Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Balik Modal Habis Nyekolahin Anak, Memangnya Sekolah Itu Pabrik?

Audian Laili oleh Audian Laili
7 Maret 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pendidikan memang investasi masa depan, tapi kalau setelah lulus harus segera balik modal. Memangnya sekolah itu pabrik?

Berkat kebimbangan Maudy Ayunda yang harus memilih lanjut sekolah di Harvard atau Stanford, muncul banyak analisis tentang ini. Bahkan salah satunya, dengan sungguh niat mencoba menghitung biaya kuliah yang harus dikeluarkan oleh orang tua Maudy jika memutuskan masuk di salah satu sekolah tersebut. Sekalian, dihitung pula berapa lama uang tersebut bisa balik modal.

Iklan

Ya, analisis yang tampak niat ini, di-twit oleh akun @Strategi_Bisnis melalui sebuah thread berikut.

Hal yang bikin saya cukup nyesek, ketika dia bilang kalau, ”Yg suram kalau ayah sdh keluar biaya Rp 90 jutaan buat kuliah S1 kamu, eh pas lulus malah jadi pengangguran. Atau dpt kerja dg gaji cuma 2 jutaan doang. Ini artinya kamu produk investasi yg mengecewakan. BEP (break even point) atau titik balik modalnya lama bangedd.”

(((kamu produk investasi yang mengecewakan)))

Hmmm, mohon maaf, ini pasti sedang bercanda, kan? Hehehe.

Ya, gimana, ya. Janganlah menutut ilmu selalu dikaitkan dengan balik modal. Seolah-olah orang tua sebagai pemilik modal, sekolah itu pabrik alias menjadi mesin produksi, sementara perusahaan adalah pasarnya.

Jika benar begitu, sekolah itu pabrik yang sekadar menjadi tempat untuk ‘mencetak’ insan cerdas, berintelektual, dan berkompeten. Lantas, ‘keluaran yang bagus’ siap diedarkan di pasar perusahaan. Tentu saja, supaya ‘dibeli’ mahal berupa gaji tinggi atau setidaknya sesuai standar. Apalah itu gaji UMR.

Dengan cara pemikiran semacam ini, jika seseorang lulus dari sebuah kampus ternama plus jurusan yang bisa dikatakan mengeluarkan biaya mahal. Supaya bisa cepat balik modal, maka semua pekerjaan yang akan dilakoni, harus diperhitungkan matang-matang.

Jadi, kalau tipe-tipe santri dulu setelah lulus pengin ngabdi dulu ke kiainya. Ataupun seorang sarjana yang pengin jadi asisten dosen dulu—dengan gaji ala kadarnya dan penuh keikhlasan—sangat tidak direkomendasikan. Pokoknya, kalau sudah sekolah mahal-mahal, itu artinya harus mendapatkan pekerjaan di tempat bergengsi dengan gaji tinggi. Kalau nggak kayak gitu, itu artinya investasinya rugi.

Kalau kita runut dalam pandangan ini, maka jika ada mahasiswa yang kuliahnya lama—bahkan lulus karena hampir di-DO—bisa jadi dia akan dianggap merugikan investasi keluarga. Kalau dirasa sudah sangat merugikan, bisa-bisa di-PHK sebagai anak, dong? 🙁

Nah supaya tidak merugikan, bisa jadi kemudian apa pun akan dilakukan demi bisa cepat balik modal. Ya, apa pun. Meski kadang harus dengan cara curang sekalipun.

Sependek pemahaman saya, kelulusan dalam sistem pendidikan kita hari ini, harus memenuhi standar yang telah ditetapkan. Baik dari kurikulumnya, ujiannya, hingga standarisasi untuk menentukan nilai akhir maupun ranking. Adapun kita tahu, bahwa standarisasi berpotensi menghilangkan keunikan masing-masing diri individu. Padahal, keragaman itu salah satu hal yang menjadi hakikat manusia.

Jadi, apakah ini artinya standarisasi tidak lagi menjadikan siswa betul-betul dianggap sebagai manusia? Eh, tetap manusia, ding. Manusia yang standar. #apasih.

Iklan

Sayangnya, ketika standarisasi tersebut hanya berkutat untuk mencapai kecerdasan intelektual. Lantas, melupakan ada kecerdasan lain yang juga perlu diajarkan, yakni kecerdasan emosi dan spiritual. Wajar-wajar aja, sih, kalau kedua kecerdasan tersebut seolah diabaikan. Mungkin memang tidak terlalu berpengaruh besar pada nilai investasi, je. Meski sebetulnya justru keduanya adalah pengingat: bahwa kita masih menjadi manusia, yang hidup tidak sekadar untuk menjadi seorang kaya raya.

