MOJOK.CO Fans K-pop alay yang kalau idolnya disakiti langsung main lapor dan serang memang bikin sakit kepala. Tapi di sisi lain, kebencian itu muncul dari cinta yang kelebihan.

Sebuah kewajaran kalau kita jadi berang hanya karena seseorang yang begitu kita cintai disakiti. Layaknya roman picisan, cinta nggak mengenal syarat, ada yang jahat ya langsung sikat. Sesekali cinta begitu reaktif terhadap berbagai hal yang sebenarnya bisa ditanggapi dengan selow.

Fans K-pop alay bisa diibaratkan dengan dua orang kasmaran dengan hubungan yang begitu posesif bin obsesif. Kita ambil contoh cerita di novel Dilan 1990. Anhar yang menampar Milea saja dihajar habis-habisan tanpa ampun sama Dilan. Padahal Dilan dan Anhar sudah berkawan lama. Pertemanan geng cowok terlihat nggak semudah itu diruntuhkan, tapi karena cinta jadinya ambyar juga.

Lalu Dilan dan Milea salah nggak? Nggak bisa sepenuhnya dihakimi kayak putih dan hitam sih, masih ada warna abu-abu, Guys.

Industri K-pop memang sengaja membangun sebaik mungkin hubungan antara idola dan fans-nya. Berbeda dengan industri Hollywood yang artis-artisnya cenderung luweh dan bodo amat sama pencitraan, industri K-pop mengambil celah di mana idola bisa ‘melayani’ keinginan fans dengan teramat baik. Sedemikian rupa semuanya diatur dan direncanakan.

Perlahan terjalin hubungan saling melengkapi di antara ketiga pihak. Fans akan disuguhi hiburan yang mereka suka tiada henti, idola dapat perhatian dan dukungan luar biasa, industri menikmati hasil uangnya. Sebuah mutualisme yang ideal kelihatannya.

Tapi jangan lupa, ada pihak lain yang bertindak di luar kontrol. Mereka adalah orang-orang di luar lingkaran fans, idola, dan industri. Siapa lagi kalau bukan khalayak umum yang mungkin sama sekali nggak tertarik K-pop walau udah dengerin lagu “Ddu-du Ddu-du” semalam suntuk. Selera orang mana bisa didikte.

Baca juga:  Salam Cinta buat Rich Brian dan Niki yang Bakal Manggung di Coachella 2020

Mereka tidak terlibat acara kasmarannya fans dan idola, mereka biasa aja. Mereka nggak tahu sama sekali nilai-nilai romantis K-pop. Sekalinya mereka ingin bercanda dengan K-pop ya bercanda aja, sekalinya berang ya langsung ngatain aja.

Sama seperti pola orang-orang yang ngatain Kekeyi dan menjadikannya badut. Lalu kenapa nggak ada yang marah berlebihan dan melaporkan pembuat meme Kekeyi? Ya karena Kekeyi nggak punya manajemen serapi industri K-pop dengan rumus mutualismenya itu.

Saya nggak lagi berusaha bilang kalau semua fans K-pop alay. Saya cuma agak pusing aja melihat pertikaian di media sosial lagi-lagi soal fans K-pop yang merasa terhina dan idola mereka disakiti. Kalian sudah cek belum, apa idola kalian benar-benar lagi sedih atau justru nggak tahu apa-apa? Hanya perkara meme dan guyonan yang sebenarnya bisa begitu saja diabaikan justru jadi sumber masalah.

Haduuuh, saya siap aja sih kalau habis ini ada yang mulai meneror email dan media sosial saya cuma perkara saya bikin tulisan ini. Padahal tujuan saya pengin mencerahkan.

Terkhusus teman-teman fans K-pop alay, yang nggak alay silakan rebahan lagi, saya ingin tanya beberapa hal. Pertama, apa kalian nggak capek? Hinaan dan cercaan buat idola kalian bakal selalu ada. Mau karena mereka jadi kelihatan tambah mancung karena oplas lah, karena mereka joget dan kepeleset di panggung lah, atau sesimpel karena suaranya fals. Manusia mana ada yang sempurna. Jadi kenapa nggak mempraktikkan kutipan “anjing menggonggong khafilah berlalu” ketimbang ribet sendiri?

Baca juga:  Saatnya Spotify, Saatnya Cari Spot Jodoh, Mblo!

Saya sampai ngempet ngguyu kalau ada fand K-pop alay yang bawa-bawa UU ITE demi mengancam orang lain. Kok ya masih bangga gitu pakai pasal karet yang suka ditarik ulur dan terkenal manipulatif.

Kedua, kenapa dimasukkan ke hati? Saya tuh kalau pacaran, pacar saya sering dikatain goblok, kerjaannya ngejokes terus, sampai kelakuannya nggak masuk akal. Tapi saya tetep sayang dan nggak lantas baku hantam sama kawan-kawan saya yang ngatain pacar saya. Faktanya pacar saya memang begitu, lalu mau apa? Bahwa ada idol kalian yang kepeleset karena panggungnya licin, itu juga fakta.

Ketiga, kalian dapat apa sih? Saya tahu kalian nggak dibayar sama industri besar K-pop hanya untuk membela idola kalian. Sadarilah bahwa yang kalian lakukan adalah fenomena yang kajiannya sedang dipelajari oleh ilmuwan-ilmuwan psikologis di seluruh dunia. Tujuannya cuma buat memahami kalian dan mencari cara mengatasi kemarahan yang tidak terkontrol itu.

Bagi para fans K-pop alay, ingatlah sebuah kutipan yang dikatakan Lord Pain yang meruakan anggota Akatsuki itu.

Cinta melahirkan pengorbanan yang akan melahirkan kebencian. Barulah kau mengerti akan penderitaan.

Maka kalau kalian nggak ingin semakin menderita, cinta dan pengorbanannya jangan kelebihan dong. Supaya warna abu-abu kalian nggak semakin menghitam, mendingan logikanya lebih dilibatkan ketimbang perasaannya.

BACA JUGA Sebutan Jamet Kuproy, Jawir, Pembantu Jawa, dan Labelling Kurang Ajar Lainnya atau artikel lainnya di POJOKAN.