MOJOK.COKehadiran Atta Halilintar di Twitter disambut dengan blokir massal dari netizen. Halo, anak Twitter, ini nggak keren sama sekali. Ini cyber bullying. 

Menurut urban legend, tiap media sosial punya pengguna yang karakternya unik sehingga pengguna satu platform nggak bisa migrasi sembarangan ke platform lain. Ada asumsi bahwa kode etik di antarplatform berbeda-beda.

Stereotip ini terutama dipegang anak Twitter—yang menurut saya emang agak sombong yah. Intinya anak Twitter yakin banget, kalau dijejerin bareng pengguna FB dan IG, merekalah yang paling keren, paling lucu, paling terdidik, paling beda, dan paling gahoool.

Kesombongan anak Twitter bisa dilihat dari peristiwa hari ini manakala Atta Halilintar, youtuber dengan subscriber terbanyak se-Asia Tenggara, orang dengan 9 juta pengikut di Instagram, tiba-tiba bangkit kembali di Twitter.

Lewat akun yang dibuat tahun 2014 tapi lama banget nggak aktif, Atta mengintroduksi dirinya di Twitterland dengan sapaan yang sedikit hangat, banyak sok akrabnya.

Twit pertama setelah bertahun-tahun hilang dari Twitter itu langsung bikin tagar #atta trending. Sebuah indikasi bahwa Atta Halilintar memang sah disebut sebagai influencer.

Paling.

Dibenci.

Di.

Twitter.

Saat.

Ini.

Karenaaa, Atta disambut dengan gerakan massal ngeblok akunnya dari netizen Twitter. Sambutan yang saya kira sangat tidak sopan ya, Bunda.

Baca juga:  Ahmad Dhani yang Tak Bosan Menjadi Tersangka

Dan mereka nggak cuma ngeblok. Mereka memamerkan skrinsut bahwa mereka sudah ngeblok Atta. Seolah-olah ngeblok Atta adalah pencapaian yang harus dipenuhi untuk tetap bisa jadi naq Twitter yang keren, lucu, terdidik, beda, dan gahoool.

Para tukang blok Atta ini mengaku nggak sudi aktivitas Atta di Youtube dan Instagram yang suka pamer-pamer kekayaan bakal meracuni kedamaian timeline-nya. Mereka juga nggak mau tepapar kesombongan Atta yang ditakutkan akan merusak keseimbangan warga Twitter yang saat ini sudah bisa menerima kemiskinan masing-masing.

Ngeblok orang itu nggak salah, sebagaimana benci orang lain adalah hal manusiawi. Anak Twitter memang punya hak dan wewenang membuat barikade antara dirinya dan informasi yang dia nggak mau untuk menjaga kesehatan mental (termasuk ngeblok mantan toxic, itu hal yang bagus). Akan tetapi, pakai dipamer-pamerin? Wah, itu nggak elegan sih FYI aja.

Saya curiga sih, aksi pamer sudah ngeblok Atta dimaksudkan para pelakunya untuk menunjukkan bahwa mereka ada di level intelektual lebih tinggi dari Atta. Apalagi Atta sudah dilekati citra sebagai seleb internet yang hanya diidolakan remaja tanggung yang masih labil dan alay (dan mungkin juga miskin).

Barusan itu curiga yang bisa benar, bisa banget salah. Tapi yang pasti benar adalah ini: memblokir orang lain dan menunjukkannya terang-terangan adalah praktik diskriminasi yang teramat jahat. Kelakuan kayak gini nggak ada bedanya dengan penyiksaan online (cyber bullying) yang kita benci itu. Maksudnya… ya nggak apa-apa kalau kamu nggak suka sama orang, tapi ngapain sih bikin polarisasi dengan memengaruhi orang lain supaya ikut melakukan hal serupa?

Baca juga:  Spanduk Penyambutan Prabowo yang Salah Cetak Jadi Bulan-bulanan

Itu nggak keren sih. Serius.



Tirto.ID
Loading...

No more articles