Ketika orang-orang di luar sana sedang heboh apakah dunia siap dengan keberadaan dua Taylor Swift, negeri yang gemah rimah loh jinawi ini dihebohkan oleh keberadaan dua akun twitter: @infoindomaret dan @alfamarttoko. Dua akun penting ini berhasil mengalihkan duniaku perhatian kita dari  @kaesangp dan @chilli_pari yang jualan martabak melulu.

Dua Taylor Swift belum tentu bisa menambah keceriaan bagi dunia yang penuh duka ini, bisa jadi malah memicu terjadinya Perang Dunia III—jika keduanya kurang akur dan para pengikut mereka saling menyatakan perang. Sedangkan dua  akun yang mengatasnamakan dua peritel waralaba itu jelas bisa menangkal segala marabahaya, memenuhi semua kebutuhan kita, menjadi pelipur lara, dan mengobati setiap luka.

Ketika akun dua anak presiden mulai membosankan dengan jokes mereka yang diulang-ulang, kita disapa ujaran-ujaran segar dari akun dua toko yang punya jaringan luas hingga palung terdalam hati  Agus Mulyadi seluruh pelosok negeri.  Tuhan memang selalu menyayangi bangsa ini. Semuanya memang akun jualan sih, tapi jelas bahwa dua akun toko itu lebih bermaslahat buat umat daripada dua akun penjual martabak.

Lagi pula, duo bakul martabak itu kan aji mumpung. Lantaran bapak mereka kebetulan adalah Jokowi si presiden pemburu kecebong pecinta kodok, mereka tunggangi saja keterkenalan si bapak. Mumpung si bapak belum dilengserkan, mereka manfaatkan saja semua isu di sekitar bapak untuk caper. Mereka terapkan semua ilmu yang pernah mereka dapatkan setelah secara khusus berguru kepada Arman Dhani  si raja caper. Mereka amalkan secara murni dan konsekuen inti ajaran Dhani: “Berakit-rakit ke hulu berenang-renag ke tepian, bercaper-caperlah dahulu berjualan (buku boleh, sepatu bisa, martabak juga oke) kemudian.”

Lebih jauh lagi, duo bakul martabak itu hanya merunyamkan keadaan. Sebagai anak presiden terpilih, mereka justru semakin meruncingkan perbedaan yang telanjur hidup di akar rumput tengah masyarakat perfesbukan dan pertwitteran Indonesia: Jokower dan Prabower. Bukannya berusaha menjernihkan suasana, mereka justru memancing di air yang keruh.

Lihatlah bagaimana mereka menjadikan sentimen para hater si bapak (Prabower) sebagai olok-olok, dan memanfaatkan dukungan kaum Jokower demi mendapatkan efek viral. Olok-olok yang ujung-ujungnya promosi martabak. Mereka bahkan tak perlu membayar buzzer agar dagangan mereka laku, karena mereka dengan sendirinya telah menjelma menjadi buzzer raksasa. Kan kasihan itu para selebtwat, seleb fesbuk dan instahram.

Sudah jadi anak presiden, jadi saudagar martabak sukses, mengangkangi para penjual martabak gerobakan, jadi buzzer pula, merampas lahan bisnis kami mereka yang bertahun-tahun merintis jalan jadi opinion leader di media sosial. Belum lagi para komika seperti Mz @Anang_Batas juga jadi takut kalah lucu dan ketar-ketir kehilangan pekerjaan. Brengsek betul.

Bapak yang presiden bisa dibeli di mana sih?

Saking brengseknya, satu kicauan Kaesang si bungsu saja bisa membelah pemberitaan media. Media massa, Bung! Bukan lagi Prabower dan Jokower, melainkan media yang konon merupakan pilar keempat demokrasi dan menjunjung tinggi nilai-nilai independensi dan non-partisan. Makin ruwet, makin suram.

Gara-gara cuitan @KaesangP yang menanggapi foto bapaknya di Raja Ampat, media-media kita terbelah. Cuitan Kaesang, “Pak, …kalo cari kecebong bukan di situ tempatnya” diberitakan dengan arah berlawanan. Satu pihak ada yang menganggap itu becandaan, pihak lain menganggap itu sebagai teguran dan usaha mempermalukan atau melecehkan—sebagaimana perbedaan tajam antara Kompas yang bilang ekonomi kita baik dan Seputar Indonesia yang bilang buruk.

Cuitan itu amat sangat urgen sekali hingga hampir semua media daring kita yang berbasis di Jakarta merasa perlu untuk memberitakan. Seakan-akan kalau tidak diberitakan bisa-bisa negara ini gulung tikar. Sementara aspirasi dan nasib orang Papua nyaris tidak mendapatkan porsi sama sekali.

Di hari-hari ke depan, bukan tidak mungkin duo akun anak presiden itu akan semakin caper dan memecah-belah persatuan dan kesatuan bangsa. Dan pada gilirannya, api permusuhan Jokower dan Prabower yang terus dikipasi, oleh siapapun, baik secara sadar maupun tidak sadar, akan membawa bangsa ini menuju kehancuran karena perang sipil.

Maka akan lebih sehat kalau kita ikuti saja perkembangan-perkembang terbaru dari @InfoIndomaret dan @AlfamartToko. Setidaknya karena kemungkinan mereka mendorong terjadinya perang saudara lebih kecil daripada para pentolan Jokower dan Prabower. Sampai detik ini, belum ada Front Pembela Indomaret ataupun Laskar Pejuang Alfamart. Dan saya hakulyakin, tak akan pernah ada. Pertentangan antara pelanggan keduanya tidak pernah sesengit gesekan antara pemakai Adidas dan Nike, peminum Pepsi dan Coca-Cola, atau pengguna Apple dan Samsung.

Hanya pada dua akun toko itu kita bisa menyandarkan perdamaian abadi negeri ini.

Ancaman perang saudara? @InfoIndomaret dan @AlfamartToko solusinya!

Apakah dua akun itu akun resmi dari Indomaret dan Alfamart? Oh, ya asli dong. Tunggu saja, sebentar lagi beberapa media akan mengabarkan twitwar keduanya sebagaimana mereka mengutip kicauan-kicauan @Riza_chalid. Percayalah, dua-duanya akun asli.

No more articles