[MOJOK.CO] “Tubuh perempuan adalah hak laki-laki; perempuan cuma properti.”

Ustadz Abdul Somad menyebut hidung Rina Nose pesek.

Menurutnya, yang pesek-pesek tadi jelek. Apa yang salah dari pernyataan ini? Menurut saya, tidak ada. Sebagai laki-laki yang juga pesek, beliau mungkin sedang mengajarkan bahwa apa yang tampak di luar itu tak mesti dipikirkan, yang penting adalah akhlak kita.

Tolong, kalau Anda bukan ustadz lulusan luar negeri yang punya gelar Lc., jangan sok komentar buruk. Saya kira Ustadz Somad berniat baik. Tak ada niat dia untuk memaki apalagi mengolok-olok bentuk fisik seseorang. Emang dia Habib Rizieq yang bilang Gus Dur itu buta mata dan buta hati?

Soal bentuk hidung yang pesek sebenarnya jadi masalah ketika ia jadi standar kecantikan atau kegantengan. Buat saya yang punya hidung pesek, gembrot, dan muka biasa saja, punya hidung yang secara estetis nggak ada bagus-bagusnya memang merepotkan. Seumur hidup kalau nggak diejek jelek, ya diejek pesek. Karena lelah diejek dan disebut jelek, pernah saya nekat menempelkan penjepit baju ke hidung biar mancung.

Saya percaya kata-kata punya kekuatan. Ahok sudah membuktikannya kan? Apalagi bila kata-kata itu dikeluarkan oleh orang yang punya ilmu. Ustadz Somad jelas bukan orang sembarangan. Apa yang ia ucapkan merupakan produk pendidikan yang pernah ia dapat sebelumnya. Soal menyebut fisik orang ini, tentu bukan ejekan. Ada ilmunya.

Saya sih belum tahu di mana Ustad Somad belajar mengejek bentuk tubuh orang, tapi kalau sekadar nilai-menilai tubuh perempuan, bukan cuma Ustadz Somad yang bisa. Felix Siauw itu sudah berapa jilid kultwit soal tubuh perempuan?

Beberapa dari kita demikian terobsesi dengan tubuh perempuan. Ketik aja kata kunci “ustadz+perempuan”. Kalian akan menemukan informasi bahwa suara perempuan itu aurat, rambut perempuan itu aurat, lekuk tubuh perempuan itu aurat, wajah ber-makeup itu aurat, dan seterusnya.

Dalam konteks ini, niat buat mengendalikan syahwat paling banyak diletakkan kepada perempuan. Tugas menghentikan kejahatan dan dosa adalah tugas perempuan, laki-laki ngikut saja.

Sebenarnya tidak perlu terkejut-terkejut amat ketika komentar soal hidung itu lahir. Sasaran tembaknya adalah jilbab. Rina Nose dihina fisik bukan karena ia jelek, tapi karena ia melawan norma dengan melepas jilbab.

Beberapa dari kita ini terobsesi dengan kesalehan dan cara orang lain beragama ketimbang mengurus iman sendiri. Alih-alih berpikir kenapa perempuan-perempuan melepas jilbab, lebih gampang mengatai mereka merendahkan ajaran agama. Seolah kepatuhan dan kesalehan itu paket lengkap yang didapat saat syahadat.

Maksudnya gini lho. Saat lahir jebrot itu kita kan belum beribadah. Praktik beragama diajarkan oleh orang tua, guru, dan orang-orang yang kita anggap saleh. Kemudian, secara bertahap kita belajar memahami apa itu agama, apa itu Tuhan, apa itu ritus ibadah, dan seterusnya.

Keimanan bertahap. Seseorang yang belajar pasti mengalami naik turun. Sama kayak kamu yang dulu belajar bahwa Bumi itu bulat, belakangan belajar lagi bahwa Bumi itu datar. Kamu tak bisa menghajar orang karena tak kuat menjalani hidup, sama dengan kamu tak bisa menghina keimanan orang karena ia tak melakukan ritus yang kamu anggap benar.

