MOJOK.CO Ini mungkin bukan motivasi yang paling ingin kamu dengar karena, yah, bagaimanapun, gagal SBMPTN itu tetaplah sebuah kegagalan.

Pengumuman SBMPTN telah dibuka. Berturut-turut, sejak hasilnya resmi diumumkan, ada banyak gembira yang terlihat di media sosial—screenshot nama dan jurusan kuliah yang berhasil didapatkan. Sorak sorai komentar selamat tumpah ruah.

Tapi di sisi lain, ada banyak emoji sedih yang betebaran. Seperti orang-orang yang berhasil, nggak sedikit juga orang-orang yang gagal melihat namanya terdaftar sebagai calon mahasiswa di universitas incaran. Di kelompok ini, jelas, pilu yang menyebar—sekilas mengingatkan kita pada perasaan patah hati gara-gara gebetan tiba-tiba menghilang dan jadian sama orang lain padahal deketnya sama kita bertahun-tahun—kan nyebelin, dasar buaya!!!!1!!!!!11!!!!

Eh, maaf, maaf, saya jadi emosi. Ehm.

Demi membangkitkan hati dan semangat mereka-mereka yang gagal SBMPTN, kalimat motivasi bahkan thread di Twitter pun bermunculan. Rata-rata isinya adalah cerita yang meromantisisasi (iya, yang benar itu “meromantisisasi”, bukan “meromantisasi”!) perjuangan.

Beberapa motivasi dimulai dengan ungkapan semacam, “Gagal SBMPTN itu nggak apa-apa karena kamu bisa daftar Gojek sekarang ini adalah awal kesuksesanmu. Lihat aku—beberapa tahun lalu aku gagal dan sekarang aku bisa sesukses ini. Hehe.”

Tenang, tenang, itu cuma contoh. Nggak usah tersinggung gitu, dong.

Gagal SBMPTN adalah Kegagalan, Mau Apa Pun Alasannya

Banyak sekali orang baik di dunia ini, termasuk mereka-mereka yang nggak lelah menyemangati kita dengan meyakinkan diri bahwa gagal SBMPTN bukanlah akhir dunia dan kita semestinya nggak sedih-sedih amat.

Tapi—hey—akui saja, bagi sebagian dari kita, gagal SBMPTN itu merupakan sesuatu yang SEDIH BANGET.

Nggak semua peserta SBMPTN adalah orang yang baru pertama kali ikut ujian. Bisa jadi, mereka adalah siswa yang sudah lulus tahun lalu dan mencoba peruntungan hanya untuk—sayangnya—gagal kembali. Ini, Saudara-saudara, bisa jadi hal yang jauuuuuh lebih bikin galau ketimbang permasalahan asmara.

Baca juga:  Problematika Mahasiswa Eksistensialis Ketika Menyusun Skripsi

Ha gimana nggak; pejuang-pejuang ini kan sudah belajar siang-malam, les  pagi-sore, belajar mati-matian, berdoa, dan salat malam tiap hari—masa masih gagal juga?!

Di zaman saya lulus SMA, ujian masuk yang digelar pertama adalah ujian masuk tiap universitas. Saya ingat betul saya mendaftar ikut UM UGM dan mengincar Jurusan Hubungan Internasional dengan keinginan stadium akhir.

UM UGM gelombang 1, saya gagal. Ujian SNMPTN (serupa dengan SBMPTN zaman sekarang), saya gagal. UM UGM gelombang 2, saya gagal lagi. Pada akhirnya, saya memang nggak masuk UGM sama sekali. Hahaha.

Kegagalan itu, bagi saya, adalah kegagalan beneran—bukan semata-mata “kegagalan sebelum kesuksesan”. Nyatanya, selepas gagal masuk UGM, saya masuk Unpad dan tetap merasakan kegagalan. Kali ini, saya gagal bertahan alias pindah jurusan.

Jelas, tidak ada kesuksesan di sana.

Jadi, menurut saya, sih, gagal SBMPTN itu wajar-wajar saja kita sebut sebagai kegagalan beneran. Gagal, yang membuatmu boleh menangis dan mengeluh sebentar.

Gagal—yang bukan semata-mata karena “kayaknya-ini-gara-gara-kita-kurang-mendekatkan-diri-pada-Tuhan”, melainkan gagal yang manusiawi.

Sangat manusiawi.

Gagal Membuatmu Belajar, Bukannya Gagal Belajar

Satu-satunya alasan kenapa saya rasa gagal SBMPTN ini penting dan perlu adalah karena kegagalan mungkin akan jadi satu-satunya cara untuk kita memahami diri sendiri. Pada kasus saya, perlu waktu cukup panjang (dan agak sia-sia sekaligus boros) untuk menemukan apa yang sebenarnya paling ingin saya lakukan.

Setelah gagal UM UGM dan SNMPTN sekaligus gagal menyelesaikan kuliah Sarjana di Unpad, saya memutuskan pindah ke universitas lain dan kembali “ke Jawa” (begitulah bagaimana teman-teman saya di Unpad merujuk pada daerah Jawa Tengah atau Yogyakarta).

Baca juga:  Mahasiswi Indonesia Diperkosa di Belanda, Polisi Kerahkan 20 Detektif

Tapi, upaya ini juga nggak mulus-mulus amat: Lagi-lagi, saya gagal di SNMPTN tahun kedua saya. Di saat yang bersamaan, saya merasakan kegagalan lain: dapat nilai E untuk mata kuliah Kimia Organik.

Percayalah, pada titik itu, saya sudah kenyang membaca ulasan soal betapa J.K. Rowling ditolak banyak penerbit sebelum akhirnya berhasil merilis Harry Potter atau betapa Jack Ma gagal masuk universitas sebanyak 10 kali. Maksud saya—yang saya rasakan saat itu cuma keheranan: kenapa saya nggak bisa dapat yang saya mau dengan mudah dan malah disuguhi petuah soal J.K. Rowling???

Tapi, satu hal yang saya syukuri dari kegagalan (dan, tentu saja, kesialan) itu adalah betapa saya jadi tahu bahwa saya ternyata cukup kuat untuk menempuh segala sesuatunya. Lagi pula, kalau dipikir-pikir, teman-teman dan keluarga jelas menjadi kekuatan yang luar biasa. Waktu kita jatuh dan terpuruk karena terlalu sedih, mereka-lah yang bakal duduk dan memegang tangan kita, meyakinkan bahwa sesuatu yang baik sedang menunggu kita di luar sana.

Pilihannya ada pada kita: percaya atau tidak. Berjuang lagi atau mencari jalan lain. Maju atau putar arah.

Saya, waktu itu, memutuskan maju dan ikut ujian masuk universitas lain. Beruntung, saya diterima. Namun begitu, permasalahan hidup masih banyak: saya bisa gagal di beberapa hal selagi kamu gagal SBMPTN (lagi).

Tapi, yah, kadang kita perlu memahami satu hal: hidup memang terbentuk dari banyak kegagalan.



Tirto.ID
Loading...

No more articles