MOJOK.COSering banget kejadian Apple diketawain karena masang teknologi aneh di iPhone. Cuma karena sejak awal sejarah iPhone adalah pelopor, ujung-ujungnya teknologi aneh itu tetep aja diikutin dan jadi new normal.

Sejarah iPhone dimulai sejak produk ini pertama kali diperkenalkan Apple pada 9 Januari 2007. Sejak itu, perusahaan teknologi asal California itu tidak pernah berhenti bereksperimen pada gadget yang mereka rilis setahun sekali ini. Nyaris di setiap produk iPhone sukses menuai kontroversi, meraup pujian dan hujatan. Yang lucu, walau awalnya kerap dianggap kekonyolan, biasanya belakangan inovasi iPhone akan jadi pelopor tren baru yang segera ditiru kompetitor.

Mulai dari iPhone 2G atau iPhone generasi awal, dirilis 29 Juni 2007. Ini adalah perangkat pertama yang bisa dinavigasi oleh jari langsung di layar perangkat berkat sistem sentuh yang intuitif. Perangkat komunikasi tanpa kabel berlayar sentuh kapasitif ini sukses dan langsung ditiru merek ponsel lain. Kehadiran Android sesudah dibeli oleh Google dari Andy Rubin melempangkan jalan lahir smartphone layar sentuh di tahun-tahun berikutnya.

Lalu iPhone 3G, diluncurkan 9 Juni 2008. Ia merupakan smartphone pertama yang didukung toko aplikasi sendiri bernama App Store. Google lantas mengekor bikin toko aplikasinya sendiri bernama Android Market pada tahun yang sama, belakangan berganti nama menjadi Google Play.

Pada 19 Juni 2009 Apple meluncurkan iPhone 3GS yang menjadi basis lahirnya teknologi asisten pribadi bernama Siri. Tujuh tahun kemudian Google turut meluncurkan asisten virtual bernama Google Now—fitur yang terus berkembang dan kini ganti nama jadi Google Assistant dan telah dibenamkan secara eksklusif pada produk-produk Google Pixel. Sekarang Google Assistant bisa diunduh di setiap perangkat Android.

Tidak berhenti sampai di situ. Pada 2010 Apple untuk pertama kalinya menyematkan kamera depan untuk kebutuhan swafoto, dimulai oleh iPhone 4. Tindakan yang bisa disebut revolusi ponsel pintar karena pada tahun-tahun berikutnya perkembangan kamera depan smartphone tak terbendung: mulai dari resolusinya yang kian membesar hingga jumlah kamera dan penambahan sensor pemindai untuk berbagai keperluan.

Pada 2017, merek Essential Phone mengenalkan kamera depan smartphone dengan model takik (notch, poni) tapi iPhone X lah yang sukses memopulerkannya. Saya ingat betul bagaimana iPhone X dirundung habis-habisan karena model rumah kamera depannya berbentuk poni menjuntai itu. Namun cercaan tidak menghentikan iPhone yang besar kemungkinan sudah pede apa pun barang ia keluarkan akan dilahap. Kita semua tahu adagium populer “anjing menggonggong, kafilah berlalu”, tapi cuma perusahaan seperti Apple yang sanggup mempraktikkannya.

Bersama dengan Pantech Vega LTE, merek ponsel dari Korea Selatan, Apple lanjut merilis iPhone 5s pada 2013 yang dianggap memelopori sensor pemindai sidik jari. Apple menamai fitur ini Touch ID. Sekarang lihat saja, nyaris tidak mungkin Anda dapati smartphone Android tanpa sensor sidik jari, kecuali beberapa produk yang memang dibikin murah. Lucunya, di kemudian haru iPhone justru membuang fitur itu dari iPhone X. Ya jelas dicibir. Tapi sebagai gantinya Apple memasang teknologi sensor pengenalan wajah tiga dimensi yang presisi dan akurat di iPhone X. Sudah bisa ditebak, merek lain berlomba-lomba membuat teknologi serupa.

Kontroversi yang ditimbulkan Apple sepanjang sejarah iPhone masih berlanjut. Tidak hanya pada penambahan atau pemangkasan fitur-fitur yang disebut tadi, tapi juga pada aspek desain penempatan rumah kamera yang selalu Apple letakkan di pojok kiri atas punggung iPhone.

