Di bis jurusan Jogja-Semarang itu, di terminal Magelang, saya duduk di kursi dekat jendela. Saya duduk sendiri. Sebagian penumpang sudah pada turun di Artos Mall. Hanya tersisa beberapa penumpang yang bertahan sampai terminal karena masih harus menempuh perjalanan sampai Semarang.

Saya selalu suka berpegian dengan bis utamanya yang ekonomi. Apalagi kalau dapat jatah tempat duduk di kursi bagian belakang. Selalu ada cerita menarik yang bisa saya tulis. Tak ada yang lebih menyenangkan ketimbang mencuri dengar obrolan antara kernet dengan penumpang di kursi belakang.

Obrolan-obrolan polos yang kadang lucah, kadang menyayat, kadang lucu, dan kadang datar biasa saja. Ada banyak drama yang bisa terjadi di kursi belakang.

Drama di bis ekonomi tentu saja bukan drama tentang orang-orang elit, drama yang terjadi di bis selalu drama tentang perjuangan menyambung hidup, drama tentang rumah tangga, drama tentang bagaimana agar tetap bisa makan dan menyekolahkan anak, juga drama tentang betapa manusia adalah makhluk yang selalu membutuhkan satu sama lain.

Tiga belas tahun lalu, saat masih SMP, saya pernah naik bis untuk pulang sekolah. Uang saku saya waktu itu hanya tinggal 300 rupiah, padahal ongkos bis harusnya 500 rupiah.

Saya nekat naik bis walaupun ongkos saya kurang. Saya tak punya pilihan. Pulang ke rumah dengan berjalan kaki tentu bukan pilihan yang bagus untuk saya ambil, sebab jarak sekolah dengan rumah saya memang cukup jauh, lima kilo lebih.

“Pak, saya bayar tiga ratus, ya, terserah saya mau diturunkan di mana, uang saya tinggal ini,” kata saya pada kernet.

“Nggak papa, Le, saya turunkan kamu di tempat di mana kamu seharusnya turun. Duitnya kurang nggak papa. Anak saya dulu pas sekolah juga sering uang sakunya kurang,” ujar kernet sembari mengenang anaknya.

Ingatan tentang kernet baik hati itu sampai sekarang masih terus saya simpan. Ia menjadi salah satu fragmen yang membuat saya yakin, bahwa ada kisah-kisah kemanusiaan di dalam bis.

Dalam salah satu perjalanan, saya pernah bertemu dengan seorang tua penjual gethuk yang menjajakan dagangannya di dalam bis. Tampangnya lucu. Tapi perjuangan hidupnya jelas sangat tidak lucu.

Tiap kali ada orang yang membeli dagangannya, ia tak langsung berlalu dari orang yang membeli dagangannya, ia justru berdiam diri sejenak, mendoakan si pembeli dengan doa yang lumayan panjang, dan kemudian diakhiri dengan nasihat yang amat bagus: “Sholatnya dijaga, ya!” Nasihat yang selalu ia ucapkan tak peduli si pembeli muslim atau bukan.

Kali waktu, dalam sebuah perjalanan yang lain, saya pernah bertemu dengan seorang ibu penjual makanan kering yang menjajakan makananannya di terminal.

Tak ada alasan bagi saya untuk tak kasihan padanya. Lha gimana, ia membawa keranjang makanan di tangannya sembari menggendong anaknya yang masih kecil di punggungnya.

Melihat bagaimana ia berkeliling menjajakan dagangannya sambil sesekali memastikan anaknya tidak jatuh dari gendongan, timbul trenyuh dan haru yang amat dalam. Bertapa perjuangan seorang ibu adalah perjuangan yang amat paripurna.

Saya ingin sekali mengasihani si ibu, tapi kemudian saya urungkan. Saya ingat dengan apa kata Sujiwo Tejo itu. “Merasa kasihan dengan orang lain adalah kesombongan tersendiri, sebab engkau merasa lebih baik ketimbang orang yang engkau kasihani.”

Lagipula, kelihatannya saya tak pantas mengasihani si Ibu maupun anaknya. Si ibu, adalah orang yang kuat, perempuan yang beruntung, dengan perjuangannya yang berat untuk bertahan hidup dan menghidupi keluarganya, sudah pasti ia bakal diganjar pahala yang sangat besar oleh yang maha Pemberi.

Sementara anaknya, saya juga tak pantas mengasihaninya, sebab ia anak yang dahsyat. Anak yang tangguh. Ia sudah ditempa oleh jalanan dan kehidupan yang keras ketika anak-anak sebayanya asyik menonton video youtube dari ponsel milik orangtuanya.

Di dalam bis, di atas aspal terminal. Saya merasa menjadi manusia yang lemah. Amat lemah.

Dan ya, di dunia yang penuh dengan penderitaan yang kuat ini, saya selalu suka menjadi manusia lemah.