Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Asisten Rumah Tangga Juga Manusia, Kesetiaannya Nggak Bisa Dibeli

Audian Laili oleh Audian Laili
19 Juni 2019
A A
Asisten Rumah Tangga Juga Manusia MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kerjaan asisten rumah tangga itu nggak sepele. Namun, sering kali hak-haknya disepelekan. Padahal, bukankah relasi kerja ini saling membutuhkan? Kalau butuh, kok disepelein?

Kasta soal pekerjaan, kiranya memang masih terlalu kuat di tengah masyarakat. Sebegitu kuatnya, sehingga rasa-rasanya ada kebanggaan jika berhasil bekerja di posisi tertentu. Lantas, sadar tidak sadar, meremehkan dan sewenang-wenang dengan pekerjaan lain yang dianggap tidak telalu punya kuasa. Padahal, bukannya seharusnya setiap pekerjaan itu adalah suatu hal yang setara? Toh, pekerjaan yang satu dengan lainnya ujung-ujungnya bakal saling membutuhkan juga, kan? Lantas, kenapa kita senang menggolong-golongkannya, kemudian menganggap ada yang lebih rendah dan lebih tinggi di antara yang lain?

Saya cukup sedih melihat status Facebook seorang ibu yang berprofesi sebagai PNS di kota Tangerang. Dalam foto reuni dan makan-makan dengan teman seprofesinya, bisa-bisanya beliau ini mengatakan soal betapa bersyukurnya dia dapat berada di momen tersebut. Dan di saat yang bersamaan, beliau “mengasihani” orang lain yang saat ini hanya bisa nggosok WC. Begini detail yang beliau katakan,

“Kegiatan hari ini reoni makan2 emangnya qmu babu kerjaan cuma ngosek wc”, ungkapnya disertai emot tertawa.

Di situ dengan jelas, beliau mengungkapkan kata “babu”. Sehingga, status tersebut tentu telah “menyenggol” sebuah profesi yang dekat dengan kita. Lantaran kata-kata di status tersebut telah membuat sakit hati salah satu pihak, kecaman pun datang padanya. Lantas, dengan tidak ada rasa bersalah terhadap kata-kata yang telah diketikannya, beliau justru menegaskan bahwa yang dikatakannya adalah fakta yang sebenarnya terjadi. Bukanlah opininya semata.

Hadeeeh, saya jadi bingung. Beliau ini lagi belajar satire, atau bagaimana, sih? Dengan klarifikasi semacam itu, jelaslah beliau semakin viral dan menerima begitu banyak hujatan. Ketika viralnya status Facebook beliau ini sudah keterlaluan, akhirnya beliau ngaku kalau postingan tersebut di-hack, dan beliau meminta maaf. Dari pihak Sekretaris Daerah Kota Tangerang sendiri, memberi keterangan kalau akun tersebut di-hack orang yang tidak bertanggung jawab. Apalagi foto yang disematkan dalam postingan tersebut, juga merupakan foto tahun 2017.

Yaudah, nggak apa-apa. Semoga status tersebut memang betul-betul di-hack oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Semoga juga minta maafnya sungguh-sungguh. Kalaupun sebetulnya soal di-hack ini hanya karang-karangan saja, semoga minta maafnya karena paham dengan “fakta” yang diungkap beliau ini memang nggak ada etis-etisnya untuk dijadikan status. Semoga minta maafnya ini, bukan hanya terlahir dari desakan netizen semata. Aminnn~

Terlepas dari apakah postingan tersebut sebetulnya di-hack atau tidak, berbicara soal asisten rumah tangga, pernahkah kita kepikiran kalau begitu banyak masyarakat menengah ke atas yang cukup tergantung pada mereka untuk ngurus “rumah tangganya?” Lantaran, begitu besarnya peluang ini, sampai-sampai menjadikan para asisten rumah tangga ini meninggalkan “rumah tangganya” sendiri demi ngurusin “rumah tangganya” orang lain.

Nggak sedikit dari mereka yang harus “kerja” 24 jam, stay, dan selalu siap sedia ketika dibutuhkan. Kita pernah bayangin, nggak sih, kalau jadi mereka? Apa betul pikirannya bisa betul-betul bebas? Bisa jadi, saat tidur pun mereka juga jarang bisa ngerasa tenang. Ada pikiran, untuk selalu siap sedia ketika dibutuhkan. Belum lagi yang jobdesk pekerjaannya betul-betul sulit dideskripsikan. Seolah-olah, jadi bisa dimintai tolong apa saja.

Saya terkadang merasa sedikit sedih, saat momen mendekati atau setelah lebaran, begitu banyak orang yang merasa takut kalau asisten rumah tangga nya nggak kembali lagi setelah pulang kampung. Terus, muncul ungkapan-ungkapan yang mempertanyakan kesetiaan si asisten rumah tangga ini. Lha, memangnya kalau mereka nggak balik lagi, kenapa? Bukankah itu adalah hak-nya untuk memilih pekerjaan yang membuatnya nyaman? Kalau pekerjaan yang mereka lakoni sudah mendapatkan timbal balik yang mumpuni dan bisa turut menyejahterahkan keluarga yang ditinggalkan. Tentu mereka juga bakal kerasan-kerasan aja dan bakal balik lagi. Wong, masih sama-sama membutuhkan.

