Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Pengin Poligami Gara-Gara CLBK sama Mantan Pacar

Audian Laili oleh Audian Laili
29 Januari 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kecemburuan perempuan terhadap pasangan, bukanlah sesuatu yang tidak beralasan. Lha wong ternyata, ada lelaki yang pengin poligami mantan pacar karena CLBK.

Baru-baru ini beredar kabar dari catatan Pengadilan Agama Kota Semarang, tentang peningkatan pengajuan izin poligami di Kota Semarang. Menariknya dari catatan ini, di tahun 2019—yang baru berjalan hampir sebulan, beberapa pemohon yang berniat poligami di antaranya masih berusia muda. Dari 4 pengajuan yang sudah masuk di tahun ini—dua pemohonnya masih berusia 30 tahunan, sementara sang calon berusia 20 tahunan.

Iklan

Salah satu di antara pengajuan yang masuk tersebut, ada yang ndilalah memutuskan untuk menikah lagi dikarenakan ia bertemu dengan sang mantan, lalu diduga benih-benih cinta lama bersemi kembali a.k.a CLBK. Ternyata, dulunya mereka berpisah karena nggak dapat restu dari orang tua. Nah, sekarang, mereka nekat untuk dapat bersatu kembali dengan mengharap restu dari istri pertama. Hah, apa mereka kira minta izin ke istri pertama lebih mudah daripada ke orang tua??!!! Lalu se percaya diri itu memutuskan untuk berpoligami??!!!

Betul, memang tidak ada yang salah dengan keputusan untuk berpoligami. Toh keputusan tersebut sudah dicatatkan secara resmi di KUA, yang artinya telah melewati sebuah proses yang cukup panjaaaaaaaaanggg dan ruwee37t: meminta izin nikah ke istri pertama.

Jadi, dari kejadian ini, kita tidak perlu lagi mempertanyakan, kenapa kok perempuan mudah cemburuan, hingga menaruh curiga pada mantannya pasangan? Ya, mohon maaf, sebetulnya ini adalah insting naluriah perempuan yang berusaha selalu siap siaga dalam mengamankan hal-hal yang kira-kira dapat merusak kebahagiaan harta yang paling berharga.

Saya sungguh sulit membayangkan, bagaimana perasaan istri pertama yang tahu bakal dipoligami sama mantan pacar suaminya sendiri. Begini ya, saya kasih tahu. Jangankan ngelihat pasangan yang ternyata masih seneng stalking mantannya. Mendengar nama sang mantan disebut saja, dengan mudahnya bikin hati, nyosss. Lalu perlahan muncul berbagai imajinasi tentang…

…bagaimana dulu mereka menjalin hubungan. Apa saja janji-janji yang pernah diucapkan. Apa saja mimpi-mimpi bersama yang pernah tertautkan. Sudah sejauh apa kebiasaan yang mereka lakukan. Aaaah. Lha ini, ujug-ujug si mantan yang diam-diam menjadi musuh bebuyutan—padahal kenal aja nggak—itu, jelas-jelas muncul di depan mata untuk dijadikan istri kedua. Dijadikan partner halal suami sendiri. Gilak, kalau permintaan izin poligami direstui, kira-kira terbuat dari apa, ya, hatinya istri pertama ini?

Sebetulnya, dari kasus ini kita bisa mempelajari sesuatu. Ketika keputusan untuk berpoligami bisa-bisanya didasarkan karena munculnya perasaan lama yang pernah ada, kita memang betul-betul tidak sepatutnya menganggap remeh masalah hati. Hubungan romantis yang pernah terjalin dengan mantan pacar dan dianggap selesai itu, ternyata masih meninggalkan rasa semriwing di dada. Bahkan setelah ia menikah, punya anak—dan istri pertama jelas-jelas masih hidup, ada, dan mendampingi.