Saya teringat desain trikamera iPhone X yang didesain Apple dalam sebuah bumper yang menonjol berbentuk kotak dengan sudut-sudut membulat. Sangat tidak biasa, ketiga lensa kamera tersebut disusun berbentuk segitiga. Desain kamera yang lucu ini juga berhasil membuat Apple dibanjiri tepuk tangan… cemooh.

Akan tetapi, desain rumah kamera iPhone yang menjadi badut di bulan-bulan pertama peluncurannya masih saja sukses membuat desain iPhone kian eksklusif dan ikonik. Hari ini tidak ada lagi yang mempersoalkan rumah kamera yang nyentrik itu, sebagaimana poni lebar yang menutupi jidat iPhone-iPhone terbaru. 

Sampai hari ini kita menyaksikan iPhone terus berevolusi semenjak desain frame metal yang menyiku di seri perdana mereka. Ngomong-ngomong tentang desain ini, frame iPhone setelahnya sempat membulat, namun kembali menyiku di iPhone 12. Tapi secara garis besar, desain iPhone memang khas. Bentang layar yang sempit diapit jidat dan dagu tebal dan lama-lama makin melebar memenuhi layar. Tata letak kamera belakang tidak pernah berubah kecuali ketambahan rumah kamera dan jumlah kamera. Dan tentu saja, lambang apel digigit di punggung. Setiap keluaran terbaru iPhone dengan perubahan minornya melulu jadi momok bagi rival. Apalagi Apple konsisten menyematkan teknologi baru pilih tanding yang bukan gimmick doang.

Kepercayaan diri Apple bisa dilihat juga di kasus ini. Di saat para produsen smartphone berlomba-lomba memperluas RAM, Apple malah merambah wilayah lain. Misalnya mengubah sistem operasi komputasi yang semula 32 bit menjadi 64 bit. Di saat produsen lain gencar-gencarnya memperluas penyimpanan internal, Apple mengenalkan format HEIF atau format gambar efisiensi tinggi untuk menghemat ruang penyimpanan dibanding JPEG. Dan di saat netizen ramai-ramai mencibir teknologi kamera Apple yang tidak kunjung menyematkan modus malam, Apple mengenalkan teknologi Deep Fusion, teknologi komputasi fotografi andal untuk mengoptimalkan jepretan kamera.

Yang terakhir, Apple kembali berulah saat meluncurkan iPhone 12 pada 14 Oktober 2020 lalu. iPhone 12 dijual tanpa kepala pengisi daya (charger). Alasannya klise dan kayak mengada-ada: untuk mengurangi limbah elektronik. Vendor sekelas Samsung dan Xiaomi pun merasa perlu mengolok-olok keputusan Apple ini. Namun, apa lacur, Xiaomi dengan Mi 11-nya dan Samsung dengan Galaxy S21-nya harus menelan ludah sendiri karena ujung-ujungnya latah mengekor Apple dengan meluncurkan kedua produk tersebut tanpa kepala charger di dalam kotak kemasan. Ya sudah, Apple fanboy langsung tepuk tangan menanggapi dagelan itu.

Di tengah segala cibiran dan kontroversi itu, Apple berhasil membuktikan bahwa iPhone adalah pelopor dan yang lain-lain tetaplah pengekor. Bukan cuma pengekor, tapi juga pengekor yang terseok-seok mengintil iPhone dengan segala pencapaian dan inovasinya.

Satu-satunya hal yang tidak pernah berubah dari sejarah iPhone sejak pertama kali diperkenalkan adalah harganya yang selangit. Produk-produk sekelas iPhone SE, yang dimaksudkan sebagai produk alternatif untuk calon pembeli dengan anggaran pas-pasan, tetap saja membuat kantongmu menangis pilu. Mengenai harga ini, seluruh jajaran iPhone adalah gadget berteknologi tinggi yang harganya masih bikin sakit hati.

BACA JUGA Tips Membeli iPhone untuk Pemula: No. 1 Jangan Beli Seri Terbaru

Baca juga:  Smartphone dan Pelaporan SPT