MOJOK.CO FYI, jumlah orang jahat di dunia ini memang tinggi, mylov. Jangankan orang lain, lah wong diri kita sendiri bisa jadi penjahat juga, kok.

Bicara soal orang jahat, yang terlintas di kepala saya pertama kali adalah tokoh Mister Black dalam serial Saras 008 dan Lord Voldemort dalam Harry Potter. 

Kedua tokoh ini bukan favorit saya, tapi, seiring berjalannya waktu, saya jadi bertanya-tanya: saya tidak pernah bertemu keduanya di kehidupan nyata, tapi kenapa selalu ada saja orang jahat yang membuat saya teringat pada kebengisan mereka?

Sebelum dibahas, saya mau bercerita kisah masa kecil saya dulu.

Bapak membeli mesin cuci untuk Ibu saat saya berusia sekitar 10 tahunan. Katanya, Ibu pasti lelah karena harus mengurus rumah, sementara ia juga bekerja di kantor kecamatan. Setelah dibalas ucapan terima kasih yang hangat, aktivitas mencuci pakaian dengan mesin cuci pun dimulai setiap pagi.

Kalau mesinnya bekerja, suara “deeet-deeet-deeet” bakal terdengar, sampai suara “ctek!” muncul dan menandakan kabelnya sudah bisa dicabut. Kata Ibu, selama suara “deeet-deeet-deeet” tadi masih ada, kita tidak boleh membuka tutupnya—begitu yang tertulis di buku manual.

Tapi suatu hari, saya tidak tahan. Tanpa basa-basi, tangan saya maju saat Ibu tidak melihat. Saya mengangkat tutup mesin cuci sampai terbuka. Mendadak, pusaran air di dalamnya berhenti. Proses cucinya langsung selesai begitu saja.

Ibu datang beberapa detik kemudian. Tangan saya langsung mencari pegangan yang lain demi menghindari omelan soal “kan-sudah-ibu-bilang”. Mesin cuci tertutup sempurna lagi.

“Kok mati? Kamu buka tadi, ya?”

“Nggak.”

Ibu tahu saya tidak bicara jujur—saya berani bertaruh. Tapi, yang ingin saya garis bawahi adalah: saya berbohong, seperti orang jahat.

Ibu, bapak, bahkan kakak saya, tidak mengajari saya berbohong. Saya rasa, kita bisa sepakat bahwa anak-anak cenderung dididik untuk menjadi orang baik, dan berbohong jelas bukan salah satu kriterianya. Tapi, kita tetap melakukannya (hah, kita???), sebagaimana kita membunuh serangga yang mengganggu atau ikut menertawakan kesialan teman saat jatuh tersandung di lapangan.

Tidak ada yang mengajari “kejahatan” ini, tapi kita (hah, kita???) melakukannya begitu saja, seolah-olah telah dilahirkan dengan kemampuan-kemampuan ini. Konon, inilah yang disebut dengan “naluri berbuat jahat”.

Dan itu—Saudara-saudara—adalah alasan pertama kenapa sebenarnya ada banyak orang jahat di dunia ini, termasuk diri kita sendiri (hah, kita???).

*JENG JENG JENG*

Alasan selanjutnya kenapa saya bilang ada banyak orang jahat di dunia ini adalah karena ada hukum yang berlaku di antara kita semua. Hah, kit—ah udahlah, langsung aja.

Peraturan dan pengawas, termasuk peringatan untuk tidak membuka tutup mesin cuci sembarangan di buku manual, adalah bukti bahwa sesungguhnya manusia menyadari betul bahwa dirinya—atau barang-barang miliknya—perlu dilindungi dari tindakan semena-mena yang dilakukan oleh manusia lain.

Artinya, kita semua sepakat bahwa tindak mengerikan dari orang jahat bisa terjadi kapan saja sehingga sebuah aturan diperlukan demi keamanan.

Tenang, tenang, jangan protes dulu. Saya paham betul kamu tentu tidak ingin dikenal sebagai orang jahat. Malah, banyak dari kita merasa lelah karena bersikap terlalu baik dan sepakat pada pernyataan yang bilang bahwa menjadi orang baik itu sesungguhnya menyedihkan karena kita bisa saja dimanfaatkan dan dirugikan terus-terusan, apalagi kalau diikuti dengan sikap nggak enakan.

Tapi, tanpa mengurangi rasa hormat, manusia memang cenderung merasa dirinya jauh lebih baik daripada orang lain. Saat saya menyebut “lelah menjadi orang baik”, misalnya, tanpa sadar saya pun merasa bahwa diri saya adalah pihak protagonis, sementara orang lain menjelma sebagai tokoh antagonis.

Padahal, bisa saja, saya sesungguhnya juga menyakiti hati dan menjadi penjahat bagi orang lain.

Lagi pula, mau sebaik apa pun seseorang yang kamu kenal, tidak ada jaminan bahwa ia akan tetap bersikap baik. Jadi, kamu-kamu yang hingga detik ini hobi sekali bertanya-tanya, “KOK DIA TEGA NGELAKUIN INI KE AKU, SIH???”, lebih baik mulai menyiapkan hati membaca bagian selanjutnya.

Bahwa sesungguhnya, kemungkinan besar manusia memiliki gen Halilintar pejuang atau disebut sebagai “warrior gene”. Sifat alami ini bakal mendorong masing-masing dari kita untuk bersikap agresif dan kasar pada suatu tekanan tertentu.

Jadi, yaaa, jawaban dari pertanyaan “KOK DIA TEGA NGELAKUIN INI KE AKU, SIH???” itu cuma satu:

…karena dia bisa.

Dan dia memilih untuk melakukan itu padamu—menjadi orang jahat buatmu.

Sampai sini paham, ya, Maemunah? Bambang?



Loading...



No more articles