Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Menggugat Rencana Buka Puasa All You Can Eat

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
17 Mei 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Ngapain kamu bayar 170 ribu untuk buka puasa all you can eat kalau ujung-ujungnya yang kamu makan cuma sepiring nasi putih, cumi saus tiram, dan jus jeruk?

Beberapa tahun yang lalu, kakak saya, yang kala itu merantau di Bandung, pulang kampung dan ijik-ijik mengajak kami sekeluarga untuk buka bersama di sebuah hotel. Saya keheranan karena, setahu saya, hotel itu kan untuk tempat menginap, padahal yang mau kita lakukan hanya makan saja!

“Di restorannya, lah. Lagi ada promo buka puasa all you can eat. Kamu bisa makan apa aja di sana.”

“Ooooh, kayak makan prasmanan kalau lagi kondangan gitu?”

Kakak saya mengangguk-angguk, diikuti “iya” dari orang tua dan adik saya. Kayaknya, cuma saya yang hari itu nggak setuju karena—ah, saya ceritakan nanti.

Cerita di atas muncul di kepala saya karena, di bulan Ramadan ini, promo buka puasa all you can eat kembali menjamur di mana-mana. Kemarin aja, waktu mau bukber sama seorang teman, si teman ini langsung mengirimkan daftar hotel dan restoran yang menyediakan menu buka puasa all you can eat. Buset.

Apakah kami akhirnya makan di tempat all you can eat? Tentu saja nggak—ujung-ujungnya kami ke restoran pizza dekat kosan. Lumayan, lagi ada promo 25 ribu rupiah.

Tapi—kata sebagian orang—bukankah 25 ribu rupiah ini, kalau ditambah dengan beberapa puluh rupiah lagi, bisa membuatmu makan apa pun yang kamu mau di restoran all you can eat? Kenapa nggak sekalian aja???

Permasalahannya, mylov, tidak semudah itu. Justru, restoran pizza di dekat kosan tadi menyadarkan saya bahwa makanan di restoran all you can eat itu sama sekali tidak mahal. Jelas, ini berbanding terbalik dengan anggapan umum yang meyakini bahwa makanan di sana mahal-mahal, jadi kita harus segera mengikuti promo all you can eat-nya.

Maksud saya—pasti ada, kan, seorang temanmu berkata kurang lebih: “Lumayan, loh, 100 ribu udah bisa makan apa aja. Ini kan restoran mahal!!!11!1!!!!!”

Tapi, Kak, menurut saya, yang mahal sebenarnya adalah…

…waktu yang dipakai untuk foto-foto, update status, dan boomerang Instagram Story!!!1!!!1!!!!

Gini, ya, Pembaca yang budiman. Jangankan di restoran all you can eat, lah wong di warung makan biasa aja kita dan teman-teman biasanya sibuk sama hape masing-masing, apalagi kalau di tempat yang “bagusan dikit”, yang punya menu buka puasa all you can eat???

Lantas, kamu yakin, gitu, bahwa kamu dan teman-teman nggak akan gatal untuk mengambil foto dekorasi meja atau motif taplak yang menarik, terus dikasih filter Melbourne atau Lagos di Instagram Story, untuk kemudian di-upload, lengkap dengan tulisan semacam “Buka bersama sebelum kita bisa bersama”???

Iklan

Please, deh, itu all you can eat atau all you can share???

Saya adalah tipe orang yang nggak terlalu nyaman kalau harus makan banyak meskipun kebuncitan perut tetap menghantui. Selain saya, ada juga beberapa orang yang lebih suka menunjukkan sisi dirinya yang makan dalam jumlah sedikit, misalnya untuk jaga image di depan gebetan atau simply karena perutnya nggak kuat aja.

Nah, golongan-golongan inilah yang,menurut saya, sebenarnya nggak perlu-perlu amat ikutan heboh ke dalam pusaran tren buka bareng di restoran all you can eat.

Maksud saya, ya ngapain kamu bayar 170 ribu untuk buka puasa all you can eat kalau ujung-ujungnya yang kamu makan cuma sepiring nasi putih, cumi saus tiram, dan jus jeruk, Malih???

Alasan inilah yang sesungguhnya cukup mengganggu saya saat kakak mengajak kami sekeluarga bukber di hotel dengan menu all you can eat. Sebagai orang yang pelit penuh perhitungan, tentu saya nggak suka, dong, membayangkan diri saya yang paling-paling cuma bakal makan nasi goreng spesial seafood dan es teh, padahal bapak sudah membayar harga full untuk saya.

