MOJOK.CO Masa-masa sekolah itu menyenangkan, kata orang yang sekolahnya sudah selesai. Selama duduk di bangku sekolah memang suka duka nggak terlalu terasa, tapi setelah lulus kita jadi sadar betul nikmatnya. Apalagi waktu duduk di kelas 2 SMP dan 2 SMA. Tahun tengah selalu terbaeeek!

Suatu ketika di masa-masa terberat ngerjain skripsi, saya tersadar di tengah heningnya lorong perpustakaan. Apa kabar ya teman-temanku tersayang yang dulu menemani keceriaan pas sekolah? Apakah mereka sedang berlinang air mata karena menerima banyak coretan draf proposal? Tebersit keinginan buat menghubungi salah satu dari mereka, namun saya urungkan. Saya takut mereka juga sedang mabok jurnal ilmiah kayak saya. Jadilah saya mengenang mereka dalam ingatan.

Kelas 2 SMP, untuk pertama kalinya saya ditembak cowok di tengah lapangan basket. Sungguh itu memalukan banget, saya langsung gatel-gatel mengingatnya. Tapi di sisi lain peristiwa itu bikin saya ketawa dan merasakan betapa manisnya kisah merah jambu saat masih bocah. Selepas kegiatan wajib Pramuka, seorang cowok yang saya taksir sejak lama bilang.

“Nanti bubar Pramuka jangan pulang dulu ya, bakal ada kejutan.”

Benar saja seusai kegiatan saya diseret ke tengah lapangan lalu dia bilang sayang, duh. Seluruh teman-teman Pramuka refleks teriak: “Tiarap! Tiarap! Ada penembakan.” Bahkan beberapa guru pembina pramuka juga sempat menyaksikan sambil terkekeh.

Saya langsung berasa demam. Untuk pertama kalinya saya belajar untuk berkomitmen dengan satu orang, meskipun empat bulan kemudian kami putus. Saya heran, orang dewasa nggak ada yang seberani mantan saya zaman SMP. Sumpah, kebanyakan ngomong lewat chat WhatsApp, paling banter lewat telepon. Cemen.

Baca juga:  Seberapa Nakal dan Greget Masa Kecil Lo?

Anehnya selama proses jadian lalu putus, saya nggak pernah sekali pun ditegur guru karena pacaran terus. Nilai-nilai pelajaran justru naik dan saya jadi ketua OSIS. Rasanya sangat menyenangkan dan ringan tanpa beban.

Beberapa tahun berlalu, kejadian penembakan terjadi lagi ketika kelas 2 SMA. Kali ini lebih kocak, saya ditembak di gerbong kereta Logawa saat mau ke Jogja. Sama saja, walau awalnya berkomitmen, empat bulan kemudian saya putus lagi dan jadian sama cowok lain. Bedanya kali ini saya nggak jadi ketua OSIS lagi karena lelah jadi orang femes. Saya bahkan pernah dilabrak teman seangkatan sendiri cuma gara-gara duduk sebangku sama pacarnya. Katakanlah saya playgirl tapi apa pun itu, kesimpulannya kelas 2 SMA penuh dengan kengawuran dan kenakalan yang saya nikmati.

Paling konyol, saat pulang sekolah saya pernah kecelakaan karena kebelet pup. Kaki saya patah dan akibatnya nggak bisa lagi pup di WC jongkok.

Bahkan di kelas 2 SMA untuk pertama kalinya saya bolos buat main Pump It Up di Timezone. Di saat yang hampir bersamaan saya ikut olimpiade Ekonomi dan memenangkan lomba blog yang hadiahnya lumayan buat foya-foya. Membolos memang menyehatkan, kadang-kadang. Untung saya nggak pernah nakal dengan beli gorengan 3 tapi bilangnya makan 1 dan ngaku kembaliannya kurang. Terkutuklah kalian yang curang sama ibu kantin.

Baca juga:  5 Ciri-Ciri Bucin Alias Budak Cinta: Romantis, tapi Nalarnya Tipis

Saat membawa cerita nano-nano saya zaman sekolah ke tongkrongan, ternyata saya nggak sendirian. Banyak kawan-kawan yang mulai menemukan sesuatu di kelas 2 SMP dan kelas 2 SMA yang bahkan lebih nggak masuk akal. Lalu kenapa harus saat kelas 2 sih?

Spekulasi saya sih karena di kelas 2 SMP dan 2 SMA seorang siswa belum dibebani Ujian Nasional. Pada masa ini kita terbebas dari cap murid bawang kotong yang selalu jadi inceran kakak kelas karena masih baru alias kelas satu. Jiwa bebas yang perlahan tumbuh mendorong siswa melakukan hal-hal ngawur. Bahkan yang sebelumnya nakal mulai coba-coba pacu adrenalin dengan panjat pagar sekolah dan macarin kakak kelas.

Saat mengalaminya, rasanya nggak semenyenangkan itu. Melakukan sesuatu lebih kepada insting purba dan rasa penasaran semata. Nggak ada pikiran kalau nakal dan coba-coba bisa jadi hal yang layak dikenang. Tapi setelah semakin dewasa dan kebanyakan baca tubir di Twitter plus lihat komentar body shamming di Instagram, kita jadi tahu hidup sebagai orang dewasa itu pahit dan mengenang masa sekolah itu manis.

BACA JUGA Kenakalan Masa Sekolah yang Bikin Saya Heran Sendiri kala Mengingatnya atau artikel lainnya di POJOKAN.