• 24
    Shares

Baca cerita sebelumnya di sini.

You’re brilliant, Kala!

From: Witfana Aulia <[email protected]>

Date: 18 Feb, 2019, 11:12 WIB

To: Andangsaki Kalasan <[email protected]>

Hei, you are THAT brilliant, I’m serious.

Kenapa aku nggak pernah kepikiran, ya, buat ngelakuin apa yang kamu lakuin? Aku sempat berpikir: apa kita perlu menemukan suatu cara supaya bisa ketemu di tengah-tengah? I mean, aku berangkat ke masa depan dan kamu kembali ke masa lalu. We’re separated like, 10 years right? So, if I go forward to five years later, and you go back to five years ago, voila! We’ll see each other, face to face, in the same timeline.

But I don’t know how. Should we find some kinds of tools, like high-technology devices, to do that? Where can we find that kind of device? I mean, you’re the one in the future, so I guess you know better than me.

Tapi ternyata kamu punya cara yang lebih brilian. Lebih sederhana dan masuk akal. Why don’t we search for each other in our own time? Kita toh sama-sama tinggal di Indonesia. Aku tinggal mencari Kala di waktuku, dan kamu mencariku di waktumu (seperti yang udah kamu lakuin).

Come to think of it, balasan email kamu kali ini bener-bener bikin aku mikir. It blows my mind! Bahkan, ini lebih mengguncang isi kepalaku dibanding pengetahuan bahwa kita lagi balas-balasan email melalui lorong waktu yang berselisih 10 tahun.

Aku nggak pernah mikir bahwa sebenarnya di waktu kamu, di tahun 2029, juga ada aku. Fana yang umurnya 27 tahun. Seperti apa aku di usia segitu? To be honest, aku gak pernah mikirin, sama sekali. You know what, Kala, aku mikirin banyak hal, tapi apakah aku masih hidup di umur 27, bukan termasuk hal yang aku pikirkan.

Baca juga:  Florence Sihombing: Anomali, Ironi dan Eulogi

Truth is, aku nggak pernah mikir umurku bakal panjang. Aku selalu mikir aku bakal mati muda. I mean, ‘muda’ like yang ‘muda banget’, sampai-sampai angka 27 tahun nggak pernah masuk ke otakku. I don’t even dream to enter the 27 club.

Mungkin, ini yang aku pikirin: aku bakal hidup sampe umur 20 tahun. Itu juga kalau ada keajaiban yang terjadi. The world is no longer interesting to me. Everything is just so meaningless. I don’t know….

But that was before I met you, Kala.

I don’t know how or why, but since I met you (I mean, digitally) and since we’ve been chatting and sending emails to each other, I feel like I begin to feel something again toward—you know—life. Hidup tiba-tiba jadi mulai menarik lagi buatku.

I want to live a bit longer. Long enough until we can actually meet in person.

Kala, aku pengin ketemu kamu.

And it brings me to my next thought. I should see you too, at your place where you live, in my present time. Aku lihat profil kamu di app dan location kamu di Jogjakarta. Apa di tahun 2019, sepuluh tahun sebelum waktu kamu sekarang, kamu juga di Jogja? Before you give me the answer, I assume you were. In my time, in 2019, you are a 12-year-old boy living in Jogja.

So, Kala, I’ll pack my bag and go to Jogja. Aku akan beli tiket pesawat hari ini juga, habis aku kirim email ini. Malam ini aku bakalan ada di kota kamu.

Aku nggak tahu tepatnya rumah kamu di mana dan aku nggak tahu apakah kita bakal beneran bisa ketemu. Jadi aku akan book kamar hotel selama satu minggu karena habis itu aku harus balik ke Jakarta lagi. Ada ujian akhir.

Baca juga:  Kepada Kala yang Pengecut dan Pantas Ditinggalkan

Mungkin kamu pikir aku nggak peduli sama sekolahku, but it’s quite the contrary. Belajar mungkin satu-satunya hal yang tersisa di dunia ini yang masih bikin aku mau hidup.

So here’s the deal.

Setiap sore jam 5, aku bakal duduk di deket Tugu. You know Tugu, right? The infamous, the one and only Tugu Jogja. Aku lihat di album kamu di app dan nemuin foto kamu di dekat Tugu (I’m quite grateful that thing still exists in the future, I love seeing monuments).

Kamu temui aku di Tugu setiap jam 5 sore. The probability is, we can’t see each other’s face. That’s clear so far, karena kita ada di waktu yang berbeda. Aku sepuluh tahun sebelum waktu kamu. Kamu sepuluh tahun di masa depanku.

We might stand in front of each other, but we can’t actually see each other’s presence.

Sesampainya di Tugu, aku nggak punya ide lagi. Kamu harus cari tahu, cari cara gimana supaya kita bisa ketemu, supaya kamu bisa lihat aku, dan aku lihat kamu.

I’m already halfway there. Now it’s your turn to walk the other half.

Remember, we should find a way within one week. One week, that’s our chance. If we fail to find anything, then maybe it’s not our fate to see each other. Funny I’m talking about fate now! LOL.

PS: I’m sorry about your ex and your mother. May them rest in peace (HA).

PS PS: The inside-joke is clearly not for your mother.

PS PS PS: I’LL GO TO JOGJA, I’M SO EXCITED!

 

Xoxo,

Fana.

Baca cerita berikutnya di sini.

  • 24
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles