Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Konsultasi Resah

Karier atau Perasaan, Mana yang Harus Diperjuangkan?

Ayunda Zikrina oleh Ayunda Zikrina
12 Agustus 2018
A A
Karier atau perasaan
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tanya

Halo Mojok.co dan Pijar yang makin dekat di hati.

Bagaimana kabar kalian berdua? Masih akur kan? Jangan sampai perang saudara hanya karena beda pilihan presiden ya. Tenaga dan pikiran kalian lebih baik digunakan untuk memperhatikan para korban gempa di NTB dan sisakan sedikit untuk menerima curhatan saya (sedikit, aja).

Perkenankan saya untuk memberikan gambaran kegundahan hati dan pikiran yang sedang saya alami. Konflik yang berpadu dalam melodi … Eaa …

Sayangnya, alih-alih menghasilkan paduan melodi indah, paduan kali ini menguras perasaan dan pikiran saya. Seperti saat Mama memeras kelapa waktu masak rendang. (Duh Ma, zaman sekarang kan sudah ada santan instan merek Kara yang walaupun rasanya beda, tetapi bisa menghemat energi Mama).

Saya perempuan dan saat ini bekerja dalam sebuah situs humor ternama di Indonesia yang banyak berhubungan dengan rekanan bisnis kreatif lainnya. Dari hubungan kerja sama yang luas inilah saya berkenalan dengan si dia (tak perlu saya sebutkan namanya). Dia tidak satu kantor dengan saya, tapi kami memiliki hubungan kerja sama yang cukup intens. Inilah pokok permasalahannya, saya sendiri punya prinsip bahwa hubungan profesional sebisa mungkin jauh dari hubungan personal yang berkaitan dengan perasaan suka antarlawan jenis.

Karena perasaan dan prinsip inilah saya menjadi gundah? Menyebalkan, bukan? Saya butuh masukkan dari rekan Pijar, mana yang harus saya pilih, karier atau perasaan? Meninggalkan perkerjaan saya saat ini atau mencoba menetralkan perasaan saya? Sementara saya tidak tahu bagaimana perasaan dia ke saya. Sudah begitu saja ya, sudah hampir satu halaman A4 ini. Xixixi …

Terima kasih sebelumnya untuk sharing masukan yang diberikan.

Jawab

Dear kamu, perempuan yang telah berbagi kegundahanmu di sini.

Pijar dan Mojok rasanya tidak akan bertengkar karena masalah beda pilihan. Tapi Mojok akan marah sama Pijar kalau kami tidak membalas ceritamu, soalnya kamu begitu berharga.

Terjebak dalam perasaan personal di tengah hubungan professional itu rasanya memang menimbukan kegalauan. Akan tetapi, perasaan tersebut sebenarnya amat wajar dan sah-sah saja. Wajar karena kita jadi dipertemukan dengan orang yang sama dalam waktu yang terus-menerus dan seolah semakin didekatakan.

Melalui jalinan kerja sama tersebut, kita juga secara tidak langsung mampu menilai bagaimana sifatnya, sikapnya dalam menghadapi permasalahan kerja, menjalin komunikasi kerja sama, serta mengetahui cara berpikir dan kinerja dia. Hal-hal tersebut jika kita lihat sebagai hal yang mengagumkan memang dapat memancing timbulnya rasa tertarik dan suka terhadap rekan pasangan kita.

Namun perlu diingat kembali, tanyakan kepada diri sendiri, mana yang harus diperjuangkan? Karir impian yang saat ini sudah dalam jalurnya atau hubungan personal dengan orang yang memiliki ikatan kerja sama dengan kita? Iya, ini merupakan pilihan yang sulit, namun ia tidak akan bernama “pilihan” jika tidak menuntut untuk dipilih. Pada akhirnya, tetap harus ada satu yang menjadi keputusan untuk dijalani.

