Di beranda facebook, banyak kawan saya yang meributkan soal rencana pemerintah (atau malah sudah?) untuk menaikkan iuran BPJS sebagai upaya untuk menstabilkan neraca keuangan BPJS yang dalam beberapa tahun terakhir selalu saja defisit.
Aneka komentar dan argumen berkelindan. Rata-rata tak setuju dengan kenaikan iuran BPJS. Dalam hal ini, saya pribadi pun tentu juga tak setuju.
 
BPJS ini memang dilematis. Bagi banyak orang ia adalah solusi yang baik atas masalah kesehatan nasional. Namun bagi banyak yg lain, ia dianggap sebagai sesuatu yang tidak ideal. Menambah beban pengeluaran bulanan. Sayangnya, orang-orang seperti ini banyak yang, menyitir istilah yang sedang populer, adalah parasit belaka. Tak pernah mau ikut BPJS atau nggak pernah mau bayar iuran. Giliran kena sakit berat dan tahu dia harus menjalani serangkaian pengobatan, barulah dia daftar BPJS. Rajin bayar iuran. Setelah sembuh, jadi sering nunggak.
 
Saya pribadi memandang BPJS, terlepas dari sistemnya yang mungkin belum sempurna, sebagai program yang sangat-sangat baik (Terima kasih Pak SBY, Pak Jokowi, dan semua pihak yang sudah ikut memperjuangkan program ini).
 
Memang, masih ada banyak yang bermasalah. Misal pelayanan masih kurang, klaim yang masih susah, fasilitas yang dibeda-bedakan, dsb. Namun, tentu kita tak bisa menafikan bahwa banyak yang terbantu dengan program ini. Kebetulan ada beberapa kawan saya yang biaya biaya cuci darah orangtuanya tercover, dua orang kawan saya istrinya terbantu karena biaya melahirkan menjadi jauh lebih ringan, ada saudara saya yang tak punya biaya operasi mata namun akhirnya bisa tertolong.
 
Bagi saya, kesehatan adalah modal dan investasi yang paling berharga. Itulah kenapa saya nekat untuk tak hanya ikut BPJS, namun juga asuransi swasta yang, iuran bulannya lumayan bikin pusing kalau pas sedang miskin-miskinnya.
 
Saya tentu tak bisa berkomentar banyak soal beban iuran BPJS sebab saya cukup beruntung karena kantor saya begitu baik dan sudi menanggung iuran BPJS saya. Namun tentu saja tidak semua orang seberuntung saya.
 
Nah, terkait dengan rencana kenaikan iuran BPJS ini, ada argumen yang sangat membuat saya gatal untuk menanggapi.
 
“Kalau iuran BPJS dinaikkan, yang paling rugi adalah mereka yang sudah tertib bayar iuran BPJS tapi belum pernah klaim.”
 
Entah kenapa, hal tersebut membuat saya gregetan.
 
Begini, lho. Kita ini kan bayar iuran BPJS tujuannya memang agar punya jaminan ketika ada masalah kesehatan. Sehingga, tujuan kita memang murni untuk kesehatan. Tak ada yang lain. Bukan soal balik modal.
 
Bagi saya, kalau kita tertib bayar iuran BPJS, dan ternyata blas nggak ada klaim. Maka itu artinya kita tak pernah rugi. Sekali lagi, tak pernah rugi. Kenapa? Sebab itu artinya sama gusti Allah kita dikasih sehat terus. Nggak dikasih sakit.
 
Rugi macam apa yang bisa didapat dari orang yang senantiasa sehat? Kenapa kita susah untuk pakai logika itu?
 
Kadang, saya berpikir, dalam urusan kesehatan, kita masih sering mikir untung rugi.
 
Dalam perkara begini, menurut saya, logika yang paling sederhana tentu saja adalah analogi satpam. Kita membayar satpam untuk menjaga barang di rumah kita agar tidak ada yang hilang. Nah, jika ternyata setelah kita merekrut satpam, ternyata rumah kita blas nggak ada maling atau rampok yang masuk, apakah itu artinya satpamnya nggak perlu dibayar? Tentu saja tidak.
 
Sedari awal, kita memandang biaya yang kita butuhkan adalah soal investasi keamanan. 
 
Urusan iuran BPJS ini, saya kerap meminta kerabat atau kawan untuk tak pernah merasa rugi membayar iuran BPJS. Diklaim atau tidak. Tetaplah berusaha untuk membayar dengan tertib.
 
Siapa tahu, Gusti Allah ngasih kita nikmat sehat sebagai imbalan atas kesungguhan kita membayar iuran dengan tertib.
 
Kalau kebetulan kita sakit dan harus klaim, maka tujuan kita tercapai. Kita menabung untuk membiayai pengobatan. Namun jika ternyata nggak diklaim, ya anggap saja itu bagian dari amal karena kita ikut membayar biaya pengobatan orang lain.
 
Lak yo ngono? Eh, piye jal?


Tirto.ID
Loading...

No more articles