• 223
    Shares

MOJOK.CO – Merokok ialah hak semua orang dewasa yang tidak sedang hamil. Maka dari itu, biarkanlah saya– seorang perempuan–untuk merokok.

Menjadi perempuan perokok bukan hal mudah di sini, paling tidak, di tempat kelahiran saya. Bahkan ketika berpindah ke Yogyakarta, kota yang ditinggali orang-orang yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, ternyata tetap saja, perempuan merokok dipandang sebagai hal yang buruk.

Mengapa saya bisa berkata seperti itu? Karena saya adalah orang yang mengalami itu sendiri. Saya mulai merokok sejak SMA sampai sekarang.

Awal mula saya merokok hanya karena mencoba, meminta rokok teman, mulai membelinya, kemudian menjadi kebiasaan. Saya tidak punya alasan yang ndakik-ndakik untuk merokok. Saya memandang rokok sebagai bahan konsumsi belaka. Seperti halnya jika saya suka makan nasi, makan semangka, atau minum es coklat.

Hingga kemudian saya menyadari bahwa merokok untuk saya, tak semudah merokok untuk Ferguso, eh maksudnya, teman laki-laki saya. Mereka bisa secara terang-terangan membeli dan menghisap rokok di depan orang banyak. Sedangkan saya, sebelum menampakkan diri sebagai perokok pun, sudah biasa mendengar tanggapan yang kurang mengenakan dari beberapa orang terhadap perempuan merokok.

Menurut mereka, merokok bukan kebiasaan yang pantas untuk perempuan. Rokok hanya pantas dikonsumsi laki-laki. Jika seorang perempuan merokok, ia akan mendapatkan protes secara terang-terangan. Atau paling tidak ia akan menerima pandangan aneh serta bisik-bisik yang menyebalkan dari masyarakat.

Saya pernah mendapat pengalaman memalukan ketika merokok di tempat yang bisa disaksikan oleh banyak orang. Waktu itu, selesai makan di kantin kampus, saya minggir ke tempat yang aman untuk merokok. Setelah kebal-kebul beberapa kali, ada Pak Dosen yang melintas di depan saya, tampak buru-buru. Namun tiba-tiba ia balik kanan, menghampiri saya, kemudian berkata,

“Perempuan kok merokok?” telunjuknya mengarah ke muka saya.

Baca juga:  Merokok dan Jatuh Cintalah dengan Sukarela

Saya mengiyakannya. Kepalanya geleng-gelang lalu balik kanan dan melanjutkan perjalanan. Saya heran kok selo banget Pak Dosen tadi balik kanan untuk sekadar menegur saya yang merokok.

Lalu apa yang memalukan? Ya saya malu dan agak prihatin terhadap kelakuan Pak Dosen tadi, betapa perempuan merokok bisa mengalihkan perhatiannya.

Hal itu membuat saya merasa tidak aman untuk sekadar merokok di tempat yang ada banyak orang, sekalipun tempat itu diperbolehkan untuk merokok. Rasanya seperti, ketika saya membeli nasi di warung yang menyediakan tempat makan untuk pelanggan tapi saya harus segera pulang dan masuk kamar agar bisa segera menikmati nasi dan kelezatan lauk pauk yang sudah dibayar dan sah menjadi hak saya.

Ya begitulah, sebenarnya rokok dan seperangkat pilihan menu makanan lainnya sama-sama pantas saya konsumsi kan?

Pengalaman tersebut hanya sebagian kecil dari banyak kisah aneh yang dialami para perempuan merokok. Memang tidak semua orang memperlakukan para perempuan merokok seperti itu. Tetapi selalu ada golongan manusia yang anti rokok dan hadir untuk mencekal para perokok, terutama perempuan.

Padahal dalam undang-undang, yang juga tertera pada setiap bungkus rokok dan segala bentuk iklannya, sudah dikatakan bahwa dilarang menjual/memberi pada anak usia dibawah 18 tahun dan perempuan hamil. Bukankah sudah jelas bahwa perempuan yang telah berusia 18 tahun dan tidak sedang hamil boleh membeli dan mengonsumsinya?

Dalam masyarakat, musuh perempuan merokok bisa lebih banyak daripada laki-laki merokok. Jika musuh laki-laki perokok hanya golongan anti rokok, musuh kami merupakan gabungan dari golongan anti rokok dan beberapa bagian dari laki-laki merokok.

Yak benar, banyak perokok laki-laki tidak menyukai kami. Biasanya ia akan melarang perempuan yang dekat dengannya untuk merokok. Misal, pacar, bribikan, atau istrinya. Alasannya masih tentang kesehatan, ditambah mengenai moral, dan himbauan bahwa yang pantas merokok itu hanya laki-laki. Ia tidak ingin perempuan di dekatnya dipandang sebagai orang yang tidak bermoral karena merokok.

Baca juga:  Berhenti Merokok Cara Gorontalo

Sebentar, bukankah hanya masyarakat sekitar yang mengatakan bahwa perempuan merokok itu rusak moralnya dengan alasan identik dengan kenakalan? Bukankah perempuan yang merokok di dekatmu itu orang yang tidak nakal dan baik-baik saja sehingga kamu menyayanginya? Lalu mengapa kamu turut mengekalkan perkataan bahwa perempuan tidak boleh merokok?

Lah itu Bu Susi Pudjiastuti juga perempuan merokok tapi tidak nakal, malah hebat begitu menjalankan tugasnya sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Saya tidak mengatakan bahwa beliau hebat karena merokok. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa merokok bukan halangan bagi perempuan untuk berlaku baik bahkan menunjukkan kehebatannya.

Hal ini yang kemudian memunculkan alasan bagi perempuan untuk merokok sebagai usaha penyetaraan diri dengan laki-laki. Ini alasan yang bagi saya lumayan ndakik-ndakik, memutuskan untuk merokok berdasarkan pemikiran dan perenungan mengenai perlawanan terhadap budaya patriarki.

Lah gimana, wong sama-sama tahu nikmatnya kebal-kebul kok malah tidak saling suport. Merokok kok pandang jenis kelamin. Padahal merokok ialah hak semua orang dewasa yang tidak hamil.

Untung saja, seiring berjalannya waktu saya menemukan lingkaran yang menganggap perempuan merokok merupakan hal biasa. Bahkan, kami saling berbagi rokok. Siapa pun yang punya rokok, laki-laki atau perempuan yang berada di lingkaran kere, itu berarti rokoknya merupakan milik umum. Cuma gara-gara rokok kami jadi akrab, persaudaraan tambah erat.

Makanya, tak usah ikut-ikutan mengekalkan pandangan bahwa perempuan merokok itu buruk. Merokok itu sama saja dengan memilih menu. Mau memilih makan nasi, minum es coklat, dan merokok itu sama saja dengan makan nasi, minum es coklat, dan makan semangka. Memilih menu itu selera masing-masing. Laki-laki dan perempuan, seleranya boleh sama juga boleh berbeda.

Bukankah begitu? Sebat dulu lurrr!

  • 223
    Shares


Loading...



No more articles