Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Mari Memasyarakatkan Panggilan ‘Kak’ demi Keadilan Gender

Ajeng Rizka oleh Ajeng Rizka
25 Januari 2020
A A
panggilan kakak mbak ibu dipanggil ibuatau kak nama panggilan nama sapaan admin olshop username akun twitter

panggilan kakak mbak ibu dipanggil ibuatau kak nama panggilan nama sapaan admin olshop username akun twitter

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Panggilan ‘Kak’ yang lebih netral secara gender memang perlu dimasyarakatkan biar orang-orang nggak pada sensi dan tersinggung. Panggilan macam ini juga aman dari orang-orang yang nggak suka dipanggil ‘Ibu’ atau ‘Bapak’ padahal mereka belum menikah.

Teman saya punya nama yang begitu maskulin, Bramanti, padahal orangnya nggak ada tomboy-tomboynya sama sekali. Dengan namanya ini dia biasa dipanggil ‘Bram’ yang sebenarnya kedengeran kayak nama om-om di sinetron RCTI.

Suatu hari teman saya ini mengeluh karena orang-orang suka salah panggil ‘Mas’ bahkan ‘Pak’. Hal ini terjadi berulang kali baik di dunia nyata atau pun di media sosial. Akhirnya dengan penuh keyakinan, Bram mengganti username Instagramnya jadi @mbakbram demi mengurangi rasa sebalnya.

Setelah itu saya menyadari betapa ngaruhnya sapaan berdasar gender. Mas, mbak, pak, bu, sampai om, tante kerap salah tempat hanya gara-gara nama orang yang disapa punya stigma gender. Belum lagi di Twitter, saya pernah menyaksikan seorang netizen protes karena disapa ‘Mas’ cuma karena foto profilnya seorang idol K-POP.

Jauh sebelum normalisasi panggilan “Kak”, panggilan “Gan” sering dipakai buat transaksi online di Kaskus. Lalu setelah jual beli kosmetik dan baju-baju lucu semakin populer, olshop-olshop punya nama tandingan yaitu “Sis” yang padahal lawannya adalah “Bro”.

Hal ini pernah membingungkan karena admin olshop sebenarnya nggak tahu dengan siapa mereka bertransaksi. Kadang foto di akun media sosial pembeli cuma gambar pemandangan.

Saya juga sempat mengalaminya saat bekerja paruh waktu jadi admin olshop. Total lima ponsel admin saya pegang dan ratusan pertanyaan pembeli saya balas setiap harinya. Rasanya mustahil buat sekadar ngecek apakah orang yang sedang tanya barang itu cowok atau cewek. Masalahnya olshop tempat saya bekerja, jualan hape yang segmentasinya nggak kenal gender.

Saya pun selalu pakai panggilan “Kak” kalau belum tahu persis siapa orangnya. Sebuah trik aman demi menjaga mood pembeli.

Pada awalnya panggilan “Kak” sering dipraktikkan oleh SPG di mal dan departement store. Mereka terhitung cari aman karena nggak ingin salah paham dengan penampilan. Terkadang ada juga cewek yang kalau dilihat sekilas kayak ibu-ibu. Tapi begitu dipanggil “Bu” bakal tersinggung. Inilah kenapa saya juga nggak suka ke bank, mau anak SMA pun kadang dipanggil “Bu” demi SOP kesopansantunan.

Panggilan “Kak” makin dilanggengkan ketika orang-orang menyadari bahwa panggilan ini netral sekaligus aman. Di toko-toko, gerai, bahkan saat pesan ojol, hampir semua pakai “Kak”.  Kecuali kalau panggil presiden Kak Jokowi ya mungkin kepala kalian bakal di-poles Paspampres.

Nah, saya sebenarnya mendukung banget panggilan “Kak” buat dimasyarakatkan segera. Panggilan ini mencegah ketidakstabilan mood akibat salah panggil. Secara gender adil, secara usia juga terhormat. Sudah saatnya menteri sosial membuat seminar-seminar terkait panggilan yang cocok untuk menyapa orang demi pemberdayaan sosial. Ini serius.

Orang Indonesia patut bersyukur karena negara kita punya panggilan yang bisa sentral ini. Coba bahasa Inggris, selalu pakai “Ma’am” atau “Sir” kalau ketemu orang yang belum mereka kenal. Makanya, coba mulai sekarang panggil saya “Kak”. Hihihi

BACA JUGA 5 Adegan Goblok di Film Horor yang Bikin Penonton Berisik Saking Geregetannya atau artikel AJENG RIZKA lainnya.

Terakhir diperbarui pada 24 Januari 2020 oleh

Tags: kaknama panggilanpanggilan
Ajeng Rizka

Ajeng Rizka

Penulis, penonton, dan buruh media.

Artikel Terkait

mengapa orang jakarta memilih menyapa dengan sapaan mba daripada mbak bahasa jawa mojok.co
Liputan

Bermacam Alasan Orang Pilih Sapaan ‘Mba’ daripada ‘Mbak’ 

15 Maret 2021
kata panggilan nggak jadi illfeel sama fiki naki yang memanggil dirinya sendiri pakai nama kebiasaan di riau pekanbaru minang sopan santun budaya mojok.co
Esai

Nggak Jadi Illfeel sama Fiki Naki yang Manggil Dirinya Sendiri Pakai Nama

27 Februari 2021
Andai Ibu tidak menikah dengan ayah.co
Status

Cerita Pedagang Online yang Disangka Pelakor karena Memanggil “Kakak”

7 Februari 2018
Panggilan-Gus-Mojok.CO
Esai

Ngaku-Ngaku Gus dan 5 Tipe Panggilan Gus yang Perlu Situ Tahu

19 Januari 2018
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026
Suasana Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. MOJOK.CO

“Jajanan Murah” yang Tak Pernah Surut Pembeli di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten

17 Maret 2026
Belajar Tentang Sejarah Ekonomi Komunis China dari Duanju, Drama Vertikal yang Nagih MOJOK.CO

Belajar Sejarah Ekonomi Komunis China Lewat Kamerad Chang dan Duanju yang Bikin Nagih

16 Maret 2026
Memelihara kucing.MOJOK.CO

Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya

20 Maret 2026
Rif'an lulus sarjana UGM dengan beasiswa. MOJOK.CO

Alumnus Beasiswa UGM Kerap Minum Air Mentah Saat Kuliah, hingga Utang Puluhan Juta ke Kyai untuk Lanjut S3 di Belanda

15 Maret 2026
Gen Z dapat THR saat Lebaran

3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan

18 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.