[MOJOK.CO] “Tampang Kawasaki D-Tracker sih gahar. Top speed? Pffft.”

Tahun 2009 adalah tahun pertama kemunculan kawasaki KLX. Pas dengan tahun kelulusan saya dari bangku kuliah. Sekali lihat, saya langsung naksir motor Satria Baja Hitam ini. Saking ngidamnya sama Kawasaki KLX, saat itu saya punya angan-angan, jika dapat kerja nanti, hal yang akan saya lakukan saat menerima gaji pertama adalah datang ke dealer Kawasaki buat ngajuin kredit motor KLX.

Badalah, begitu dapat kerja, boro-boro ke dealer Kawasaki KLX, gaji bisa buat hidup sebulan aja susah. Paling banter setengah bulan sudah minta “infus” dari orangtua. Sampai suatu saat pernah disindir sama Ibu, Tiap hari berangkat kerja kok masih minta uang saku!” Saya sebenarnya mau membalas, tapi kok kata-kata Ibu benar juga. Akhirnya saya cuma menjawab dengan tawa tiga jari.

Barulah tujuh tahun kemudian angan-angan itu separuh terwujud. Saya bilang separuh karena saya akhirnya sanggup beli motor, tapi sayangnya bukan Kawasaki KLX, melainkan saudaranya, Kawasaki D-Tracker.

Walau secara tampang mirip, sebenarnya KLX berbeda dengan D-Tracker. Yang pertama adalah motor off-road, yang kedua motor untuk di medan perkotaan. Hal ini bisa langsung terlihat dari ban yang ia pakai. Itulah yang menjadi pertimbangan saya memilih Kawasaki D-Tracker: motor ini meski punya tampang sangar ala KLX, toh akan saya pakai harian.

Memang sih, KLX dan D-Tracker tak hanya punya tampang mirip, tetapi juga mesin dan spesifikasi yang sebagian besar sama. Misalnya, KLX dan D-Tracker sama-sama menggunakan Unitrack Single Shock dengan lima penyetelan kekerasan. Alhasil, berkendara di segala medan menjadi lebih luwes ketimbang motor kebanyakan.

Bagaimana dengan dapur pacunya? Keduanya menggunakan basis mesin single 4 tak 150 cc dengan karburator KEIHIN NCV 24. Kompisisi ini membuat keduanya menjadi lebih irit dan ekonomis. Konfigurasi mesin tegak membantu kedua motor ini mencapai daya maksimum 11,47 hp/8.000 rpm dengan torsi maksimal 11,3 Nm/6.500 rpm.

BACA JUGA:  Das Kapital: Buku yang Harus Anda Baca Berapa Pun Usia Anda

Baik Kawasaki KLX maupun Kawasaki D-Tracker sudah menggunakan teknologi KSAI (Kawasaki Secondary Air Injection System). Teknologi ini membuat keduanya menjadi ramah lingkungan, dengan emisi gas buang sesuai standar EURO 2. Sedangkan perbedaan paling mencolok antara KLX dan D-Tracker ada pada ban. D-Tracker menggunakan ban yang lebih ramah dengan jalan raya. Cocok buat Anda yang nggak suka main becek-becekan walau berani kotor itu baik.

Tapi, saya agak kecewa ketika pertama kali memacu Kawasaki D-Tracker. Saat kali pertama naik, saya membayangkan akan terasa seperti naik Suzuki TS, kompetitornya di kelas yang sama, yang kalau dipakai gasnya bakalan galak melompat-lompatEee… lha, pas dicoba kok melempem.

Ngomong-ngomong, kegarangan Suzuki TS ini bukan cuma rumor lho. Teman saya pernah uji coba. Ceritanya, dia punya Yamaha Touch 125 masih gres. Di jalan, dia banyak gaya, congkak, ngece polisi di pos yang di situ kebetulan ada Suzuki TS yang siap dipacu.

Pikirnya, nggak bakal ketangkap kalau diuber polisi, wong sama-sama 125 cc dan dia start tancap gas duluan. Ndilalah, kok pas dikejar sama polisi, dibandul kopling sekali, Yamaha Touch 125 langsung kekejar sama Suzuki TS. Lak yo mung dibonusi push-up neng pinggir dalan. Capek, Dik!

Kekecewaan saya sendiri memuncak ketika saya geber D-Tracker di jalan. Sa coba gaspol kok cuma mentok 100 km/jam. Lha kok top speed-nya masih kalah sama Honda Supra 125 saya yang bisa mencapai 105 km/jam. Padahal, harapan saya, kalau motor ini tidak bisa dipakai buat gas-gasan, setidaknya top speed-nya bisa diandalkan.

Pernah suatu waktu saya “diasapin” Yamaha Nmax, motor matic gemuk yang pantatnya jelek itu. Saya tambah sengit ketika lihat yang naik berlagak lagi menunggang moge! Hihhh! Terasa hina sekali “diasapin” sama motor yang dibenci, tapi nggak bisa membalas.

BACA JUGA:  Anti BlackBerry BlackBerry Club

Setelah berdamai dengan keadaan, akhirnya saya jual motor tersebut. Padahal, rencana awalnya, bakal saya jadikan motor klangenan dan akan saya rawat hingga maut memisahkan. Sampai kemudian saya sadar, Kawasaki D-Tracker itu lemah dalam hal akselerasi dan kecepatan. Di balik kegagahan predikat supermoto-nya, sesungguhnya ia motor fesyen belaka.

Komentar
Add Friend
No more articles