MOJOK.CO Penggunaan tanda koma paling utama adalah sebagai pemisah di antara unsur-unsur dalam perincian atau pembilangan. Tanda koma ini disebut juga sebagai koma serial atau Oxford comma.

Seorang penulis buku yang saya edit pernah mengirim pesan di malam hari pada saya. Bukan mau bilang “Good night,” dia justru mempertanyakan hasil naskah editan saya yang melibatkan sebuah tanda koma.

“Mbak, ini kenapa ditambahin tanda koma, ya?”

Saya mengecek kalimat dalam buku yang ia maksud: “Kamu memerlukan surat rekomendasi, ijazah, dan transkrip nilai.” Yang penulis saya permasalahkan adalah perkara saya memberi tanda koma sebelum kata dan.

“Bukannya harusnya ditulis ‘Kamu memerlukan surat rekomendasi, ijazah dan transkrip nilai’, Mbak?” kejarnya lagi. Dengan cepat, ia berdalih bahwa kata dan di sana sudah cukup menggantikan fungsi tanda koma sehingga tak perlu lagi ditambahkan.

Alasan yang dikemukakan penulis ini membuat saya teringat pada argumen bapak saya. Beliau pernah menanyakan hal yang sama soal tanda koma: kenapa saya selalu menulis tanda koma sebelum kata ‘dan’ tiap kali menyebut tiga atau lebih objek?

Setelah menarik napas, mencari informasi yang lebih lengkap, dan alasan argumentatif (lihat, deh, saya juga pakai tanda koma di kalimat ini!), saya pun menjelaskannya kepada si penulis—dan juga bapak saya—mengenai aturan tanda koma yang dalam konteks ini akrab dijuluki sebagai Oxford comma alias koma serial.

Baca juga:  Gaya Bahasa Komentator Sepak Bola yang Mengundang Tawa

*JENG JENG JENG*

Pada PUEBI, penggunaan tanda koma paling utama adalah sebagai pemisah di antara unsur-unsur dalam perincian atau pembilangan. Selain diletakkan di antara masing-masing butir, tanda koma juga disisipkan sebelum kata sambung (misalnya ‘dan’ atau ‘atau’). Sebagai contoh:

1. Semalam aku bertemu Rio, Andi, dan Dewa.

2. Aku ingin berterima kasih kepada Tuhan, ayah, dan ibu.

3. Jangan lupa membawa boneka, terong, dan senter.

Tanda koma yang pemakaiannya seperti di atas ternyata memiliki nama tersendiri. Di Indonesia, kita bisa menyebutnya sebagai koma serial yang digunakan untuk memaparkan rincian. Dalam bahasa Inggris, tanda koma yang satu ini bernama Oxford comma.

Kenapa tanda koma ini bernama Oxford comma? Apakah nantinya dia akan mendapat gelar sarjana dan master dari Oxford? Ternyata, penamaan koma serial ini disebabkan penggunaannya yang memang bisa ditemukan dalam kamus Oxford.

Namun, bedanya Inggris dengan Indonesia—tentu saja selain mereka melahirkan David Beckham dan kita tidak—adalah penggunaan koma serial alias Oxford comma ini. Jangan dikira, mentang-mentang koma serial ini asalnya dari Inggris, semua orang di Inggris pun menggunakan koma ini, ya. Maksud saya, kita kan nggak tahu tugas sekolahnya Emma Watson waktu dulu pakai koma serial atau nggak, Harry Styles patuh kaidah ini atau nggak, apalagi Mbak Keira Knightley!

Baca juga:  Kata Siapa Panggilan Mbak Bermakna Rendahan?

Penulis yang saya sebutkan di awal tulisan ini pun bisa menjadi gambaran. Saat berkuliah master di salah satu universitas di Inggris dulu, ia mengaku tak pernah mendapat masalah saat menulis tanpa koma serial. Bahkan, dosennya sendiri yang memintanya menulis demikian.

Ya, Saudara-saudara, meski koma serial bernama asli Oxford comma dan lahir di Inggris, tidak semua warganya—bahkan tidak semua orang berbahasa Inggris di manapun mereka berada—menggunakan aturan penggunaan tanda koma ini. Malah, terdapat aturan lain bernama The Chicago Manual of Style (CMS) dan AP Stylebook (AP) yang lebih populer digunakan, khususnya untuk Inggris-Amerika.

Jika aturan CMS mendukung koma serial, tidak demikian dengan aturan AP. Biasanya, aturan AP ini sendiri ditemukan dalam tulisan jurnalistik, sementara CMS merupakan aturan penulisan nonjurnalistik, termasuk karya ilmiah.

Padahal, kalau dipikir-pikir, penulisan tanpa koma serial ini bisa berubah makna sebagai berikut:

1. Semalam aku bertemu Rio, Andi dan Dewa.

(Apakah ini berarti Andi dan Dewa adalah jenis orang bernama Rio?)

2. Aku ingin berterima kasih kepada Tuhan, ayah dan ibu.

(Tidakkah ini berarti ayah dan ibunya dianggap sebagai Tuhan?)

3. Jangan lupa membawa boneka, terong dan senter.

(Jadi, dia mau membawa boneka berbentuk terong dan senter?)

Hmm, menilik contoh-contoh di atas, rasanya kita bisa tarik dua macam simpulan. Pertama, memang benar bahwa koma serial patut digunakan dalam penulisan untuk menghindari kerancuan makna.

Baca juga:  Berbincang dengan Ivan Lanin Itu Berat, Kamu Takkan Kuat…

Kedua, lewat koma serial, kita jadi tahu bahwa memisahkan sesuatu itu terkadang menjadi solusi yang lebih baik daripada membiarkan dua hal bersatu….