Jika ada yang memberikan nasihat bahwa salah satu cara untuk move on adalah dengan menikah, sepertinya kesimpulan tentang petuah ini tidak dapat diilhami begitu saja. Lha wong, sudah menikah saja, keinginan untuk balikan sama mantan masih begitu kuatnya. Dengan jalan poligami pun, dijabanin. Perkara adil apa nggak, itu urusan nanti. Yang penting dapat restu dan hasrat ‘untuk memiliki’ terlampiaskan terlebih dahulu—dalam tempo sedekat-dekatnya!

Jadi, keputusan untuk terburu-buru menikah supaya rasa yang yang ada ingin lebih cepat terlupa, sepertinya tidak tepat. Apalagi, jika menjadikan pernikahan sebagai salah satu media untuk menunjukkan diri kita terlihat lebih baik-baik saja dibandingkan si mantan pacar. Ayolah, Malih! Menikah bukan sekadar ajang perlombaan macam lomba lari kancil dan siput: siapa cepat, dia menang. Terus lebih dulu dapat piala bergilir angkatan karena sudah sold out.

Memang, tidak ada yang salah dengan sebuah perasaan. Lagipula, adalah sesuatu yang manusiawi jika kita bertemu dengan seseorang yang pernah ada di hati, lalu terasa mak ser. Gejolak yang dulu pernah ada, muncul kembali. Apakah ini namanya jatuh cinta cinta lagi? Apalagi ternyata…

…dia juga masih menyimpan rasa yang sama. Oh tidaaakkk! Apakah ini sebuah pertanda, untuk mengikuti kata hati yang tak katanya tak pernah berdusta?!

Eits, tunggu dulu, tunggu dulu. Saya kasih tahu ya, Kisanak. Tidak sepantasnya kita selalu menganggap setiap mak ser yang muncul adalah jatuh cinta yang harus ditautkan. Memang, perasaan adalah naluriah, namun yang perlu kita ingat, kita punya tanggung jawab untuk mengelolanya. Kita tidak bisa dengan mudahnya menuruti hasrat begitu saja—apalagi berdalih, dengan poligami hasrat itu nilainya jadi pahala, pahala, dan pahala. Bukankah kekuatan dalam sebuah hubungan tidaklah sekadar getaran cinta? Namun juga komitmen dan kesetiaan?

Jadi, daripada terlalu menggebu ingin membahagiakan banyak orang—apalagi dengan alasan kasihan sama mantan yang masih sendirian. Lebih baik mak ser yang berlebih itu, difokuskan untuk satu orang saja. Tidak semua mak ser harus dituruti, Malih!!11!!

Terakhir diperbarui pada 24 Februari 2019 oleh

Tags: CLBKmantan pacarpoligami
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Seumur Hidup Melawan, Mengapa Kartini Akhirnya Mau Dipoligami? MOJOK.CO
Kilas

Seumur Hidup Melawan, Mengapa Kartini Akhirnya Mau Dipoligami?

21 April 2023
Mentoring Poligami untuk Para Istri MOJOK.CO
Esai

Mentoring Poligami untuk Para Istri

6 Desember 2021
Ultah Korpri dan Lagu Haram Karya Ahmad Dhani
Esai

Ultah Korpri dan Lagu Haram Karya Ahmad Dhani

29 November 2021
3 Saran untuk Coach Hafidin Agar Mentoring Poligami Diterima Masyarakat
Esai

3 Saran untuk Coach Hafidin Agar Mentoring Poligami Diterima Masyarakat

26 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri MOJOK.CO

Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri

20 Juli 2026
Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026
Mahindra Scorpio, mobil pick up mewahnya Koperasi Merah Putih MOJOK.CO

Pengalaman mengendarai dan mengomentari Mahindra Scorpio, mobil pick up Koperasi Merah Putih yang terlalu bagus di depan Pak Babinsa langsung

21 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Cerita Pencari Kerja Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’.MOJOK.CO

Cerita Jobseeker Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’

17 Juli 2026
Pemuda asal Garut sukses jadi konten kreator perjalanan dengan modal ijazah SD. MOJOK.CO

Nekat Keliling Indonesia Bermodal Ijazah SD, Mantan Pedagang Es Krim Asal Garut Ini Malah Sukses Jadi Konten Kreator Perjalanan

17 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.