Untung bagi resto hotelnya, tapi rugi bagi saya—apalagi kita nggak boleh ngebungkus makanannya ke rumah!

Jadi, yaaa, mumpung bulan Ramadan masih berjalan, saran saya sih cuma satu: sayangi isi dompetmu. Buat apa, sih, ngejar tekanan sosial dan merasa harus banget bukber di tempat bermenu all you can eat, kalau sebenarnya kita nggak bisa makan lebih banyak dari semangkuk mi rebus yang dilengkapi telur dan sayur, plus teh anget?

Buat apa, sih, ngeluarin uang yang kelihatannya “murah”, padahal kita tahu betul bahwa apa yang menjadikannya mahal adalah kebersamaan yang palsu?

Yah, kalau saya, sih, kayaknya memang nggak akan cocok makan di tempat buka puasa all you can eat. Lah gimana; makan nachos di kedai kopi pinggir jalan aja suka nggak habis!

Dengan kata lain, memang, sebagian dari kita mungkin butuh makanan dalam jumlah besar dan bebas. Namun sepertinya, sebagian lainnya cuma butuh seseorang untuk membantu menemaninya makan. Eaaa~

Terakhir diperbarui pada 12 Agustus 2021 oleh

Tags: all you can eatbuka puasabukberpromorestoran
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

Takjil bingka dari Kalimantan
Catatan

Seloyang Bingka di Jogja: Takjil dari Kalimantan yang Menahan Saya agar Tetap “Hidup” di Perantauan

23 Februari 2026
Bukber, ASN, kantor.MOJOK.CO
Sehari-hari

Ikut Bukber Kantor di Acara ASN Itu Bikin Muak: Isinya Orang Cringe dan Seksis yang Bikin Risih, tapi “Haram” Buat Ditolak

22 Februari 2026
Kapok dan muak buka bersama (bukber) di restoran atau tempat makan bareng orang kaya. Cerita pelayan iga bakar Jogja jadi korban arogansi MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

20 Februari 2026
Buka puasa di Blok M saat bulan Ramadan
Ragam

Blok M Jadi Tempat Buka Puasa yang Dianggap Keren, tapi Terancam Gagal Puasa Keesokan Hari

16 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Yamaha Sigma motor kelas bawah tapi paling bisa diandalkan MOJOK.CO

Yamaha Sigma adalah Motor pertama di Jogja hasil lungsuran dari bapak dan jadi saksi momen-momen paling serius dalam hidup saya

28 Juli 2026
Ratusan anak di Sidoarjo terpapar HIV AIDS dan pentingnya periksa kesehatan sebelum menikah MOJOK.CO

Pentingnya Tes Kesehatan sebelum Menikah, Bukan untuk Ragukan Pasangan tapi Cegah HIV/AIDS seperti Kasus Ratusan Anak di Sidoarjo

29 Juli 2026
MBG untuk sahur dan berbuka di bulan Ramadan

Putusan MK Perlu Diapresiasi, tapi Anggaran MBG Harus Tetap Keluar dari Dana Pendidikan Mulai 2027

30 Juli 2026
Sombongkan IPK dan gelar sarjana cumlaude dari PTS Jogja. Optimis pikat HRD perusahaan incaran tapi ujungnya lontang-lantung bawa lamaran pekerjaan MOJOK.CO

Dulu “Sombongkan” IPK dan Gelar Sarjana Cumlaude, Kini Malu Lontang-lantung Cari Kerja karena Tren HRD Tak Terpikat IPK

29 Juli 2026
Festival Transmigrasi 2026 Fun Run 6K: Event lari yang tawarkan sensasi berbeda di Kaliurang Sleman MOJOK.CO

Transmigrasi Festival 2026 Fun Run 6K: Tawarkan Sensasi Lari di Kaliurang yang Beda dari Event Lari Perkotaan

27 Juli 2026
Akademisi UGM kritik RUU Sisdiknas karena belum menjawab tantangan pendidikan nasional di masa mendatang MOJOK.CO

RUU Sisdiknas Dinilai Belum Jawab Tantangan Pendidikan hingga Menyoal Relevansi Perguruan Tinggi Kedinasan

28 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.