• 317
    Shares

MOJOK.CO – Jika merasa bahwa waktu berjalan begitu cepat, kamu tidak sendirian! Semua orang mengalami pengalaman yang sama. Kok bisa, sih, hal seperti itu terjadi?

Cara terbaik untuk merusak hari Minggu seseorang adalah dengan mengingatkannya bahwa besok sudah senin lagi. Mamam!

Hari Senin menjadi menyeramkan ketika kita ingat bahwa kamu sudah harus bekerja lagi padahal selama akhir minggu belum ngapa-ngapain; cucian masih numpuk, kamar berantakan, tugas belum dikerjakan, revisian skripsi? Ah apa itu revisian. *pura-pura lupa ingatan* dan kamu pasti akan mbatin kenapa Senin datang begitu cepaaat?

Katanya, waktu berlalu menjadi lebih cepat karena kita menikmatinya. Atau bisa juga kita tenggelam dalam kegiatan yang menyenangkan, yang membuat kita lupa waktu. Heleh, mana ada kayak gitu. Kenyataannya, waktu tetap berlalu cepat meskipun kita sedih atau stres dengan pekerjaan. Kalian pasti pernah merasakan tegangnya berpacu dengan deadline, secepat apapun kita bekerja, rasanya waktu berlalu lebih cepat dari yang seharusnya.

Padahal, jika menarik ingatan ke belakang, saat kita kecil, waktu rasanya berjalan sangat lambat. Waktu itu kita semua merasa punya porsi 24 jam yang sama, waktu siang sepulang sekolah terasa sangat panjang hingga kita bisa tidur siang, main layangan, main rumah-rumahan, sepedaan, main bola bersama teman, sampai membangun peradaban.

Waktu siang baru selesai sampai kita disuruh untuk pulang karena harus mandi dan mengaji sampai magrib. Malam hari pun terasa sama panjangnya karena kita bisa mengerjakan PR, main PS, sampai bisa nonton Smackdown, setelah sebelumnya dipaksa ikut nonton sinetron karena si mamak gak mau bagi-bagi remot teve. Saat itu, waktu berjalan lambat meskipun kita menikmati semuanya.

Jika bukan perkara menikmati atau tidak, lalu apa yang membuat waktu berjalan begitu cepat? Nah loh, jangan-jangan ini perkara hubungan umur dan waktu? Makin tua, waktu terasa makin cepat, apa bener kayak gitu??

Sains ternyata punya penjelasan mengenai fenomena ini. Saintis menjelaskan secara rumit fenomena ini mulai dari aspek psikologis, sosiologis, sampai neurosains (ngerti neurosains gak?!) yang kalau disederhanakan, mereka menyimpulkan bahwa memang benar ada hubungan antara usia dan persepsi kita terhadap waktu.

Baca juga:  Ulama Tuli yang Kedatangan Tamu dan Puasa Senin-Kamis ala Kiai Kholil

Ketika kecil, hampir segala hal adalah sesuatu yang baru, sehingga kita menaruh perhatian lebih banyak terhadap apa yang terjadi di sekeliling. Saat itu, ada banyak hal menarik yang bisa dilakukan, diamati, dan dijelajahi. Segala kebaruan yang terjadi terus-menerus inilah yang menghasilkan memori, yang membuat waktu saat itu terasa lebih lambat ketika kita mengingatnya kembali.

Segala hal baru ini terus meningkat ketika kita tumbuh menjadi remaja. Hal ini dipengaruhi oleh lebih banyak kebebasan yang menghasilkan lebih banyak pengalaman baru. Seiring berjalannya waktu, semakin tua, karena semakin sedikit memori unik yang kita buat, kehidupan semakin penuh repetisi. Periode waktu ini akan kita alami sebagai waktu yang lebih singkat.

Dampaknya adalah, tahun-tahun masa kecil kita yang penuh memori akan terasa lebih panjang. Sangat berbeda jika dibandingkan tahun-tahun kita sebagai orang dewasa yang hanya memiliki sedikit memori menarik yang disimpan.