Iklan

Cara yang bisa dilakukan adalah melakukan penilaian terhadap kualitas hubungan yang ada. Baik itu antara Anda dengan pekerjaan Anda, maupun antara Anda dengan orang yang memiliki hubungan personal dengan Anda. Mengevaluasi hubungan Anda dengan pekerjaan yang Anda lakukan bisa dilakukan dengan beberapa cara:

1. Tanyakan pada diri sendiri apakah pekerjaan Anda memang pekerjaan yang Anda senangi? Sehingga Anda takut kehilangan pekerjaan Anda jika terpaksa memilih cinta?

2. Apakah pekerjaan Anda membuka kesempatan bagi Anda untuk mengembangkan diri?

3. Seberapa besar kemungkinan terganggunya pekerjaan Anda bila memiliki hubungan personal dengan rekan kerja?

4. Apakah memang ada aturan secara profesional dari pekerjaan yang mengharuskan Anda untuk tidak boleh memiliki hubungan personal dengan rekan kerja, walaupun beda kantor?

5. Ketakutan apa yang ada dalam pikiran Anda sehingga membuat Anda enggan memiliki hubungan personal dengan rekan kerja?

Jawablah pertanyaan ini dengan jujur di dalam hati Anda. JIka Anda tidak bisa, cobalah ajak teman yang bisa Anda percaya untuk mengevaluasi perasaan Anda dengan pertanyaan di atas.

Selain mengevaluasi hubungan Anda dengan pekerjaan, Anda juga harus menilai seberapa berkualitas hubungan personal Anda dengan rekan kerja. Berdasarkan cerita Anda, sepertinya Anda juga masih ragu tentang status hubungan personal ini.

Karena seperti yang Anda uraikan, Anda masih tidak mengetahui bagaimana perasaan rekan kerja Anda terhadap Anda. Ditambah lagi, orang tersebut sebenarnya tidak satu kantor dengan Anda, Walaupun sangat sering melakukan kontak untuk kerja sama. Yang perlu menjadi pertimbangan adalah:

1. Jika memang statusnya masih belum jelas, bukankah sebaiknya Anda memberikan kejelasan terlebih dahulu pada status hubungan tersebut? Sebelum kemudian memikirkan dampak dari hubungan personal tersebut terhadap pekerjaan Anda?

2. Jika mengungkapkan perasaan kepada rekan kerja tersebut terasa sulit, maka Anda hanya punya kuasa menangani perasaan Anda sendiri. Tanyakan lagi pada diri sendiri, perasaan apa yang sebenarnya dirasakan terhadap rekan kerja itu? Apakah memang benar-benar perasaan tulus untuk menjalin sebuah hubungan atau mungkin hanya sekadar perasaan senang sesaat karena faktor kedekatan hubungan kerja? Karena bisa saja, rasa itu muncul karena intesitas pertemuan kalian yang meningkat dikarenakan kerja sama yang dijalankan. Dimana intensitas pertemuan tersebut membuat Anda seolah-olah semakin dekat dengan rekan kerja Anda.

3. Pertimbangkan, seberapa pantas perasaan Anda untuk diperjuangkan dibanding dengan pekerjaan yang Anda cintai? Jika memang statusnya saja masih belum jelas, apakah Anda siap melepas pekerjaan demi hal yang masih kabur tujuannya?

4. Anda mungkin telah menyadari berbagai risiko yang muncul jika memang Anda harus memilih menjalin hubungan personal dengan rekan kerja tersebut. Akan muncul gosip dari teman-teman yang lain, muncul kecanggungan dalam berinteraksi kerja, kesulitan membedakan sikap profesional dan personal. Selain itu, Anda harus siap menerima risiko kalau ternyata nantinya hubungan itu harus berkahir. Karir Anda akan terganggu, merasa tidak nyaman ketika harus kembali bekerja sama dengan dia, serta terjadi ketegangan emosional ketika kembali bertemu dengan rekan Anda tersebut. Ya setiap keputusan yang diambil tentunya selalu ada risiko menanti, entah kita ketahui terlebih dahulu atau kita abaikan begitu saja.

