Mencari Kenyang di Baceman Pak Sukro Tepi Kali Progo

MOJOK.COWarung makan baceman ikan ini membuktikan, tanpa promo dan papan nama, orang-orang rela mencarinya. Rasa dan suasana membuat penikmat kuliner rela datang jauh untuk menikmati menu yang disajikan.

Lokasinya terbilang jauh dari pusat Kota Yogyakarta. Letaknya di pinggiran Kabupaten Sleman, berbatasan dengan Kali Progo. Kalau melihat  google maps, jaraknya kira-kira 30 kilometer  arah barat laut dari Titik Nol Kilometer Jogja. Tepatnya di Dusun Kliran, Desa Sendangagung, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman. Tak jauh dari tepi Kali Progo.

Panduan untuk sampai di lokasi tempat makan ini adalah alamat Bader Bacem Pak Sukro di Google Maps, dan tentu saja nomor handphone di alamat tersebut. Jika mau datang ke tempat ini, pesan satu hari sebelumnya adalah cara yang harus dilakukan agar tidak datang dengan perut hampa karena menu makannya belum tentu ada.

Sehari sebelumnya saya sudah menghubungi Pak Sukro. Ia menanyakan berapa jumlah orang yang akan datang untuk makan. Itu penting baginya untuk menyiapkan menu sejumlah orang yang datang. Selain juga menyesuaikan jumlah ikan yang didapat dari Kali Progo hari itu mencukupi atau tidak.

Menyusuri jalanan di kawasan Minggir Sleman, hamparan sawah dan burung-burung kuntul yang tengah mencari makan menjadi pemandangan menawan. Datang di pagi hari, kami masih bisa menghirup segarnya udara ketika embun-embun mulai menguap.

Tak adanya papan nama membuat kami bergantung pada maps di smartphone. Warung Makan Baceman Bader Pak Sukro berada di tengah perkampungan. Kami memarkir kendaraan roda empat di rumah salah satu penduduk yang dengan ramah menunjukan gang masuk kediaman Pak Sukro.

Sambil mengenakan masker, Pak Sukro meminta kami untuk cuci tangan terlebih dulu di wastafel yang sengaja disiapkan di depan rumah. Ia meminta kami duduk lesehan di teras rumah. Di sampingnya istrinya Ibu Suprihatin (44), ikut menyapa ramah.

Pak Sukro dengan mangut beong dan baceman bader. (Apw)

Pak Sukro dengan mangut beong dan baceman bader. (Apw)

Kami sempat ngobrol dengan pasangan suami istri yang mulai menjual menu baceman ikan bader sejak 12 tahun silam. “Sebenarnya kami meneruskan usaha orang tua. Setiap hari kami memang jualan ikan baceman di pasar Sendang Agung. Jualan di rumah kalau ada orang yang pesan saja,” kata Pak Sukro menjawab penasaran kami tentang keberadaan warung makannya.

Memang tidak ada tanda-tanda sama sekali yang menunjukan bahwa yang kami datangi adalah warung makan. Bentuknya seperti rumah kebanyakan. “Memang rumah mas, kalau jualan yang rutin ya di pasar,” kata Suprihatin.

Selama masa pandemi, diakui Suprihatin jumlah ikan yang dijualnya di pasar berkurang jauh. Saat ini setiap hari ia rata-rata menghabiskan antara 4-6 kilogram baceman ikan bader.

“Sekarang kalau jualan di pasar, sengaja nggak bawa banyak. Kalau habis saya tinggal telepon bapak untuk goreng lagi terus di bawa ke pasar,”kata Suprihatin yang datang ke pasar sekitar pukul 06.00 dan pulang sekitar pukul 10.00 WIB.

Ia mengaku sudah memiliki langganan pembeli baceman ikan-ikan dari Kali Progo, sehingga ia tak khawatir dagangannya ngak laku. Bahan baku ikan-ikan itu ia dapatkan dari para pemancing atau orang yang menjala ikan di Kali Progo. Baru kalau tidak ada pasokan ia ‘nyegat’ penjual ikan dari Wonogiri yang memasok kebutuhan ikan sungai ke kawasan Borobudur.