Ini sama seperti ketika tidur dan bangun delapan jam kemudian. Terkadang, kita merasa bahwa waktu semalaman yang kita lalui untuk tidur itu terasa hanya terjadi beberapa detik saja. Hal ini terjadi karena ketika tidur, otak kita berhenti memproses memori baru. Makanya, jangan heran jika bertahun-tahun terasa cepat ketika otak kita menghabisakan waktu itu dalam rutinitas tanpa membuat pengalaman baru.

Penjelasan lain yang muncul untuk menjelaskan fenomena ini adalah, sebagai orang dewasa, kita menghabiskan waktu untuk mengantisipasi dan mengkhawatirkan hal yang belum terjadi. Akibatnya, kita melewatkan kejadian yang terjadi saat ini. Belum lagi kita juga sering terjebak dengan memori (indah bersamanya) di masa lalu sehingga kita lupa dengan yang terjadi saat ini.

Sebagai manusia yang tidak punya mesin waktu seperti Zidan dan pak Haji, tentu kita tidak ingin menyesal karena merasa kehilangan banyak waktu tanpa menyelesaikan apa-apa. Wqwqwq.

Kita pun juga tidak ingin menjadi budak waktu dengan terus menerus hidup produktif karena takut kehilangan waktu sampai lupa untuk bahagia wqwqwq.

Untuk hal ini, mari sama-sama kita ucapkan terima kasih kepada para saintis. Selain memberi penjelasan, sains juga memberikan cara untuk kita bisa “melambatkan” waktu.

Baca juga:  Apa, Sih, Bedanya Jam dan Pukul dalam Perkara Waktu?

Hal pertama yang dianjurkan saintis adalah memulai hidup di masa sekarang dengan tidak terjebak dengan kenangan bersamanya pada hari kemarin dan berhenti mengkhawatirkan apa yang akan terjadi besok. Jalani semuanya dengan kesadaran bahwa setiap hari adalah hari baru dan pengalaman baru, hari ini selalu berbeda dengan kemarin, dan yang terjadi hari ini tidak akan terulang lagi pada hari lain sehingga kita akan lebih penasaran dan semangat dalam menjalani hari ini.

Yang kedua adalah mulai membuat sebuah daftar agar kita punya cukup waktu untuk menyelesaikan pekerjaan. Bikin daftar mulai dari hal-hal kecil yang bisa dikerjakan dengan cepat. Jika kalimat “Hari ini harus mengerjakan skripsi,” atau “Hari ini membuat laporan bulanan,” terdengar terlalu berat dikerjakan, coba uraikan menjadi tugas yang lebih kecil dan tidak membebani seperti “Hari ini membaca satu referensi”, “Hari ini merekap pengeluaran minggu lalu.” Kepuasan melakukan suatu kemajuan meskipun hal kecil akan membuat kita merasa bahwa waktu berjalan tidak sia-sia.

Hal ketiga adalah mencoba hal baru. Buat hari-harimu menjadi tidak lagi membosankan sehingga kita mempunyai alasan untuk bersemangat dan menantikan sesuatu yang menarik. Atau jika mencoba hal baru terdengar terlalu mengeluarkan usaha, coba lakukan rutinitas dengan urutan yang acak sehingga tidak lagi terasa seperti rutinitas.

Buat setidaknya satu memori berkesan setiap harinya. Maksudnya supaya otak bisa merekam memori berkesan itu sehingga ingat bahwa kita sudah melakukan sesuatu yang menyenangkan. Dengan kata lain, ketika ditanya “Kemarin kamu ngapain?” bakal ada yang bisa kamu jawab selain “Mmm…apa ya, lupa, cuman kerja aja kayanya.”

Terakhir, ini bukan saran dari saintis sih, tapi saran dari kru Mojok. Jangan lupa bertaubat. Banyak-banyak ibadah dan amal saleh karena bisa jadi cepatnya waktu berlalu ini benar-benar tanda semakin dekatnya kiamat seperti yang diramalkan di kanal Youtube ceramahnya ustaz-ustaz sebelah. Sudah lihat belum? Salah satu tanda kiamatnya yang sudah kejadian yaitu turunnya Imam Darto, eh kalo itu sih artis ya…

  • 317
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles