MOJOK.COSetelah menyekolahkan anak di Sanggar Anak Alam, sekolah yang “biasa saya” itu, yang banyak belajar justru saya sebagai orang tua.  

Menyekolahkan anak di Sanggar Anak Alam (SALAM), Yogyakarta, sesungguhnya tak semudah tulisan yang bisa dibaca di banyak media digital yang pernah meliput SALAM. Sungguh, saya merasakan kesulitan saat berproses di sekolah yang tak diragukan lagi tingkat ke-kerenannya ini, ya, setidaknya keren menurut orang yang memuja kemerdekaan dalam belajar.

Begini ceritanya, Sanggar Anak Alam mengajarkan konsep kesepakatan untuk membentuk kebiasaan baik. Saya yang otoriter dan bossy, helicopter parent lah, sempat merasa gagap dengan konsep kesepakatan. Perlu menyesuaikan diri untuk menjalani konsep tersebut dalam keseharian dengan anak. Yang saya tahu, kesepakatan antara orang tua dan anak itu biasanya begini:

“Nduk, nilai Matematikamu jangan sampai dapat merah ya.” Saya sepakat dengan permintaan orang tua, lalu mencontek pun saya pernah lakukan supaya tak dapat merah.

Sementara kalau di Sanggar Anak Alam, kesepakatan dilakukan berdasarkan pemahaman anak. Pernah saya curhat dengan pendiri SALAM, Ibu Sri Wahyaningsih, bahwa saya malu, sekolah kok telat terus. Lalu saya malah diomelin karena mengenalkan konsep terlambat sekolah dan teror berupa ketakutan pada anak saya yang waktu itu masih umur 4 tahun.

Menurut Bu Wahya, kesepakatan itu dibangun dalam keadaan sadar dan paham. Kalau baru mengenal sekolah udah ditakut-takuti dengan kata terlambat dan telat, bagaimana anak bisa paham dengan konsep tepat waktu dan hubungan sebab akibat dari peristiwa sebelumnya yang dapat menghasilkan tujuan: tepat waktu.

Akhirnya sudah jelas, bukan anak saya yang perlu diburu-buru supaya tidak terlambat. Semuanya tentang bagaimana saya sebagai orang tua mendampingi anak dalam kegiatannya supaya tidak kelelahan, jam tidur dan durasi tidur cukup, tidur tidak terlalu larut. Jadi, target tepat waktu dapat dicapai sebagai hasil alami dari rangkaian proses sebelumnya, tanpa paksaan dan tanpa teror.

Senjlimet itu untuk urusan terlambat dan selama saya belajar di Sanggar Anak Alam. Tidak pernah saya melihat ada anak dihukum karena terlambat. Senjlimet itu untuk mengusahakan tepat waktu secara sadar dan SALAM masih saja mendapat label, sekolah tanpa seragam dan tanpa aturan yang membebaskan anak tanpa pagar di tengah sawah. Ya wajarlah jika dipandang sebelah mata, tak ada jaminan ndakik-ndakik di SALAM, karena SALAM memang bukan sekolah yang berjargon mencetak siswa ini atau siswa itu.

Saat masih menjadi warga baru, di tingkat Kelompok Bermain, saya bersemangat untuk mencari tahu apa sih metode yang diterapkan oleh fasilitator untuk tingkat termuda di Sanggar Anak Alam ini. Katanya kan mirip di Finlandia, katanya kan berbasis riset, katanya kan memerdekakan anak, katanya kan semua murid semua guru.

Karena ada banyak katanya, saya memberanikan diri bertanya, “Metode mengajarnya apa dan bagaimana ya, Bu?”

Jawabannya sungguh membuat saya bengong dan malu dengan isi kepala saya yang sudah terlanjur ndakik-ndakik. Waktu itu, Bu Ani, fasilitator kelas Kelompok Bermain menjawab, ”Kami hanya momong saja. Bisa Mbak Butet amati sendiri, bagaimana kami momong dan menerapkan teladan Ki Hadjar Dewantara secara sederhana, ndak pakai teori apa-apa kok Mbak, ya momong saja.”

Jawaban itu disampaikan dengan suara yang sangat tenang dan tanpa nada mencemooh. Saya yang sudah membayangkan akan ada diskusi ndakik-ndakik bersama Bu Ani. Wah, kok cuma momong jawabnya. Terbesit di pikiran, lha kalau cuma momong, tiap hari juga saya sudah momong.

Namun, ternyata, selama saya menunggui anak pertama dan kedua di tingkat KB, dalam kurun waktu sekitar tiga tahun, saya baru paham, momong seperti apa yang dimaksud. Membebaskan seperti apa yang dilakukan di Sanggar Anak Alam. Mendengarkan anak seperti apa yang dilakukan di SALAM.

Setiap ada tamu yang datang dan mempelajari Sanggar Anak Alam dalam sehari, saya jadi teringat diri saya waktu itu. Yang penuh percaya diri menanti diskusi kaya gizi yang ndaging banget dan ternyata daging dan ruh SALAM tidak akan muncul instan hanya dari diskusi beberapa menit. Ternyata butuh waktu yang panjang untuk mengenal dan bertumbuh di SALAM.

Pernah ada masa, di mana saya rasa Sanggar Anak Alam sangat angkuh. Terlihat di berbagai media sebagai sekolah yang trendi karena ya tadi, kaya ada rasa Finlandia-nya gitu.

Lalu mereka hanya menerima siswa dalam jumlah terbatas. Lalu karena jumlahnya hanya sedikit, banyak orang di dalamnya yang berkesan menepuk dada dan berkata “Aku cah SALAM” baik dalam tingkah laku maupun ujarannya, apalagi kalau sudah pakai kaos “SEKOLAH BIASA SAJA” atau “WE MAKING ROAD BY WALKING”. Seperti ada sombong-sombongnya gitu.

Butuh waktu lima tahun buat saya paham bahwa Sanggar Anak Alam yang terlihat eksklusif karena hanya berjumlah sedikit siswanya dan kadang kala malah seragaman dengan kaos fundraising mereka padahal jargonnya “KAMI TIDAK SERAGAM” ternyata tidak seangkuh yang saya tuduhkan.

Yang saya sangka angkuh itu ternyata memiliki pandangan berbeda dengan pandangan saya yang masih mainstream bahwa sekolah yang baik adalah sekolah yang bisa mengantarkan anak didiknya menjadi sesuatu, seseorang yang hafal dengan banyak ilmu pengetahuan.

SALAM memang bukan sekolah seperti itu, bahkan menurut Mas Puthut di #PutCast bersama Ibu Sri Wahyaningsih, Sanggar Anak Alam lebih tepat disebut seusai namanya, sanggar, bukan sekolah. SALAM hadir dalam semangat kesederhanaan perilaku yang rupanya kembali diperlukan ada di tengah-tengah dunia, bukan hanya dunia pendidikan saja.


Saat awal Mas Nadiem menjadi menteri pendidikan dan beliau ngobrol dengan pendiri SALAM, Ibu Sri Wahyaningsih, saya sempat berpikir ndakik-ndakik lagi. Wah, bakal berubah dunia pendidikan Indonesia.

Lalu, boom! Ndilalah, pandemi terjadi. Yang terpaksa berubah baru sarana belajarnya. Iklim masih serupa dengan yang dulu. Berita “katrol nilai” supaya tidak ditegur sana sini masih terdengar, orang tua yang stres karena merasa anaknya tidak mendapat apa-apa selama pandemi juga banyak sekali bagaikan wabah.

Sanggar Anak Alam belum membawa dampak yang besar jika yang didamba adalah perubahan instan pada lapisan terluar. Bagi saya, SALAM bukan yang paling benar, dia cuma sekolah biasa saja, bersemangatkan kekeluargaan, sekolah keluarga yang pendidikannya berbasis riset. Riset mendasar yang sudah banyak dilupakan karena kalau zaman sekarang, riset hanya dipahami sebagai kegiatan membuka buku sebanyak-banyaknya untuk dilahap apa yang sudah diproses oleh periset sebelumnya.

Sanggar Anak Alam “hanya” tempat bermain di tengah sawah dengan bangunan yang sederhana dan tanpa pagar, tempat bermain yang paling disukai oleh anak saya, dan tempat belajar bagi kami orang tuanya.

Menyekolahkan anak di SALAM sering menjadi “perspektif keliru”. Kami tidak hanya sekadar mengantar anak “untuk bermain”. Orang tua malah jadi belajar untuk menata ulang pikiran kami tentang pendidikan dan kehidupan. Seperti kata Romo Mangun, bahwa anak adalah maha guru bagi dirinya dan sumber belajar dari teman-temannya (dan bagi orang tuanya juga).

BACA JUGA Sri Wahyaningsih: Belajar Mandiri Ala Sanggar Anak Alam dan tulisan lainnya di rubrik ESAI.

Baca juga:  Program 'Merdeka Belajar' Nadiem Makarim itu Keren Abis, Cuman Monmaap Hal-hal Ini Bikin Saya Skeptis