Kesalehan sosial adalah produk kebudayaan, sedangkan keimanan adalah produk pencarian mandiri seorang hamba.

Saya nggak pernah bisa paham dengan orang-orang yang mengaku beragama tapi membutuhkan justifikasi dari orang lain. Seolah-olah kebenaran, kesucian, dan mutu agamanya itu diukur dari seberapa banyak orang yang menjalankan agama sesuai seleranya.

Jika ada orang lain lepas jilbab, apa ya agamanya jadi jelek dan salah? Kalau orang lain memakai jilbab, apa ya ideologi yang ia anut jadi runtuh? Mengukur kualitas hidup sendiri kok pakai cara orang lain menjalani hidupnya.

Banyak dari kita berpikir bahwa kesalehan sosial didapat dari ritus ibadah. Ini mungkin benar. Tapi, perlu diingat, orang-orang yang ditangkap KPK, yang dipenjara karena korupsi, banyak yang salatnya rajin, ngajinya jago, bahkan hafal hadis.

Masalahnya, kesalehan sosial bukan jaminan seseorang jadi baik sebagai manusia. Kadang kala penjahat yang paling keji adalah ahli ibadah. Ibnu Muljam, misalnya. Rajin salat, pintar mengaji, tapi membunuh menantu Nabi.

Kita ini sebenarnya mau ngukur kualitas orang dari mana? Kalau dari fisik, susah. Gampang amat bilang, “Yang berjilbab belum tentu baik, tapi sudah pasti lebih baik daripada yang tidak berjilbab,” seolah ukuran paling baik dari manusia itu apa yang ia pakai.

Logika sungsang ini lahir dari peradaban yang menganggap bahwa apa yang tampak di luar lebih baik daripada apa yang dilakukan diam-diam. Kisah pelacur yang memberi minum kepada anjing dan masuk surga itu jadi lelucon belaka jika kemudian ia tak memakai jilbab.

Jangan salah, ini berlaku dua arah. Saat pertama kali ibu saya memutuskan memakai jilbab, orang-orang di sekitar kami bereaksi demikian keras. Ibu dianggap sok suci, ngaji aja nggak bisa kok pakai jilbab. Komentar paling pedas yang saya dengar adalah “Nggak pernah naik haji kok berjilbab?” Ucapan-ucapan ini bisa bervariasi. Seseorang bisa juga disindir karena memakai jilbab untuk terlihat cantik dengan berbagai macam model pakaian muslim yang lucu.

Keputusan seorang perempuan untuk melepas dan memakai jilbab adalah wilayah personal. Saya tahu betul betapa beratnya usaha ibu saya untuk memakai jilbab. Ia harus konsisten, terus-menerus menjaga diri karena tak ingin melahirkan omongan “Pakai jilbab kok kelakuannya sembarangan?”

Orang-orang kadang punya ekspektasi yang tidak masuk akal terhadap perempuan yang menutup aurat. Mereka berharap, setelah memakai jilbab, perempuan yang manusia tadi jadi malaikat yang tidak bisa salah.

Mereka yang baru memakai jilbab dipaksa memenuhi standar mutu kehidupan saleh orang lain. Perempuan ini dilarang menjalani hidup seperti manusia kebanyakan. Jangan memanjakan suara, jangan berkumpul di ruang publik dengan laki-laki yang bukan saudara, jangan pulang malam, jangan berteriak, jangan urakan, jangan naik motor, jangan selfie terus upload di Instagram, dan jangan rebut suami orang (seolah laki-laki tak ada yang hidung belang).

Lha, dikira pakai jilbab itu auto-saleh apa ya?

Perempuan berjilbab merokok, dianggap moralnya rendah dan tidak pantas. Perempuan berjilbab menggunakan vape dianggap tak punya tata krama dan mengina agama. Lha dikira perempuan berjilbab ini ngga bisa merokok, pakai vape, atau jadi atlet parkour? Sudah diatur soal bagaimana mereka mesti berpakaian, dilarang menunjukkan anggota badan, sekarang cara menjalani hidup juga diatur.

Susah bener jadi perempuan.

No more articles