Adakah yang lebih sering mengecewakan dibanding optimis dan berharap-harap kepada politisi?

Baru kemarin, di hari pelantikan Anies-Sandi, Mojok sebagai penonton pilkada Jakarta menurunkan konten yang menyemangati para lovers dan haters pasangan pemimpin baru Jakarta agar tidak berlarut-larut dengan sentimen saat pilkada. Kami kira, ini waktunya untuk mendukung keduanya menuntaskan janji kampanye, terutama karena belum lagi dilantik, sudah datang intimidasi kepada keduanya untuk meneruskan reklamasi teluk Jakarta, hal yang Anies-Sandi nyatakan tolak saat kampanye.

Pagi hari, konten Mojok turun, malamnya Anies Baswedan menyampaikan pidato yang mengecewakan. Menakutkan, bahkan.

Itu terutama ketika Anies mulai bicara soal kolonialisme. “Dulu, kita semua, pribumi, ditindas dan dikalahkan. Kini telah merdeka, kini saatnya kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri.”

Saya harus pelan-pelan menyimak kalimat Anies video pidatonya itu secara utuh lantas, lantas membandingkannya dengan naskah asli. Dari sana saya menemukan bahwa Anies melakukan improvisasi pada pidatonya.

Dalam teks pidatonya, yang mana kalimat Anies tadi aslinya dituliskan, “Rakyat pribumi ditindas dan dikalahkan oleh kolonialisme. Kini telah merdeka, saatnya kita jadi tuan rumah di negeri sendiri,” saya menemukan konteks pernyataan Anies.

Anies sedang bicara Jakarta sebagai kota tempat “bendera pusaka dikibartinggikan, tekad menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat diproklamirkan ke seluruh dunia.” Tapi, dalam improvisasi pidatonya, bagian itu tidak disebutkan. Konteksnya menjadi hilang.

Mengapa Anies memilih kata pribumi alih-alih bangsa, rakyat, atau masyarakat Jakarta? Pribumi dan bangsa memiliki implikasi linguistik serta tafsir yang berbeda satu sama lain. Apalagi selama pemilu berlangsung, retorika “pribumi” melawan “asing dan aseng” demikian nyaring dikabarkan. Pelan-pelan saya dibuat sadar: agaknya cita-cita untuk bisa memiliki Jakarta yang ramah terhadap keberagaman harus menunggu waktu lama.

***

Dulu saya berharap, dengan terpilihnya gubernur baru Jakarta akan ramah terhadap siapa pun, terutama warga miskin kota. Tapi, dengan retorika Anies tadi, saya malah berkeinginan menjadi seorang pribumi, bukan keturunan aseng dan asing. Tetapi, sebagai pribumi yang tulen, yang sama sekali bebas dari cacat-cacat asing. Alangkah gembiranya saya apabila nanti saat Anies berkuasa, saya bisa menikmati janji kemakmuran yang ia berikan.

Bila saya pribumi, kegembiraan hati saya pasti meluap-luap melihat bahwa akhirnya Jakarta tak lagi dipimpin orang kafir penista agama. Suara saya akan parau karena ikut berteriak takbir, melanjutkan beragam aksi angka cantik. Saya akan meminta, memohon dengan tangan menengadah ke langit supaya pemimpin kita kekal kekuasaannya, juga para aseng dan asing sial tadi kita usir dari Jakarta, supaya kita bisa mempertahankan kebesaran kita dengan kekuasaan yang besar ini di belakang kita.

Kemudian sebagai pribumi, saya berharap agar pesta ini hanya dan hanya dinikmati oleh orang asli saja. Mereka yang keturunan asing atau aseng tidak mau mereka ikut serta. Saya akan melarang mereka ikut riang gembira pada pesta-pesta yang digelar bersamaan dengan pelantikan gubernur baru. Malahan, saya ingin sekali memagari tempat-tempat keramaian itu supaya tak seorang asing dan aseng dapat melihat kegembiraan kita yang meluap-luap pada hari terpilihnya pemimpin pribumi kita.

