MOJOK.CO Ngapain kamu bayar 170 ribu untuk buka puasa all you can eat kalau ujung-ujungnya yang kamu makan cuma sepiring nasi putih, cumi saus tiram, dan jus jeruk?

Beberapa tahun yang lalu, kakak saya, yang kala itu merantau di Bandung, pulang kampung dan ijik-ijik mengajak kami sekeluarga untuk buka bersama di sebuah hotel. Saya keheranan karena, setahu saya, hotel itu kan untuk tempat menginap, padahal yang mau kita lakukan hanya makan saja!

“Di restorannya, lah. Lagi ada promo buka puasa all you can eat. Kamu bisa makan apa aja di sana.”

“Ooooh, kayak makan prasmanan kalau lagi kondangan gitu?”

Kakak saya mengangguk-angguk, diikuti “iya” dari orang tua dan adik saya. Kayaknya, cuma saya yang hari itu nggak setuju karena—ah, saya ceritakan nanti.

Cerita di atas muncul di kepala saya karena, di bulan Ramadan ini, promo buka puasa all you can eat kembali menjamur di mana-mana. Kemarin aja, waktu mau bukber sama seorang teman, si teman ini langsung mengirimkan daftar hotel dan restoran yang menyediakan menu buka puasa all you can eat. Buset.

Apakah kami akhirnya makan di tempat all you can eat? Tentu saja nggak—ujung-ujungnya kami ke restoran pizza dekat kosan. Lumayan, lagi ada promo 25 ribu rupiah.

Tapi—kata sebagian orang—bukankah 25 ribu rupiah ini, kalau ditambah dengan beberapa puluh rupiah lagi, bisa membuatmu makan apa pun yang kamu mau di restoran all you can eat? Kenapa nggak sekalian aja???

Permasalahannya, mylov, tidak semudah itu. Justru, restoran pizza di dekat kosan tadi menyadarkan saya bahwa makanan di restoran all you can eat itu sama sekali tidak mahal. Jelas, ini berbanding terbalik dengan anggapan umum yang meyakini bahwa makanan di sana mahal-mahal, jadi kita harus segera mengikuti promo all you can eat-nya.

Baca juga:  Dilema Buka Bersama Puasa Ramadan Mahasiswa Burjois vs Mahasiswa Borjuis

Maksud saya—pasti ada, kan, seorang temanmu berkata kurang lebih: “Lumayan, loh, 100 ribu udah bisa makan apa aja. Ini kan restoran mahal!!!11!1!!!!!”

Tapi, Kak, menurut saya, yang mahal sebenarnya adalah…

…waktu yang dipakai untuk foto-foto, update status, dan boomerang Instagram Story!!!1!!!1!!!!

Gini, ya, Pembaca yang budiman. Jangankan di restoran all you can eat, lah wong di warung makan biasa aja kita dan teman-teman biasanya sibuk sama hape masing-masing, apalagi kalau di tempat yang “bagusan dikit”, yang punya menu buka puasa all you can eat???

Lantas, kamu yakin, gitu, bahwa kamu dan teman-teman nggak akan gatal untuk mengambil foto dekorasi meja atau motif taplak yang menarik, terus dikasih filter Melbourne atau Lagos di Instagram Story, untuk kemudian di-upload, lengkap dengan tulisan semacam “Buka bersama sebelum kita bisa bersama”???

Please, deh, itu all you can eat atau all you can share???

Saya adalah tipe orang yang nggak terlalu nyaman kalau harus makan banyak meskipun kebuncitan perut tetap menghantui. Selain saya, ada juga beberapa orang yang lebih suka menunjukkan sisi dirinya yang makan dalam jumlah sedikit, misalnya untuk jaga image di depan gebetan atau simply karena perutnya nggak kuat aja.

Nah, golongan-golongan inilah yang,menurut saya, sebenarnya nggak perlu-perlu amat ikutan heboh ke dalam pusaran tren buka bareng di restoran all you can eat.

Maksud saya, ya ngapain kamu bayar 170 ribu untuk buka puasa all you can eat kalau ujung-ujungnya yang kamu makan cuma sepiring nasi putih, cumi saus tiram, dan jus jeruk, Malih???

Baca juga:  Panduan Bikin Batal Puasa Orang Sekampung

Alasan inilah yang sesungguhnya cukup mengganggu saya saat kakak mengajak kami sekeluarga bukber di hotel dengan menu all you can eat. Sebagai orang yang pelit penuh perhitungan, tentu saya nggak suka, dong, membayangkan diri saya yang paling-paling cuma bakal makan nasi goreng spesial seafood dan es teh, padahal bapak sudah membayar harga full untuk saya.

Untung bagi resto hotelnya, tapi rugi bagi saya—apalagi kita nggak boleh ngebungkus makanannya ke rumah!

Jadi, yaaa, mumpung bulan Ramadan masih berjalan, saran saya sih cuma satu: sayangi isi dompetmu. Buat apa, sih, ngejar tekanan sosial dan merasa harus banget bukber di tempat bermenu all you can eat, kalau sebenarnya kita nggak bisa makan lebih banyak dari semangkuk mi rebus yang dilengkapi telur dan sayur, plus teh anget?

Buat apa, sih, ngeluarin uang yang kelihatannya “murah”, padahal kita tahu betul bahwa apa yang menjadikannya mahal adalah kebersamaan yang palsu?

Yah, kalau saya, sih, kayaknya memang nggak akan cocok makan di tempat buka puasa all you can eat. Lah gimana; makan nachos di kedai kopi pinggir jalan aja suka nggak habis!

Dengan kata lain, memang, sebagian dari kita mungkin butuh makanan dalam jumlah besar dan bebas. Namun sepertinya, sebagian lainnya cuma butuh seseorang untuk membantu menemaninya makan. Eaaa~