Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Move On dari Rasa Takut Naik Pesawat Seperti Sembuh dari Patah Hati

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
8 November 2018
A A
penerbangan
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Mengatasi rasa takut naik pesawat ternyata mirip-mirip pula langkahnya dengan menghadapi sakit hati akibat putus cinta. Wah, apa saja, ya?

Berita kecelakaan pesawat Lion Air JT610 masih menyisakan luka dan duka mendalam bagi rakyat Indonesia. Pencarian korban yang dilakukan Basarnas serta penemuan-penemuan potongan mesin pesawat hingga kini terus dikawal keberlangsungannya.

Kejadian ini pun mulai berdampak. Selain tangis dan kehilangan, beberapa orang mulai merasakan teror yang lain: mereka merasa takut naik pesawat, takut jika tiba-tiba mengalami kecelakaan serupa.

“Ibu takut naik pesawat,” kata ibu teman saya melalui telepon yang di-loud speaker, suatu hari. Padahal, ibu teman saya ini, dalam 3 hari ke depan harus terbang ke Singapura. Sementara itu, seperti yang kita ketahui, opsi ‘terbang’ tentu hanya merujuk ke pesawat terbang, bukan baling-baling bambunya Doraemon.

Pertanyaannya, apakah takut naik pesawat hanya muncul sejak berita kecelakaan beredar? Tentu tidak—ibu saya sendiri selalu meremas tangan saya ketika pesawat yang kami tumpangi mulai take off. Apakah saya langsung menenangkan ibu saya? Nggak juga. Di saat yang bersamaan, justru saya yang berteriak kesakitan—ha wong beliau ngeremesnya pakai kuku juga. Sakit, Ma, sakit! :(((

Permasalahan fobia atau rasa takut naik pesawat ini nyatanya memang dialami oleh banyak orang. Berita kecelakaan yang kita dengar pun menjadi faktor yang kian meningkatkan rasa takut ini, persis kayak kita kalau lagi cemburu tapi diem aja kayak patung nggak mau ngomong.

Terus gimana dong cara mengatasi rasa takut naik pesawat??? Apakah mungkin seseorang selamanya merasa takut??? Bisa nggak, sih, kita move on dari rasa takut ini, seperti… seperti… seperti saat kita baru saja putus cinta???

Walaupun memiliki kadar dan bidang ketakutan yang berbeda, menghadapi fobia menaiki pesawat ternyata mirip-mirip pula langkahnya dengan menghadapi sakit hati akibat putus cinta. Mari kita cek sama-sama, mylov~

Pertama, kita harus mengakui perasaan takut naik pesawat ini memang tumbuh di dalam sanubari.

Ya, Saudara-saudara, langkah pertama yang paling dasar adalah menghindari sikap denial. Kalau memang takut, bilang takut. Kalau deg-degan, bilang deg-degan. Kalau suka, ya bilang suka, nggak usah tarik ulur nggak jelas.

Hal ini sama persis dengan langkah utama dalam menghadapi patah hati: kita harus mengakui bahwa hubungan kita telah berakhir pahit, baik gara-gara dia selingkuh (jahat banget emang tukang selingkuh, tuh!) maupun kenyataan bahwa kalian memang tak lagi sejalan. Sedikit menyedihkan dan memalukan, tapi memang benar adanya, kan?

Terus, harus bilang kepada siapakah kita soal ketakutan menaiki pesawat? Mudah saja, Beb, kamu hanya perlu bilang kepada pramugari jika ketakutanmu terus berlanjut dan mengganggu ketenanganmu. Percayalah, pramugari-pramugari ini punya kiat tersendiri untuk menenangkanmu, persis kayak kamu yang curhat ke sahabatmu soal (mantan) pacarmu yang jahatnya udah level advanced.

Kedua, jangan terlalu banyak mengonsumsi berita kecelakaan pesawat, apalagi hingga sangat detail.

Menurut penelitian, ‘memborbardir’ otak dengan berita kecelakaan justru dapat menciptakan keterikatan emosi sehingga dapat memicu rasa takut. Hal ini persis dengan kecurigaan berlebihan pada (mantan) pacar: jangan-jangan kita diputusin karena dia udah jadian sama yang lain? Jangan-jangan nanti kita bakal susah bahagia kalau nggak sama dia? Jangan-jangan dia memang semudah itu melupakan kita? Jangan-jangan nanti kita nggak akan jatuh cinta lagi sama orang lain?