Akan tetapi, kalau mereka nggak balik lagi. Bisa jadi, jangan-jangan sebetulnya selama ini mereka sudah nggak merasa nyaman. Sudah nggak kerasan. Merasa hak-haknya tidak dipenuhi dengan seutuhnya. Ata malah, hak itu sebetulnya sudah mereka dapatkan—bahkan lebih dari kesepakatan awal. Namun, ada hal-hal lain yang membuatnya memilih lebih baik dekat dengan keluarga saja.

Bukankah memang ada begitu banyak pertimbangan ketika kita memutuskan untu memilih pekerjaan? Lantas, mengapa ketika asisten rumah tangga tidak kembali setelah lebaran, sering kali dipersalahkan sebagai orang yang tidak dapat menjaga komitmen? Kenapa para “tuan” dan “nyonya” ini nggak intropeksi diri dulu, saja? Seperti menyadari, bahwa keduanya sebetulnya sama-sama saling membutuhkan. Kalau ada satu pihak yang memilih pergi, itu artinya ada kebutuhannya yang belum dapat dipenuhi oleh pihak yang lain.

Nggak sedikit pula yang merasa dikhianati oleh asisten rumah tangga nya sendiri. Baik nggak balik lagi setelah lebaran, merasa dibohongi katanya suaminya sakit tapi terus nggak kembali lagi, barang-barangnya dicuri, dan sebagainya. Padahal, para asisten rumah tangga ini sudah dipenuhi hak-haknya, diperlakukan dengan semestinya.

Namun, bukankah kita memang tidak dapat membeli kesetiaan seseorang? Memperlakukan mereka setara dengan kita, seperti memberi hadiah, memberi jatah libur, makan di tempat yang sama dengan kita, serta keleluasaan yang lain. Bukankah itu memang suatu hal yang harusnya mereka dapatkan sebagai manusia? Mungkin ada di antara mereka yang mengecewakan. Tapi nyatanya, mereka sendiri tidak mendapatkan perlindungan apa pun untuk pekerjaan mereka yang nggak sepele justru sebetulnya begitu banyak risiko ini. Apakah ini bisa dikatakan sebagai relasi yang adil?

Iklan

Lagi-lagi, kita jangan sampai lupa. Kalau asisten rumah tangga ini juga manusia. Kita nggak bisa dan bahkan nggak berhak membeli kesetiaannya pada kita. Bagaimanapun caranya.

Terakhir diperbarui pada 19 Juni 2019 oleh

Tags: asisten rumah tanggahak pekerjaPNSpostingan viralrumah tangga
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Ikuti paksaan orang tua kuliah jurusan paling dicari (Teknik Sipil) di sebuah PTN Semarang biar jadi PNS. Lulus malah jadi sopir hingga bikin ibu kecewa MOJOK.CO
Edumojok

Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

7 April 2026
Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran” MOJOK.CO
Urban

Tiga Kali Gagal Seleksi CPNS, Pas Sudah Diterima Jadi ASN Malah Tersiksa karena Makan “Gaji Buta”

7 April 2026
Ribetnya lolos seleksi CPNS dan jadi PNS/ASN di desa: dibayangi standar hidup sukses yang merepotkan MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Jadi PNS atau ASN di Desa: Awalnya Bisa Sombong Status Sosial, Tapi Berujung Ribet karena “Diporoti” dan Dikira Bisa Jadi Ordal

1 April 2026
Kerja Susah di Jogja, Diledek Orang Surabaya Gak Bakal Sukses. MOJOK.CO
Urban

Nekat Tinggalkan Surabaya untuk Meniti Karier di Jogja, Menyesal Tak Dengarkan Nasihat Orang Tua yang Terlanjur Kecewa

31 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kelas menengah ke bawah harus mawas diri Kalau pemasukan pas-pasan jangan maksa gaya hidup dalam standar dan tren media sosial MOJOK.CO

Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial

6 April 2026
Kursi kereta eksekutif dibandingkan kereta ekonomi premium lebih nyaman untuk mudik Lebaran

Saya Kapok Naik Kereta Ekonomi Premium, Ditipu Embel-embel Mirip Eksekutif padahal Hampir “Mati” Duduk di Kursi Tegak

1 April 2026
Vario 160 Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Honda MOJOK.CO

Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan

3 April 2026
kuliah s2.MOJOK.CO

Penyesalan Lanjut S2 Cuma karena Pelarian dan FOMO: Nganggur dan Dicap Overqualified, Sudah Kerja pun Gaji Setara Lulusan SMA

5 April 2026
Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran” MOJOK.CO

Tiga Kali Gagal Seleksi CPNS, Pas Sudah Diterima Jadi ASN Malah Tersiksa karena Makan “Gaji Buta”

7 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO

Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

6 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.