Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Perihal Kematian yang Menyenangkan dan Mengecewakan

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
28 Februari 2019
A A
kematian
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi banyak orang, kematian adalah bagaikan musuh yang sangat menakutkan. Bagi sebagian yang lain, kematian adalah bagaikan kawan lama yang akan selalu siap disambut dengan penuh tawa dan sukacita.

Saya bingung saya termasuk golongan yang mana, namun yang jelas, saya pernah bertemu dengan penyambutan ala kematian yang menakutkan namun juga penuh dengan tawa.

Kejadian itu terjadi kalau tak salah saat saya masih kelas 2 SMA.

Entah karena sebab apa, tubuh saya mendadak menjadi begitu lemas dan tak bertenaga. Bahkan untuk sekadar jalan pun rasanya susah. Saya akhirnya hanya bisa tiduran di atas kasur tak melakukan apa-apa.

Padahal, sehari sebelumnya, saya sehat bergas terampil dan trengginas.

Maka, begitu di hari berikutnya saya ternyata tumbang dan bertenaga itu, bayangan akan sakit yang mengerikan pun kemudian mulai menghantui saya. Saya membayangkan hal-hal menakutkan yang akan terjadi pada tubuh saya yang semakin lemas dan tak berdaya.

Pada satu titik, bayangan akan sakit parah itu kemudian membuat saya yakin, bahwa ajal saya sudah dekat.

Dalam kondisi yang demikian, saya kemudian memanggil adik pertama saya. Saya katakan pada dia bahwa hidup saya tak akan lama lagi.

Adik saya mulai menangis.

“Mas, jangan bilang seperti itu…” katanya.

Saya kemudian menyuruhnya untuk mengambil buku dan pulpen. Saya memintanya untuk mencatat daftar hutang saya.

“Aku punya hutang sama Bose (salah satu kawan saya) sekian (saya tak ingat berapa angkanya), sama Yanto sekian, sama Hasan sekian…” kata saya. “Tolong kalau aku sudah mati, bilang sama bapak untuk melunasinya…”

Adik saya semakin deras tangisnya.

“Mas, tolong jangan bilang begitu…” ujarnya merajuk.

Iklan

Saya tak peduli dengan rajukan adik saya. Saya pun kemudian melanjutkan beberapa tanggungan yang belum saya tunaikan.

“Trus, aku juga punya tanggungan beberapa garapan stiker yang belum aku kerjakan, nanti tolong bilangke sama yang pesen…”

Setelah memberitahukan semua hutang dan tanggungan kerjaan saya pada adik saya, saya pun kemudian merasa tenang. Saya kemudian tertidur.

Esok paginya, oleh ibu dan adik saya, saya dibawa ke mantri kesehatan desa. Saya diperiksa. Dan hasil pemeriksaannya sungguh membikin saya senang sekaligus kecewa.

“Cuma masuk angin biasa,” kata Bu Mantri pada Ibu saya.

Saya senang karena ternyata saya cuma masuk angin biasa. Namun saya juga kecewa sebab pikiran saya soal kematian ternyata meleset jauh.

Sejak saat itu, saya kemudian sering digoda oleh adik saya.

“Cieeeee, yang pernah mau mati…” atau “Cieeeee, yang yang sempet-sempetnya bikin pesan terakhir…”

Bedebah. Perihal kematian ternyata bisa sengehek dan sememalukan ini.

Terakhir diperbarui pada 7 Maret 2019 oleh

Tags: kematianpesan terakhirwasiat
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Lula Lahfah Beri Pelajaran Penting tentang Kabar Duka: Saat Kematian Tak Dibiarkan Hening MOJOK.CO
Esai

Lula Lahfah Beri Pelajaran Penting tentang Kabar Duka: Saat Kematian Tak Dibiarkan Hening

28 Januari 2026
Wanita Rembang Menanti Suami yang Tenggelam di Laut MOJOK.CO
Catatan

Pilunya Wanita Rembang, Tetap Menanti Suami Pulang Meski Telah Tenggelam di Laut dan Tak Pernah Ditemukan

29 Februari 2024
Penjual Peti Mati Cerita Tanda-tanda di Luar Nalar Sebelum Dagangannya Laku MOJOK.CO
Liputan

Penjual Peti Mati Cerita Tanda-tanda di Luar Nalar Sebelum Dagangannya Laku

31 Agustus 2023
Kok Ada Ayat Jangan Mati kecuali dalam Keadaan Muslim? Lah Kan Mati Bukan Kita yang Ngatur?
Khotbah

Kok Ada Ayat Jangan Mati kecuali dalam Keadaan Muslim? Lah Kan Mati Bukan Kita yang Ngatur?

5 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Merayakan Sofistikasi Djent ala Bless The Knights yang Keras Kepala.MOJOK.CO

Merayakan Sofistikasi Djent ala Bless The Knights yang Keras Kepala

13 Juli 2026
Suzuki S-Presso memang mobil aneh karena jelek tapi keren MOJOK.CO

Ibarat kata, Suzuki S-Presso adalah “Crocs KW” yang jelek tapi keren dan kini menjadi benteng pertahanan terakhir melawan kegilaan dunia yang serba mahal ini

14 Juli 2026
Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO

Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

15 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.