Tentu sah-sah saja hampir setiap orang tua selalu ingin anaknya hidup makmur dan berkecukupan. Begitu pula seorang anak yang pasti juga ingin membahagiakan orang tua, entah dengan cara memberi hadiah barang kesukaan orang tua saat ulang tahun pernikahan mereka, memberikan jaminan kesehatan saat umur orang tua mulai menua, bahkan tidak sedikit pasti seorang anak yang ingin memberikan tiket ibadah haji bagi kedua orang tuanya. Biasanya perasaan itu semua tumbuh semata-mata karena rasa penghargaan anak terhadap orang tua dan juga sebaliknya.

Bahkan tak jarang orang tua kita hanya memiliki pesan sederhana sekali, “Le, Nduk, sik penting aja gawe isin jeneng keluarga lan isa migunani kanggo manungsa liyane.” Lha, lek wis ngunu, njuk piye arep ngitung balik modal e?

Terakhir diperbarui pada 7 Maret 2019 oleh

Tags: balik modalInvestasiMaudy Ayundasekolahsekolah itu pabrik
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Bagi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Dahlan Iskan, iklim investasi di Jateng sangat cocok bagi pengusaha untuk investasi MOJOK.CO
Kilas

Iklim Investasi di Jawa Tengah Menarik Hati, Bikin Puluhan Pengusaha Melirik untuk Kolaborasi

19 Juni 2026
Jogja Financial Festival 2026 Segera Hadir di Jogja- Beri Literasi Keuangan dengan Cara Menyenangkan MOJOK.CO
Kilas

Jogja Financial Festival 2026 Segera Hadir di Jogja: Beri Literasi Keuangan dengan Cara Menyenangkan

25 April 2026
Orang Jakarta pilih bayar iPhone dengan cicilan
Urban

Tren “Aneh” Orang Jakarta: Nyicil iPhone Bukan karena Butuh, Alasannya Susah Dipahami Orang Miskin

14 April 2026
Mahasiswa Jogja nugas di coffee shop
Sehari-hari

Nugas di Kafe Dianggap Buang-buat Duit, padahal Bikin Mahasiswa Jogja Lebih Tenang dan Produktif

6 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Suntikan dana investasi dari investor Tiongkok untuk pengembangan industri kendaraan listrik (EV) di Kendal Jawa Tengah (Jateng) MOJOK.CO

Saat Tiongkok Suntik Rp15 T untuk Industri Kendaraan Listrik di Kendal Jateng: Serap 10.000 Tenaga Kerja, Lokal Jadi Prioritas Utama

15 Juni 2026
Tips Memulai Usaha Coffee Shop yang Tahan Disiksa Negara MOJOK.CO

Tips Memulai Usaha dari Mantan Lulusan CPNS yang Memilih Menyiksa Diri Menjadi Pengusaha Coffee Shop

21 Juni 2026
Perjalanan Kopikina menjadi kedai kopi populer di Jakarta yang dirintis oleh alumni Beasiswa LPDP MOJOK.CO

Jalan Kopikina dari Kedai Kopi Kecil dan Bukan untuk Bisnis Serius Jadi Brand Besar di Jakarta, Terapkan Ilmu dari Inggris

19 Juni 2026
Punya rumah dengan gazebo di halaman: tempat terbaik untuk me time hingga deep talk MOJOK.CO

Punya Gazebo di Halaman: Meski Rumah Tak Megah tapi Bikin Betah karena Jadi Spot Terbaik Relaksasi dan Macam-macam Fungsi

18 Juni 2026
Persiapan Resign di Usia 30 Supaya Tidak Menderita dan Gila MOJOK.CO

Kebodohan atau Keberanian: Inilah yang Saya Siapkan ketika Memutuskan Resign Menjelang Usia 30 dan Hidup Sebagai WNI Kelas Menengah Supaya Tidak Berakhir Menderita dan Gila

18 Juni 2026
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) meraih penghargaan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Program E-Learning Aparatur Negara (ASN) Berintegritas MOJOK.CO

ASN Jateng Dididik agar Tidak Berperilaku Menyimpang untuk Jaga Marwah Instansi, KPK Beri Penghargaan

18 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.