MOJOK.COLayar OLED memang sering dipakai oleh hape kelas atas. Namun, di balik kecanggihannya, tersimpan beberapa kelemahan yang cukup fatal.

Bagi yang mengikuti perkembangan teknologi, pasti sudah kenal dengan layar OLED, atau Organic Light Emitting Diode. Layar model begini menawarkan berbagai macam keunggulan dibandingkan teknologi layar LCD (Liquid Crystal Display) yang sudah umum untuk hape, TV, komputer, dan laptop.

Perbedaan layar OLED dan LCD adalah layar OLED tidak menggunakan backlight seperti layar LCD. Piksel OLED mampu memancarkan cahaya sendiri tanpa bantuan backlight.

Ketiadaan backlight membuat OLED mampu menampilkan gambar dengan kontras dan saturasi warna yang jauh lebih tinggi dibandingkan LCD. Alasannya, saat menampilkan gambar hitam, piksel OLED bisa benar-benar dimatikan, berbeda dengan LCD yang meskipun pikselnya mati, backlight-nya masih tetap hidup.

Hal ini membuat OLED mampu menampilkan warna hitam yang sempurna. Oleh karena tidak menggunakan backlight, OLED juga jauh lebih hemat energi. Berkat keunggulannya ini, layar OLED banyak digunakan di hape papan atas. Bahkan ketika Apple meluncurkan iPhone 11 dan dijual dengan harga Rp12,8 juta (versi 64 gb), banyak yang mencibir karena layarnya masih LCD. Bisa dibilang, OLED adalah barang wajib bagi hape papan atas.

Namun, di balik segala keunggulannya, layar OLED memiliki kelemahan yang menurut saya lumayan fatal. Pertama, gejala image retention atau gambar yang menetap di layar atau kebaradaan shadow.

Karena layar OLED menggunakan piksel sendiri untuk menerangi layarnya, gejala image retention lebih sering terjadi. Layar ini tidak bisa menampilkan gambar tetap dan dalam waktu yang lama.

Banyak kejadian hape OLED yang mengalami image retention, terutama di bagian notification bar dikarenakan bagian tersebut cenderung menampilkan gambar yang sama. Kekurangan ini membuat layar OLED tidak cocok digunakan untuk televisi, laptop, atau komputer.

Baca juga:  Sebelum Beli iPhone XS dan iPhone XS Max, Pikir-Pikir Dulu Empat Hal Ini

Gambar logo stasiun televisi, papan skor pertandingan olahraga, taskbar Windows adalah gambar yang menetap dan cenderung ditampilkan dalam waktu lama. Bahkan Samsung, yang merupakan produsen layar OLED terbesar untuk hape tidak menggunakannya untuk produk TV. Samsung memilih menggunakan teknologi layar QLED (Quantum dot LED).

Kekurangan kedua dari OLED adalah gejala burn in. layar OLED menggunakan material organik dan membakar pikselnya untuk menghasilkan cahaya. Material organik inilah yang membuat layar OLED mudah burn in.

Biasanya, piksel biru lebih mudah burn in dibandingkan merah atau hijau. Apalagi kalau layar sering menampilkan gambar warna putih. Piksel biru akan bekerja lebih keras. Gejala burn in muncul saat piksel di layar OLED mengalami kerusakan atau sudah tidak mampu memancarkan cahaya seperti semestinya.

Sebenarnya, Samsung sudah mendesain layarnya untuk mengurangi gejala burn in. Samsung membuat ukuran piksel biru lebih besar dibandingkan merah dan hijau. Tujuannya, supaya umur piksel biru lebih panjang. Namun, tetap saja, usia pakai layar OLED lebih pendek dibandingkan LCD.

Karena dua di atas, layar ini hanya cocok digunakan di perangkat yang masa pakainya pendek (1 sampai 2 tahun). Ketika lebih dari 2 tahun, biasanya layar OLED mulai memunculkan gejala burn in atau muncul shadow. Tentu saja gejala tersebut bersifat irreversible atau tidak dapat dikembalikan.

Satu-satunya solusi adalah pergantian layar. Bagi yang hobinya ganti hape, sih, bukan masalah. Namun, bagi yang ganti hapenya 3 sampai 5 tahun sekali, tentu saja layar OLED sangat berisiko. Smartphone dengan layar LCD jauh lebih aman walaupun harus meninggalkan kontras dan saturasi. Jika sudah terlanjur membeli hape dengan layar OLED, yang bisa Anda lakukan adalah menjaga hape seawet mungkin.

Baca juga:  Sempat Pakai MacBook, Kini Erdogan Boikot Produk Amerika Seperti iPhone

Caranya, pertama, aktifkan dark mode. Ketika dark mode aktif, kita mematikan piksel OLED yang tidak perlu. Piksel OLED jadi tidak terlalu sering memancarkan cahaya. Diharapkan, usia layar OLED bisa lebih lama.

Kedua, mematikan auto brightness. Fitur ini berguna untuk menyesuaikan kecerahan layar di berbagai situasi. Namun, jika fitur ini dinyalakan, terlebih lagi jika sering pakai hape di luar ruangan atau di bawah cahaya terang, fitur auto brightness akan otomatis memaksimalkan kecerahan layar.

Keadaan ini memaksa piksel OLED bekerja keras ketika harus memancarkan cahaya intensitas tinggi. Masa pakai layar OLED akan berkurang. Ketiga, gunakan dynamic wallpaper. Wallpaper statis akan meningkatkan risiko image retention. Jika lebih sayang layar ketimbang baterai, gunakan dynamic wallpaper.

Jika tidak suka dynamic wallpaper karena dapat menguras baterai, Anda wajib mengganti wallpaper setiap 7 hari supaya tidak terjadi image retention. Keempat, jangan gunakan hape di bawah matahari langsung.

Penggunaan hape di bawah matahari langsung apalagi fitur auto brightness nyala akan memaksa layar bekerja keras. Jika berada di luar ruangan, cari tempat teduh. Kelima, jangan keseringan pakai hape dalam waktu lama, misalnya main game yang bikin hape jadi panas.

Suhu panas bisa merambat ke layar. Layar yang menyala ditambah suhu panas akan mengurangi umur komponen.

Sekian beberapa tips yang bisa saya sampaikan agar layar OLED Anda lebih awet. Apakah Anda masih ingin menggunakan hape dengan layar OLED atau lebih memilih layar IPS LCD? Keputusan tentu saja ada di tangan Anda.

BACA JUGA Panduan Memahami Chipset pada Smartphone Agar Tidak Gaptek atau ulasan gawai di rubrik KONTER.