Sayonara, JogjaROCKarta
Usia JogjaROCKarta memang pendek: cuma delapan tahun. Namun, mereka berhasil membawa legenda musik keras dunia, mulai dari Megadeth, Sepultura, Kreator, hingga Anthrax, ke tanah Jogja dan lebih dekat dengan para penggemarnya.
Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.
Usia JogjaROCKarta memang pendek: cuma delapan tahun. Namun, mereka berhasil membawa legenda musik keras dunia, mulai dari Megadeth, Sepultura, Kreator, hingga Anthrax, ke tanah Jogja dan lebih dekat dengan para penggemarnya.
Tahun 2025 ini menjadi gelaran terakhir JogjaROCKarta. Sebagai penutup, penyelenggara menyuguhkan line up megah skena rock lintas generasi.
Indonesia terus melahirkan lulusan perguruan tinggi yang disiapkan untuk pekerjaan yang bahkan sudah tidak ada. Sementara ekonomi berubah cepat, dunia pendidikan tertinggal jauh, mendorong generasi muda masuk ke pasar kerja yang tak lagi siap menampung mereka.
Kelumpuhan pendidikan di tiga provinsi akibat banjir mendorong JPPI menuntut pemerintah pusat segera menetapkan status bencana nasional. Tujuannya agar pemulihan sekolah dapat dilakukan cepat dan terkoordinasi.
JogjaROCKarta dan Rock In Solo memproklamirkan “Mataram is Rock”. Bukti skena rock Jogja dan Solo tetap terikat dalam sebuah persaudaraan.
5 tahun kecanduan judol bikin saya jadi delusi, percaya pada ilusi kemenangan. Saat berdoa ke Tuhan pun, yang saya minta adalah menang judi.
Bakpia Day 2025 tidak hanya merayakan kuliner khas Jogja itu, tetapi juga ambisi besar: menjadikan Ngampilan sebagai Malioboro Kedua.
Banjir di Sumatra merupakan akibat kerusakan alam yang “disponsori” pemerintah. Tapi warga diberi “tugas” buat melestarikan lingkungan.
Pakaian branded atau kaos band vintage harga miring terasa seperti harta karun ketika kita menemukannya di lapak thrifting. Namun di balik “jackpot” itu, tersimpan paradoks besar perdagangan pakaian bekas dunia: tentang ketimpangan, konsumerisme negara maju, hingga waste colonialism.