• 52
    Shares

MOJOK.CO Belanja bikin bahagia, katanya. Padahal, aktivitas belanja ke sana dan ke sini itu cuma upayamu untuk mencari bahagia, soalnya kamu sendiri lagi nggak bahagia.

Saya pernah putus cinta—empat kali. Selain bengong dan nangis, hal yang kerap saya lakukan secara otomatis setelah hati saya kroak nggak karuan adalah menghambur-hamburkan uang.

Ya, ya, kamu nggak salah baca. Saya pernah menghabiskan uang hasil menabung bersama dengan si mantan untuk mentraktir makan teman-teman saya yang sejak hari pertama selalu meluk-meluk saya dan nggak protes saya nangis nggak berhenti-henti. Di kesempatan lain, saya pernah secara impulsif datang ke toko baju dan beli tiga potong atasan sekaligus, plus sebuah catokan rambut. Di lain waktu, saya sengaja membeli jajan banyak sekali, padahal saya tahu makanan-makanan itu nggak akan mungkin saya habiskan sendirian karena—orang-orang terdekat saya tahu betul—saya jauh lebih suka nonton video masak di Instagram daripada makan beneran.

Kian sakit rasa yang muncul setelah patah hati, apalagi kalau penyebabnya bikin kepercayaan diri makin rendah, kebiasaan belanja dan menghambur-hamburkan uang ini pun kian menggila. Saya pernah pergi ke salon dan menghabiskan uang cukup banyak—sesuatu yang nggak pernah saya lakukan dalam hidup sebelumnya—lantas pergi seharian pakai taksi online alih-alih bawa motor sendiri, beli kalung dan berusaha pakai anting, beli celana baru alih-alih nunggu celana yang lama untuk kering setelah dicuci, dan lain sebagainya.

Tapi, yah, mau gimana lagi: belanja bikin bahagia, kan? Iya, kan???

Usut punya usut, salah satu alasan seseorang bisa se-hedon itu dalam berbelanja adalah alasan yang mulanya sama sekali nggak saya pikirkan: bukan karena belanja bikin bahagia, tapi justru karena belanja menjadi pelampiasan bagi seseorang yang merasa hampa dalam hidupnya.

[!!!!!1!!!!!11!!!!]

Pertama kali saya mengetahui teori ini, saya tertampar dan kesal setengah mati. Maksud saya—memangnya gaya hidup ini muncul gara-gara kesedihan akibat laki-laki yang datang dan menghilang sesuka hati itu di hidup saya, hah??? Memangnya saya se-desperate itu sampai harus buang-buang uang sambil nungguin dia nyapa-nyapa saya lagi, gitu??? Hih!

Baca juga:  Mengapa Nge-Block Mantan Perlu Dilakukan dan Ini Bukanlah Hal yang Childish

Tapi semakin ditelaah, saya semakin ngangguk-ngangguk sendiri.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa aktivitas belanja memang memunculkan kenyamanan karena menjadi media penyalur rasa cemas yang cepat. Kegiatan ini bisa digunakan untuk membunuh waktu, melegakan stres, hingga cara anti-bosan yang efektif dan efisien. Ngaku aja, deh, daripada meratapi mantan yang mbuh kepriwe karepe itu, bukankah belanja barang-barang lucu di Miniso bisa jauh lebih menyenangkan, girls???

Tapi, masih menurut penelitian tadi, kegembiraan yang muncul dalam aktivitas belanja ini bakal memudar kurang dari setengah hari. Ibarat lagi kobam, setelah bayar di kasir atau transfer lewat ATM, kita bakal merasa teler saja, bukan berasa terbang kegirangan~

Lama-kelamaan, perasaan bahagia yang muncul pun kian terasa semu. Alih-alih senang dan bahagia lahir batin habis belanja laptop, meja belajar, mobil, dan robot impor dari Jepang, kita mungkin bakal merasa bersalah dan merutuki keputusan impulsif yang bikin dompet kering mendadak. Sebagian dari kita bahkan memutuskan untuk menyembunyikan barang belanjaan karena takut dikatain boros padahal kan kita harusnya cuma takut sama Tuhan.

