Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Panggilan “The Power of Emak-Emak” dan Strata Sosial Ekonomi di Baliknya

Audian Laili oleh Audian Laili
15 September 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Masalah panggilan emak-emak yang sering disebut oleh Sandiaga, dipermasalahkan oleh Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Apakah karena Kowani merasa beda kelas?

Istilah The Power of Emak-emak memang tengah sering dipergunakan. Penggunaan istilah ini awalnya terkait dengan bagaimana “power” yang dimiliki emak-emak dapat bekerja dengan cara yang tidak terduga dan sering berujung dengan mengesalkan. Misalnya, untuk mengomentari seorang perempuan yang berkendara seenaknya sendiri, salah satunya dengan sein kiri tapi belok kanan. Mengalahkan raja jalanan yang sesungguhnya.

Istilah ini pun akhirnya memberikan kesan negatif. Sangat dekat dengan anggapan bahwa perempuan adalah seorang yang kasar dan seenaknya sendiri. Namun, justru kubu Prabowo-Sandiaga menggunakan istilah tersebut sebagai bahan kampanye. Sandiaga sendiri sering menggunakan istilah itu untuk memanggil perempuan-perempuan yang mendukungnya. Bahkan ia sangat mendukung jika didirikan Partai Emak-emak.

Setelah dijadikan bahan kampanye, istilah the power emak-emak tidak hanya sebatas ramai  di meme atau guyonan sosial media saja, namun juga semakin sering muncul dalam pemberitaan nasional. Mungkin karena semakin populer, akhirnya isitilah ini menjadi bahasan dalam General Assembly International Council if Women ke-35 di Yogyakarta, Jumat (14/9) lalu.

Dalam kongres tersebut, Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Giwo Rubianto menolak dengan tegas istilah the power of emak-emak. Menurutnya, ibu di Indonesia telah memiliki panggilan istimewa, yakni Ibu Bangsa. Ia mengungkapkan bahwa perempuan Indonesia yang telah memiliki konsep Ibu Bangsa sejak tahun 1935, sebelum kemerdekaan. Sehingga ia menolak jika kemudian disebut sebagai emak-emak.

Acara tersebut juga dihadiri dan dibuka oleh Presiden Jokowi. Giwo mengungkapkan, bahwa ia memperhatikan pernyataan Jokowi ketika peringatan Hari Ibu pada 22 Desember 2017 lalu di Papua perihal peran ibu bangsa. Sesungguhnya peran ibu bangsa bukan sebuah beban melainkan suatu kehormatan. Yakni berupa tugas mempersiapkan generasi muda yang unggul, berdaya saing, inovatif, kreatif, dan memiliki wawasan kebangsaan yang militan.

Dengan tegas pun ia mengungkapkan, “Kami tidak setuju! Tidak ada The Power of Emak-emak. Yang ada The Power of Ibu Bangsa.”

Walaupun pernah memiliki makna yang terkesan negatif, namun Sandiaga pun menyebut the power of emak-emak mengacu pada perempuan yang hebat, perempuan yang mandiri. Serta perempuan yang akan menjadi penentu kesuksesan bangsa ini.

Lalu, bukankah dengan penggunaan istilah tersebut dalam kampanye, akan mengembalikan kesan emak-emak yang identik dengan perilaku menang sendiri tersebut? Terus di manakah letak masalahnya?

Apakah hal ini juga ada kaitannya dengan penggolongan panggilan seorang perempuan dewasa dalam kasta ekonomi dan sosial di strata sosial Jawa? Ya, panggilan kepada seorang perempuan dewasa memang memiliki stratanya sendiri. Menurut riset kecil-kecilan saja, panggilan tersebut memiliki strata seperti ini….

Biyung–Simbok–Emak–Ibu–Mama

Semakin terpandang keluarga tersebut, maka panggilan yang akan dipilih semakin ke kanan. Untuk kali ini saya mengabaikan panggilan-panggilan yang mengacu pada bahasa Arab, Tionghoa, dsb. Karena saya hanya akan fokus pada strata sosial Jawa.

Pertama, penggunaan panggilan biyung. Panggilan ini sudah sangat jarang digunakan saat ini. Menurut cerita dari nenek saya, panggilan ini lebih sering digunakan pada zamannya dulu, di pelosok kampung yang teramat kampung.

Kedua, panggilan simbok. Yang terlintas dari panggilan ini adalah orang desa, miskin dan berpendidikan rendah. Jika ingin ditambah agar lebih dramatis lagi, merupakan perempuan yang pemalu, penakut, sabar dan tabah. Nah, di dalam sinetron kita, panggilan simbok ini akan identik dengan pemeran pembantu rumah tangga.

