Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Urusan Menyalahkan Generasi, Orang Dewasa Jagonya

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
30 Januari 2019
A A
Rasanya Tahu Kalau Di-hide dari Story Whatsapp Adik Sendiri MOJOK.CO main hape
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Mungkin ini memang sudah menjadi tradisi, bahwa tiap generasi selalu punya penyakit di mana ia hobi membanggakan generasinya dan mendiskreditkan generasi setelahnya.

Saya pikir, ini lumrah dilakukan utamanya ketika seorang ayah atau Ibu menceritakan tentang kehidupan masa kecilnya kepada anaknya.

Iklan

“Jaman bapak dulu sekolah, bapak dan kawan-kawan bapak itu kalau sekolah jalan kaki satu kilo. Nggak kayak anak-anak sekarang, mau ke sekolah aja naik gojek,” ujar sang Bapak.

“Dulu ibumu ini kalau mau cari sesuatu harus ke perpustakaan. Buka-buka buku. Kalau anak sekarang, bisanya cuma buka Google,” terang Ibu.

Dua pernyataan di atas boleh jadi wajar adanya. Namun ia tak memperhatikan konteks relevansi jaman. Anak-anak jaman dulu wajar jika berangkat sekolah jalan kaki, sebab ada banyak faktor yang memaksanya termasuk soal masih minimnya angkutan umum sehingga jalan kaki menjadi alternatif yang paling memungkinkan.

Begitu pula dengan anak-anak jaman dulu yang untuk bisa mencari informasi tentang sesuatu harus pergi ke perpustakaan dan kemudian membuka-buka koleksi buku perpus, sebab memang itu satu-satunya yang bisa dilakukan, maklum, mesin pencari saat itu belum ada.

Nah, kalau sekarang, tentu banyak anak sekolah yang lebih memilih berangkat sekolah naik gojek sebab memang itu alternatif yang paling mudah, murah, dan memungkinkan. Pun banyak juga yang malas ke perpustakaan untuk mencari informasi sebab akan lebih efektif jika itu dilakukan melalui mesin pencari seperti Google.

Nah, tradisi mendiskreditkan generasi tanpa melihat konteks ini terus berlanjut.

Salah satu yang paling menyebalkan tentu saja adalah bagaimana anak-anak kelahiran 90-an merendahkan generasi di bawahnya yang dianggap terlalu kecanduan hape.

“Jaman kita dulu anak-anak mainnya sepakbola, petak umpet, lompat tali, egrang, kelereng, dan permainan-permainan lain yang melatih fisik, keterampilan, dan kebersamaan. Kalau anak-anak jaman sekarang, dikit-dikit main hape.”

Tentu kita tak asing dengan kalimat semacam itu.

Kalimat tersebut memang terasa wajar, namun ada satu penafikan di dalamnya. Lagi-lagi ini tentang konteks.

Anak-anak kecil jaman sekarang banyak bermain hape salah satu hal terbesarnya adalah karena sering melihat generasi di atasnya juga sering bermain hape.

Anak adalah peniru yang ulung. Utamanya meniru orang-orang dewasa.

Iklan

Dan kita semua tahu, di jaman sekarang, banyak orang dewasa yang sangat-sangat kecanduan hape. Tiada hari tanpa membuka hape. Dalam salah satu penelitian, hape bahkan menjadi benda yang hampir selalu dipegang oleh orang sesaat sebelum tidur dan sesudah tidur.

Dengan fakta ini, lantas siapakah yang sebenarnya layak disalahkan jika banyak anak-anak jaman sekarang yang hampir tidak pernah bermain bersama di lapangan dan lebih memilih bermain hape?

Jawabannya tak lain dan tak bukan tentu saja orang dewasa, kaum yang justru sering menyalahkan anak-anak karena keseringan main hape.

Ketika kita sebagai orang dewasa sering sekali bermain hape, tak kenal waktu, maka adik-adik kita secara naluriah akan meniru kita.

Para orangtua pun demikian. Banyak yang tak bisa bersikap tegas karena mudah memberikan hape pada anaknya yang masih kecil hanya demi gengsi karena anak-anak sebaya lainnya sudah punya hape. Ego ke-orangtua-annya terusik dan tak tega melihat anaknya hanya melihat anak-anak lain bermain hape, sehingga mau tak mau, ia luluh juga dan akhirnya ikut membelikan hape pada anaknya.

Banyak orang dewasa tak sadar, Bahwa ia menyalahkan anak atas sesuatu yang sebenarnya ia sendiri ikut menjadi penyebabnya.

Saya jadi ingat dengan nasihat bapak kawan saya kepada kawan saya. “Nak, kesehatan itu penting. Olahraga harus rutin. Dan ingat, jangan suka merokok,” ujarnya sembari mengebulkan asap rokok kebal-kebul dari mulutnya.

Benar kata banyak anak. “Orang dewasa itu menyebalkan”

Terakhir diperbarui pada 30 Januari 2019 oleh

Tags: dewasagenerasi
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal MOJOK.CO
Esai

Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal

24 Juni 2026
Ibu yang sudah menua sering diabaikan anak
Catatan

Orang Tua yang Menua adalah Ketakutan Terbesar Anak, meski Kita Menolak Menyadarinya

13 Februari 2026
Kepada Siapa Aku Harus Bercerita Saat Sudah Jadi Orang Dewasa? UNEG-UNEG. MOJOK.CO
Kilas

Kepada Siapa Aku Harus Bercerita Saat Sudah Jadi Orang Dewasa?

28 Mei 2023
Keluh kesah dari remaja yang menuju dewasa
Uneg-uneg

Keluh Kesah Remaja yang Beranjak Dewasa

15 Januari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jupiter Z1 Adalah Motor Yamaha Terbaik Idola Orang Jambi MOJOK.CO

Setelah Melakukan Pengamatan, Saya Menemukan Fakta Bahwa Jupiter Z1 Adalah Motor Yamaha yang Menemukan Habitat Alaminya di Jambi

25 Juni 2026
gagal jastip saat war tiket konser BTS. MOJOK.CO

Pertama Kali War Tiket Konser BTS: Trust Issue Pakai Jastip karena Selalu Gagal, Justru Hoki Berkat Teman yang FOMO

23 Juni 2026
AUBMO Selamatkan Hidup Mahasiswa penerima KIP-K di Unair. MOJOK.CO

Di Balik Skandal Korupsi Rp103 Juta, AUBMO Menyelamatkan Hidup Mahasiswa Penerima Beasiswa yang Merantau

23 Juni 2026
Gen Z, membaca, buku.MOJOK.CO

Gen Z di Indonesia, Generasi Paling Aktif Membaca tetapi Paling Tak “Terliterasi”

24 Juni 2026
Malang Santai Sayang, tapi Kritik Tak Lagi Santai MOJOK.CO

Malang Santai Sayang, tapi Kritik Tak Lagi Santai 

26 Juni 2026
MLSC, Yogyakarta.MOJOK.CO

Redemsi Yogyakarta All Stars, Menolak Pulang Lebih Awal

26 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.