Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Rame Moknyus

Mengawal Kemenangan Kotak Kosong di Pilkada Makassar

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
27 Juni 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Di Makassar, terdapat sepasang calon tunggal yang maju dalam Pilkada Serentak 2018. Sialnya, sudah tunggal, pasangan ini kalah pula. Lebih sialnya lagi, kalahnya pun oleh sebuah kotak kosong!

Apa yang terjadi kalau dalam sebuah pilkada hanya ada satu pasangan calon tunggal yang maju dalam pemilihan? Apakah ia akan menang secara mutlak karena berdiri tanpa lawan?

Pertanyaan ini pernah Mojok Institute angkat sejak topik pilkada santer terdengar di seluruh penjuru negeri. Dalam pilkada serentak 2018, salah satu daerah yang memiliki calon tunggal dalam medan perjuangan pemilihan umum ini adalah Makassar.

Uniknya, pertanyaan kita semua kini benar-benar terjadi: quick count Pilkada Makassar menunjukkan bahwa yang menang bukanlah si calon tunggal Munafri Arifuddin-Rachmatika Dewi, melainkan…

…kotak kosong!!!

Hah, kosong? Astagfirullahaladzim~

Sebelum kita melanjutkan berita ini dengan jingle iklan Ramayana yang viral Ramadan lalu, ada baiknya jika kita mencari penyebab mengapa hal ini bisa terjadi.

Dilansir dari CNN Indonesia, hasil sementara quick count versi Celebes Research Center (CRC) menyatakan bahwa pasangan tunggal tadi telah dikalahkan oleh kotak kosong dengan angka sebesar 53,35 persen suara. Meskipunmengantongi dukungan dari 10 parpol berbeda, Munafri Arifuddin-Rachmatika Dewi harus puas mendapat 46,65 persen saja.

Walau terdengar konyol, hal ini tentu menjadi PR berat bagi si pasangan calon tunggal. Pasalnya, kalau sampai si kotak kosong menang beneran, mereka harus bersikap sabar akan dua hal: 1) sabar menghadapi kekalahan oleh sebuah benda mati; dan 2) sabar menunggu tahun 2020 jika masih berkenan mengajukan diri.

Loh, memangnya ada apa dengan tahun 2020?

Pasal 25 ayat 1 PKPU Nomor 13 Tahun 2018 ternyata telah mengatur perkara ini. Disebutkan, jika kotak kosong mendapatkan suara lebih banyak dibanding pasangan calon tunggal, pemilihan baru bisa diadakan kembali di pilkada serentak periode berikutnya. Frasa “periode berikutnya” ini berarti “tahun berikutnya” atau sesuai dengan jadwal yang ditetapkan oleh undang-undang.

Dalam hal ini, “periode berikutnya” merujuk pada periode pilkada serentak berikutnya, yaitu tahun 2020, sebagaimana yang disebutkan dalam UU Nomor 10 Tahun 2016.

Meskipun masih punya kesempatan, hal ini tentu menjadi pukulan telak bagi Munafri Arifuddin-Rachmatika Dewi. Ibaratnya, mereka ini sedang antri tiket kereta api dengan urutan yang panjang. Namun, saat sudah sampai di depan loket, tiketnya habis dan mereka harus menunggu kereta di jam pemberangkatan berikutnya. Nyesek, sis :(((

Lalu, siapa yang menduduki posisi wali kota dan wakil wali kota setelah ini kalau kotak kosongnya menang beneran?

Iklan

Menurut ketentuan yang berlaku, posisi wali kota dan wakil wali kota Makassar akan diduduki oleh pejabat sementara.

Yah, kemenangan kotak kosong yang jadi sejarah baru di Indonesia ini memang sungguh ajaib. Meski menjadi duka bagi beberapa pihak, setidaknya kotak kosong ini jauh lebih baik dibandingkan…

…hati yang kosong tanpamu. Tsadeeeest!

Terakhir diperbarui pada 28 Juni 2018 oleh

Tags: #MojokPilkadakotak kosong menangMunafri ArifuddinPilkada MakassarQuick CountRachmatika Dewi
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

Di Balik Kemenangan Prabowo Versi Quick Count Pilpres 2024
Video

Di Balik Kemenangan Prabowo Versi Quick Count Pilpres 2024

16 Februari 2024
Kerja di Lembaga Quick Count Pemilu Ternyata Sama Capeknya dengan Anggota KPPS.mojok.co
Aktual

Cerita Petugas Quick Count Pemilu: Hasil Sering Diremehkan Meski Saat Bekerja Sama Capeknya dengan Anggota KPPS

15 Februari 2024
Esai

Habis Pemilu, Terbitlah Manusia-Manusia Gagal Move On

4 Mei 2019
Esai

Kesamaan Nasib Tukang Spoiler Avengers: Endgame dan Pilpres 2019

30 April 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa. MOJOK.CO

Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan Kuliah S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa

12 Januari 2026
Mie ayam di Jakarta jadi saksi para pekerja berusaha tetap waras meski penuh beban hidup MOJOK.CO

Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua

14 Januari 2026
Jombang itu kota serba nanggung MOJOK.CO

Jombang Kota Serba Nanggung yang Bikin Perantau Bingung: Menggoda karena Tenteram, Tapi Terlalu Seret buat Hidup

12 Januari 2026
Olin, wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) pada 2025. MOJOK.CO

Pengalaman Saya sebagai Katolik Kuliah di UMMAD, Canggung Saat Belajar Kemuhammadiyahan tapi Berhasil Jadi Wisudawan Terbaik

14 Januari 2026
Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital: Harga RAM Makin Nggak Ngotak MOJOK.CO

Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal

16 Januari 2026
franz kafka, pekerja urban, serangga.MOJOK.CO

Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

15 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.