Pada akhirnya, semua memang akan mengundang banyak pertanyaan kepada diri sendiri. Karena semua yang terjadi tentang perasaan dan hidup kita seyogyanya berdasarkan pada keputusan kita sendiri. Diri kita sendiri adalah sosok yang sebenarnya paling mengetahui jawaban atas kebingungan kita. Diri kita sendiri yang paling memahami apa yang baik buat kita dan apa yang tidak.

Jika kegamangan kita tidak berani kita pertanyakan pada diri sendiri maka semua hanya akan berlarut-larut mengawang tanpa kejelasan. Hal ini malah berpotensi menggangu produktivitas kerja dan kelancaran kita menjalani aktivitas kehidupan sehari-hari.

Karir dan relasi interpersonal dengan orang dalam hidup kita memang dua hal yang bisa menjadi dilema. Mana yang pantas untuk lebih diperjuangkan? Tapi pada saatnya kita akan mengetahui jawabannya. Pertanyakan pada diri sendiri dan jangan ragu untuk menjawab jujur. Semua demi hati yang damai, pikiran yang tentram, dan aktivitas sehari-hari yang produktif.

*Ayunda Zikrina, Pemimpin Redaksi Pijar Psikologi

_____________________________________________________________________________

Punya masalah psikologis yang ingin dikonsultasikan? Tim Pijar Psikologi siap menjawab semua keresahan, kegelisahan, dan kebrutalan hidup kalian dengan serius (iya, seriusan).

 

Terakhir diperbarui pada 12 Agustus 2018 oleh

Tags: cintakarierkerjakonsultasi asmaraperasaanresahteman sekantor
Ayunda Zikrina

Ayunda Zikrina

Artikel Terkait

Nasib selalu kalah kalau adu pencapaian untuk kejar standar sukses keluarga besar. Orientasinya karier mentereng dan gaji besar, usaha dan kerja mati-matian tidak dihargai MOJOK.CO
Urban

Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha

14 Maret 2026
Perasaan duka
Catatan

Duka Dianggap Hanya Terjadi saat Menangis, padahal Perasaan Sedih Bisa Muncul secara Random dan Absurd

10 Maret 2026
lowongan kerja, kerja di kota, lebaran.MOJOK.CO
Catatan

Mudik Lebaran Jadi Ajang Sepupu Minta Kerjaan, tapi Sadar Tak Semua Orang Layak Ditolong

10 Maret 2026
gen z kerja merantau beban mental dan finansial.mojok.co
Ragam

Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

6 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Belajar Tentang Sejarah Ekonomi Komunis China dari Duanju, Drama Vertikal yang Nagih MOJOK.CO

Belajar Sejarah Ekonomi Komunis China Lewat Kamerad Chang dan Duanju yang Bikin Nagih

16 Maret 2026
Rif'an lulus sarjana UGM dengan beasiswa. MOJOK.CO

Alumnus Beasiswa UGM Kerap Minum Air Mentah Saat Kuliah, hingga Utang Puluhan Juta ke Kyai untuk Lanjut S3 di Belanda

15 Maret 2026
Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026
Evakuasi WNI saat terjadi konflik luar negeri MOJOK.CO

Saat Terjadi Konflik di Luar Negeri, Evakuasi WNI Tak Sesederhana Asal Pulang ke Negara Asal

16 Maret 2026
Mudik Lebaran mepet dari Jogja dengan kereta demi kumpul keluarga

Mahasiswa UGM Rela Kejar Mudik di Hari Lebaran demi Kumpul Keluarga, Lewatkan “War” Tiket karena Jadwal Kuliah

19 Maret 2026
Suasana Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. MOJOK.CO

“Jajanan Murah” yang Tak Pernah Surut Pembeli di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten

17 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.