Intinya memang cuma satu: berbelanja nggak lantas membuat kita bahagia. Ia cuma menjadi proses diri kita untuk mencari bahagia.

Iya, iya, kamu nggak salah baca lagi: belanja ke sana dan ke sini adalah upaya nyatamu untuk menjadi bahagia, soalnya kamu sendiri lagi nggak bahagia.

Ternyata, hipotesis yang saya lempar di atas diamini banyak pihak. Berbelanja cenderung dilakukan oleh seseorang yang merasa hampa karena ada sesuatu yang tak lengkap dalam hidupnya. Untuk mengisi kekosongan tersebut, orang ini bakal belanja dan membeli banyak barang yang dia sendiri sesungguhnya tahu bahwa dia nggak butuh-butuh amat, tapi ya bodo amat, lah, yang penting belanja.

Saudara-saudara sekalian, orang ini adalah kita semua.

Kekosongan dan kehampaan yang kita rasakan sampai-sampai tangan kita nggak bisa berhenti ngeluarin uang dari dompet ini biasanya disebabkan oleh banyak pemikiran, misalnya…

kenapa sih orang tua kita selalu sibuk sendiri? Kenapa kita selalu kalah kalau dibandingkan dengan kakak atau adik? Kenapa orang-orang tidak menghargai apa yang sudah kita lakukan? Kenapa kita diselingkuhi begitu saja? Kenapa ada orang yang tega meninggalkan kita tanpa alasan yang masuk akal, padahal kita berusaha mati-matian menjaganya selama ini??? KENAPA, HAH, KENAPA???

Eh, maaf, maaf. Yuk, lanjut lagi.

Baca juga:  Saran Bodoh yang Bisa Kamu Berikan Kepada Orang Putus Cinta

Nah, berkat kehampaan-kehampaan yang bisa datang dari berbagai masalah kehidupan inilah, kita lantas menjadi kayak orang gila kalau lagi megang uang di lingkungan yang mendukung kegiatan belanja. Awalnya kita merasa baik-baik saja karena menganut prinsip “belanja bikin bahagia”. Namun, lama-kelamaan, seiring kian menipisnya uang di dompet, otak kita pun bakal mengingatkan kita kembali: rasa hampa dan kesepian itu akan selalu kembali padamu. Tanpa ampun.

Terus, kita harus gimana?

Tahu Voldemort di serial Harry Potter, kan? JK Rowling menyebutkan bahwa satu-satunya hal yang tidak dimiliki si monster pesek ini dalam hidupnya cuma satu: cinta.

Ketiadaan cinta dalam hidup Voldemort membuat hidupnya hampa dan memilih untuk ngebunuh-bunuhin orang sesuka hatinya. Ia bahkan fine-fine saja membuat pengikutnya sendiri menumbalkan tangannya, anaknya, atau bahkan nyawanya. Tapi, apakah Voldemort bahagia?

Nggak tahu, ya, soalnya kita nggak bisa lihat update-an Instagram Story-nya, tapi kayaknya sih nggak. Doi mengejar Harry Potter terus menerus dengan berbagai cara, mengira itu adalah satu-satunya jalan untuk dirinya mencapai keabadian—hal yang ia yakini sebagai puncak kebahagiaan.

Padahal, kalau kita mau benar-benar sadari, sumber kebahagiaan itu datangnya bukan dari orang lain atau benda lain—bukan dari baju baru, hape baru, pacar, mantan pacar, sahabat, atau bahkan bapak dan ibumu di rumah.

Bahagia itu datangnya cuma dari satu titik: dirimu sendiri.

Alih-alih berusaha mati-matian untuk pura-pura bahagia dengan beli ini-itu sampai-sampai kamu terancam nggak bisa mewariskan harta benda kepada anak-cucu, kenapa nggak coba untuk menepi sebentar dan membahagiakan diri sendiri biar nggak merasa kosong lagi? Bukannya rasanya jauh lebih melelahkan kalau bahagiamu adalah berpura-pura?

Sini, kalau masih nggak kuat, kirim curhat aja ke Mojok. Tapi ingat, jangan sampai lupa: kamu berharga, dan akan selalu begitu.