong Menua Tenang di Desa: Menjadi Ortu di Desa Tak Cuma Dituntut Warisan, Harus Pikul Beban Berlipat dan Bertubi-tubi Tanpa Henti

21 Februari 2026
Ibu yang sudah menua sering diabaikan anak
Catatan

Orang Tua yang Menua adalah Ketakutan Terbesar Anak, meski Kita Menolak Menyadarinya

13 Februari 2026
Belajar Bahasa Inggris Cocok untuk Atlet Brain Rot kayak Kamu MOJOK.CO
Esai

Belajar Bahasa Inggris Adalah Tahap Awal untuk Memanusiakan Diri bagi Atlet Brain Rot seperti Saya

10 Juni 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Punya hard skill yang laku buat kerja di kota tapi tidak berguna buat slow living di desa MOJOK.CO

Punya Skill yang Laku buat Kerja di Kota tapi Ternyata Tak Berguna di Desa, Gagal Slow Living Malah Kebingungan Nol Pemasukan

13 April 2026
#NgobroldiMeta jadi upaya AMSI dan Meta dukung pelaku media memproduksi jurnalisme berkualitas di era AI MOJOK.CO

#NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI

10 April 2026
Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Gen Z mana bisa slow living, harus side hustle

Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup

8 April 2026
Ilustrasi pamer pencapaian, keluarga, arisan keluarga, lebaran.MOJOK.CO

Arisan Keluarga, Tradisi Toksik yang Dipertahankan Atas Nama Silaturahmi: Cuma Ajang Pamer dan Penghakiman, Bikin Anak Muda Rugi Mental dan Materi

14 April 2026
Sampit, Kota yang Dianggap Tertinggal tapi Nyatanya Jauh Lebih Maju dari Kebanyakan Kabupaten di Jawa.MOJOK.CO

Sampit, Kota yang Dianggap Tertinggal tapi Nyatanya Jauh Lebih Maju dari Kebanyakan Kabupaten di Jawa

13 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.