Tapi, itu semua mimpi. Karena saya bukan pribumi. Saya keturunan Tionghoa dan Arab. Kakek buyut jauh saya orang Arab yang menikahi orang Osing. Salah seorang keturunannya kemudian menikahi perempuan Tionghoa. Di darah saya mengalir dua bangsa asing yang bukan asli Indonesia. Saya tak punya hak untuk merayakan pesta pemimpin pribumi di Jakarta.

Saya sangat ingin jadi pribumi. Karena dengan jadi pribumi, saya tidak akan diteriaki “Cina!” di jalan. Saya tak perlu takut berjalan sendiri di malam hari hanya karena saya terlahir terlalu putih atau terlalu sipit. Saya tidak perlu takut dituduh cukong yang mengambil untung banyak dan membayar pekerja terlalu murah. Kalau saya pribumi, saya tak perlu takut diperkosa dan dijarah rumahnya apabila kerusuhan rasial ‘98 terulang lagi.

Betapa enaknya jadi pribumi karena kamu tak perlu merasakan hinaan dan ejekan hanya karena kulitmu putih atau  matamu sipit. Masa kecil saya diisi oleh pertanyaan-pertanyaan dan kebencian terhadap diri sendiri. Kenapa mata saya sipit? Kenapa orang-orang memanggil saya “cino”? Mengapa mereka mengejek saya “babi”? Sampai-sampai harus berharap tidak dilahirkan saja karena tak kuat merasakan hinaan.

Betapa enaknya jadi pribumi karena merayakan festival budaya sendiri tak perlu takut dilarang negara. Setelah akhirnya Gus Dur menghapus Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina lantas menggantinya dengan Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 pada 17 Januari 2000, kami yang keturunan Tionghoa ini bisa merayakan Imlek secara terbuka, merayakan keyakinan dengan bebas, tanpa harus takut dipersekusi.

Tapi, saya bukan pribumi. Saya hanya bisa membayangkan saja, betapa enaknya jadi pribumi, karena tak perlu merasakan betapa dulu susahnya mengurus Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia. Betapa enaknya jadi pribumi karena, meski kamu lahir di Jerman, kamu akan tetap jadi warga negara Indonesia. Sementara orang-orang Tionghoa yang ratusan tahun telah tinggal di Indonesia harus sabar menerima cacian “Balik ke Cina sana, lu, babi!” dari orang pribumi.

Betapa enaknya jadi pribumi karena seberapa pun banyaknya kekayaan yang kamu miliki, akan dianggap kerja keras. Sementara jika aku yang kaya, maka dicurigai sebagai pengusaha gelap, bandar narkoba, bos judi, atau anggota Sembilan Naga. Betapa enaknya jadi orang asli, karena jika kamu tertangkap karena melakukan korupsi atau suap oleh KPK, yang diingat adalah kejahatanmu, bukan rasmu. Tidak seperti penjahat BLBI yang kebanyakan Cina.

Betapa enaknya jadi pribumi, karena kamu tak perlu merasakan repotnya menikah dengan sesama keturunan Tionghoa. Orang sekelas Susi Susanti dan Alan Budikusuma saja harus pontang-panting mengurus surat-surat pernikahan karena diragukan kewarganegaraannya (tapi tidak diragukan ketika mereka menang olimpiade dan memberi dua medali emas olimpiade pertama dalam sejarah bagi Indonesia). Mereka harus repot sampai kemudian menjadi isu di media massa dulu untuk mendapatkan segala yang butuhkan. Itu untuk menikah, urusan waris? Bisa lebih runyam lagi.

Anies mungkin tahu rasanya jadi asing. Sebagai keturunan Arab, Anies mungkin pernah merasakan betapa label pribumi atau bukan itu menyesakkan dada. Kita dipaksa jadi beda, seolah-olah sikap cinta tanah air, patriotisme, itu diukur dari suku apa kita terlahir. Apakah saya yang keturunan Tionghoa ini tak boleh mencintai Indonesia? Apakah saya yang seperempat keturunan Arab harus jadi 100% pribumi dulu untuk bisa hidup aman tanpa takut diganyang dan digantung hanya karena mata saya sipit?

Nggak usah dijawab. Pertanyaan itu sengaja dibikin retoris. Seretoris nanya, kapan agama pribumi jadi tuan di tanah sendiri?

No more articles