Iklan

Ketiga, panggilan emak. Ia memiliki strata yang lebih tinggi. Biasanya sudah lebih mengenal peradaban. Namun tetap, masih belum dapat dikatakan sebagai seorang perempuan yang cukup terpadang. Lihat saja contoh pemakaian panggilan emak dalam film, “Emak pengin naik haji.” Sepertinya sudah cukup menjelaskan, kan?

Keempat, penggunaan panggilan ibu. Staratanya bisa dikatakan lebih maju lagi. Panggilan ini sudah masuk ke dalam panggilan menengah ke atas dan tentu saja sebuah panggilan yang cocok untuk perempuan-perempuan yang berpendidikan.

Terakhir, untuk panggilan mama atau mami, intinya lebih tinggi lagi lah, ya. Identik dengan perempuan yang tidak hanya berpendidikan namun juga cantik dan kaya raya.

Itulah kesan yang diciptakan dengan panggilan perempuan dewasa tersebut. Jika kita mengacu pada strata di atas, maka bisa dikatakan bahwa panggilan emak memang memiliki strata di bawah kata ibu. Apakah karena hal inikah sehingga Kowani menolak untuk dipanggil emak-emak?

Padahal jika kita mengacu pada KBBI, sebenarnya tidak ada perbedaan makna dari panggilan-panggilan tersebut. Apakah karena perempuan-perempuan Kowani merupakan kaum terpandang, sehingga risih dengan sebutan emak yang terasa ndeso? Oke saya harap tidak. Semoga memang ada alasan lainnya.

Terakhir diperbarui pada 15 September 2018 oleh

Tags: biyungEmak-emakibujawajokowikowanimamaprabowosandiagasimbokstrata sosial ekonomithe power of emak-emak
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku Mojok,co
Pojokan

Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku

19 Maret 2026
mudik gratis Lebaran dari Pertamina. MOJOK.CO
Sehari-hari

Program Mudik Gratis Mengobati Rindu Para Perantau yang Merasa “Kalah” dengan Dompet, Kerja Bagai Kuda tapi Nggak Kaya-kaya

19 Maret 2026
Makanan Khas Sunda dan Jogja Bikin Muak- Bau Busuk dan Manis (Wikimedia Commons)
Pojokan

Makanan Khas Sunda Bikin Menderita Orang Jogja, Sama Seperti Perantau Sunda Muak dengan Makanan Jogja yang Serba Manis

11 Maret 2026
Lebaran.MOJOK.CO
Sehari-hari

Lebaran, Momen yang Ingin Saya “Skip” dari Kehidupan karena Hanya Berisi Trauma dan Kesedihan

6 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sukses Bekerja di Kota Itu Ilusi: Pesan untuk Anak Muda yang Meninggalkan Desa MOJOK.CO

Sukses Bekerja di Kota Itu Ilusi: Pesan untuk Anak Muda yang Meninggalkan Desa

23 Maret 2026
Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah MOJOK.CO

Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi

19 Maret 2026
mudik gratis Lebaran dari Pertamina. MOJOK.CO

Program Mudik Gratis Mengobati Rindu Para Perantau yang Merasa “Kalah” dengan Dompet, Kerja Bagai Kuda tapi Nggak Kaya-kaya

19 Maret 2026
Honda Scoopy, Motornya Orang FOMO yang Nggak Sadar kalau Motor Ini Pasaran dan Sudah Nggak Istimewa Mojok.co

Honda Scoopy, Motornya Orang FOMO yang Nggak Sadar kalau Motor Ini Terlalu Pasaran dan Sudah Nggak Istimewa

19 Maret 2026
Gen Z dapat THR saat Lebaran

3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan

18 Maret 2026
Pengendara motor plat S di jalanan Jombang tidak kalah ngawur dari plat K MOJOK.CO

Motoran di Jatim: Dibuat Sadar kalau Plat S Jadi Motor “Paling Rusuh” di Jalan

23 Maret 2026

Video Terbaru

Catatan Tan Malaka tentang Perburuan Aktivis 1926 yang Terlupakan

100 Tahun Naar De Republiek: Catatan Gelap Tan Malaka

20 Maret 2026
Agus Mulyadi dan Segala Obrolan Receh yang Kebablasan Jadi Reflektif

Agus Mulyadi dan Segala Obrolan Receh yang Kebablasan Jadi Reflektif

20 Maret 2026
Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.