Iklan

Hadeeeeh! Kalau kebanyakan mikir begitu, situ kapan mau beneran move on-nya??? Kapan juga situ bakal berani lekas menaiki pesawat???

Akan lebih bijaksana jika kita menghapus pikiran-pikiran jelek itu dengan tenang, satu per satu, dan terus memberi afirmasi positif pada diri sendiri.

Halah ngomong doang sih emang gampang! :(((

Ketiga, mengingat-ingat fakta soal kematian dan siap mengantisipasi kemungkinan terburuk.

Kalau perkara kecelakaan pesawat memang sangat mengganggu dan menakutkan, tak ada salahnya jika kita mencari informasi lengkap soal penyebab kematian tertinggi di dunia. Faktanya, sebuah sumber menyebutkan bahwa penyebab kematian akibat jatuh di kamar mandi ternyata lebih besar peluangnya daripada tewas karena kecelakaan pesawat terbang. Selain itu, penyebab kematian terbesar di dunia adalah penyakit kanker dan diabetes, bukan kecelakaan pesawat.

Cobalah untuk berpikir positif, meski kewaspadaan itu harus selalu ada. Perhatikan baik-baik saat pramugari menunjukkan cara penyelamatan diri dengan alat-alat yang tersedia. Sikap antisipasi ini harus ditanamkan, persis seperti kita menghadapi patah hati yang sakitnya nggerus terus-menerus: berhentilah menggantungkan harapan terlalu tinggi pada dia dan yakinlah kamu bisa bahagia tanpa dia yang cuma bisa memberi luka~

Keempat, atasilah rasa takut naik pesawat dengan cara tidak naik pesawat, sebagaimana kita menghindari patah hati dengan cara…

…tidak pacaran, tentu saja. Plus, tidak kebanyakan gombal, tidak tebar-tebar harapan palsu, dan tidak selingkuh seenaknya—apalagi dengan orang yang tega merobek-robek hatimu sampai berdarah perih sekali.

Terakhir diperbarui pada 8 November 2018 oleh

Tags: KecelakaanLion Air JT610Patah Hatipramugaritakut naik pesawat
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

Ketika Video Korban Kecelakaan Mengubah Kematian Menjadi Tontonan MOJOK.CO
Esai

Ketika Video Korban Kecelakaan Mengubah Kematian Menjadi Tontonan

24 Juli 2026
Catatan Dokter tentang Jalan Lintas Sumatera: Jangan Jadikan Jalinsum Jalur Cepat Menuju Liang Kubur MOJOK.CO
Esai

Catatan Dokter tentang Jalan Lintas Sumatera: Jangan Jadikan Jalinsum Jalur Cepat Menuju Liang Kubur

15 Juni 2026
Hidup setelah resign dan menikah. MOJOK.CO
Sehari-hari

Dihujat ‘Salah Pilih Suami’ usai Menikah karena Terlanjur Resign dari Pramugari, Kini Jadi Pedagang Kopi Keliling

3 Februari 2026
kecelakaan yang tak ditanggung BPJS Kesehatan. MOJOK.CO
Ragam

Sakit Hati pada Petugas Kesehatan, Pilih Rogoh Kocek Ratusan Ribu untuk Berobat Tanpa BPJS karena Sakitnya Sudah Tak Tahan

1 Juli 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tangan-tanga pembuat apem ya qowiyyu: alasan kue tradisional khas Jatinom, Klaten, tak lekang waktu MOJOK.CO

Tangan-tangan Pembuat Apem Ya Qowiyyu: Alasan Kue Tradisional Jatinom Klaten Tak Lekang Waktu

4 Agustus 2026
Nggak Perlu Jadi Pelari Kalcer, Slow Jogging bikin Kita Waras Mental Sambil “Niko-niko” MOJOK.CO

Nggak Perlu Jadi Pelari Kalcer, Slow Jogging bikin Kita Waras Mental Sambil “Niko-niko”

3 Agustus 2026
Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja MOJOK.CO

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja

5 Agustus 2026
burnout kerja kantoran mojok.co

Mencintai Pekerjaan tanpa Harus Menyukai Orang-Orang di Dalamnya

4 Agustus 2026
Berkaca dari Kasus Yurizal, Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya punya empati MOJOK.CO

Berkaca dari Kasus Yurizal: Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya Berempati

7 Agustus 2026
Selamat Jalan Nasirun: Kisah di Balik Sang Maestro Nggak Mau Punya HP MOJOK.CO

Selamat Jalan Nasirun: Kisah di Balik Sang Maestro Nggak Mau Punya HP

1 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.