Tak enak dengan kami yang sangat penasaran dengan menu yang akan disajikan, Pak Sukro dan Ibu Suprihati pergi ke dapur dan membawa masakan mereka yang masih dalam kondisi hangat. “Setelah muncul di Youtube Pak Butet, banyak yang ingin datang ke tempat kami. Terpaksa kami tolak karena tempatnya belum cukup. Sekarang ini sudah kami perbaiki sehingga cukup kalau ada yang datang,” kata Pak Sukro yang melayani kami bersama istrinya, Suprihatin (44) Jumat (3/2/2021).

Kami cukup kaget karena selain bader bacem ada satu jenis ikan yang saya tahu tekstur dagignya istimewa. “Ini kebetulan ada mangut beong,  kebetulan pas ada,” kata Pak Sukro.

Ikan beong adalah sejenis ikan yang mirip ikan lele. Ikan ini endemik Sungai Progo. Keistimewaan ikan ini ada pada tekstur dagingnya. “Lembut dan gurih,” kata Riyo Wicaksono (23), mahasiswa Universitas Atmajaya Yogyakarta yang datang ke tempat Pak Sukro bersama keluarganya.

Menu mangut beong Pak Sukro. (Apw)

Menu mangut beong Pak Sukro. (Apw)

Di depan kami selain mangut beong atau bader ada oseng daun papaya dengan ikan teri dan sambel tomat. Saya mengambil sedikit daging beong, kemudian meletakannya pada nasi yang masih mengeluarkan uap karena masih panas. Di atas nasi dan daging itu, saya letakan sayur dan sambal kemudian saya masukan ke mulut.

Sensasi daging yang lembut dan rasa gurih itu pas dengan sambal dan osen daun pepaya. “Ini kenapa dagingnya lembut banget,” kata Arum Utari (23), mahasiswa UIN Kalijaga yang baru pertamakalinya menyantap ikan beong.

Pak Sukro mengatakan bahwa menu utama di tempatnya adalah ikan bader karena jenis ikan ini relatif mudah mendapatkannya. Sedang ikan beong cukup sulit dicari. Teksturnya memang lembut tanpa duri. “Ada lagi sidat, cuma sudah sangat sulit, kalaupun ada harganya dari sana sudah mahal sehingga saya nggak berani jual,” kata Pak Sukro.

Usaha warung makan yang bertempat di rumah menurut Pak Sukro berawal dari seorang pemancing yang kesasar. Pak Sukro menyebut nama pemancing tersebut adalah Pak Bin, pemilik perusahaan yang memproduksi alat-alat pertanian di Yogyakarta.

“Saat itu ada pemancing yang kesasar, kemudian saya antarkan ke Kali Progo. Beliau tanya, bisa nggak ikan hasil mancingnya sekalian dimasakan,” kata Pak Sukro. Ia kemudian membawa pulang ikan dari pemancing tersebut untuk dimasak di rumah. Ternyata dari sisi rasa cocok. Setelah itu pemancing tersebut bersama keluarganya kerap ke rumah Pak Sukro untuk makan menu ikan bader baceman.

“Mungkin ada 10 tahun yang lalu ya, Pak Butet itu jadi bintang iklannya produk traktor milik Pak Bin. Sama Pak Bin, dibawa ke sini akhirnya ketagihan,” kata Pak Sukro. Dari situlah promo dari mulut ke mulut kemudian menyebar, ada sajian menu baceman ikan bader yang disajikan di rumah penduduk.

Baceman ikan bader menurut Suprihatin sebenarnya dibuat dengan bumbu yang tidak berbeda ketika membuat baceman tahu atau tempe. “Dulu ikannya belum dipresto, kalau sekarang sudah dipresto, sehingga semua bagian ikan bader bisa dimakan,” ujar Suprihatin.

Harga menu di tempat Pak Sukro relatif terjangkau. Sebagai gambaran, kami berempat menghabiskan satu ekor ikan beong ukuran sedang, empat ekor ikan bader ukuran cukup besar, empat teh hangat, nasi sebakul, sayur  daun pepaya serta tambahan setengah kilogram baceman ikan bader untuk dibawa pulang. Kami merogoh kocek sekitar Rp 180 ribu.

Nafsu makan kami yang terpuaskan serta perut kami yang kenyang, tak rugi rasanya menempuh jarak yang jauh untuk menikmati lezatnya baceman bader dan mangut beong Pak Sukro.

BACA JUGA : Memancing Ikan di Sungai Itu Soal Cara Bertahan Hidup, Bukan Melatih Kesabaran dan tulisan lainnya dari Agung Purwandono