Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Jogja terbuat dari Rindu, Pulang, Angkringan, dan Baliho Reno Maju

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
24 Agustus 2020
A A
baliho reno
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kalau saya ditanya siapa tokoh yang wajahnya kini selalu berseliweran melintas di hapadan pandangan mata saya, maka saya tak akan ragu untuk menyodorkan satu nama: Reno Candra Sangaji, lurah Condongcatur yang kini namanya sedang naik baliho itu.

Lha gimana nggak, dalam setiap perjalanan dari rumah saya di sekitaran Jalan Kaliurang atas ke berbagai tempat yang sering saya kunjungi, saya hampir selalu menyaksikan baliho besar bergambar wajah Pak Reno Sangaji dengan caption andalannya itu: Reno Maju.

Beberapa baliho lain bergambar wajahnya terpasang dengan caption yang lebih eye catching namun tetap simpel: Lurahe Condongcatur.

Tentu saja saya tak pernah kenal siapa Reno. Satu-satunya Reno yang saya tahu adalah Oppo Reno yang balihonya juga banyak tapi tak sekolosal baliho Reno yang “Maju”.

Tapi belakangan, mau tak mau, saya memang harus mulai berkenalan dengan Reno. Sebab mulai banyak orang yang bertanya kepada saya tentang siapa Reno itu.

Bayangkan, dari rumah saya di Jalan Kaliurang KM 10, saya bakal ketemu sama baliho Reno. Sampai di perempatan Kentungan dekat Superindo, saya ketemu lagi sama baliho Reno. Belok kiri menuju ke perempatan Condongcatur, jelas ketemu lagi Baliho Reno. Nanti dekat Hartono Mall, ketemu lagi sama baliho Rano. Menembus ring road, sampai selokan Mataram, ketemu lagi sama baliho Reno. Pokoknya, tiada hari tanpa Reno.

Saking seringnya saya bertemu dengan baliho Reno, saya sampai punya semacam permainan aneh yang sering saya mainkan bersama istri saya. sebuah permainan yang saya beri nama: “Menghitung Reno”.

Tiap kali mau mengunjungi sebuah tempat, misal toko jilbab, cafe, atau working space, saya dan istri saya sering menghitung berapa baliho Reno yang kami temui sepanjang perjalanan.

Sungguh, kalau Anda adalah warga Jogja, tak ada salahnya mencoba permainan ini.

Wajah Bapak Reno perlahan mulai menjadi top of mind di ketika saya memikirkan sosok yang sering saya lihat wajahnya di baliho. Ia mulai menggantikan posisi Anton Photo di dalam hati dan otak saya.

Saking banyaknya jumlah baliho Reno, sampai-sampai sudah pantas kalau Jokpin merevisi kutipan terkenalnya itu menjadi “Jogja terbuat dari Rindu, Pulang, Angkringan, dan Baliho Reno Maju.”

Saya tak paham apa maksud Reno Candra Sangaji memasang baliho bergambar wajah dirinya dengan jumlah yang tidak main-main di banyak titik di Jogja. Maklum saja, tidak ada pesan atau narasi khusus yang dicantumkan di baliho miliknya. Benar-benar cuma “Reno Maju” atau “Lurahe Condongcatur”.

Belakangan, setelah melalui puluhan hari dalam kepenasaranan, akhirnya saya tahu jua alasan Reno memasang baliho tersebut. Usut punya usut, ternyata ia memang berniat maju dalam Pilkada Sleman. Dari berita yang saya baca, ia sudah mendaftar sebagai bakal calon bupati Sleman melalui partai Golkar. Tak heran jika baliho yang ia pasang tidak ada embel-embel atau keterangan yang jelas, sebab memang belum masa kampanye.

Model promosi melalui baliho yang jumlahnya sangat masif ini kemudian mengingatkan saya pada Pilpres 2019. Di masa saat itu, saya bertemu banyak baliho bergambar Muhaimin “Cak Imin” Iskandar yang saat itu memang digadang-gadang bakal menjadi pendamping Jokowi sebagai calon wakil presiden.

Iklan

Saat itu, tak jauh beda dengan baliho Reno, baliho bergambar Cak Imin juga memenuhi banyak titik jalan di Jogja.

Di sana ketemu Cak Imin, di sini ketemu Cak Imin. Pokoknya ke mana-mana ketemu Cak Imin. Ia sampai mendapat julukan guyonan “Manusia seribu baliho”.

Kelak, waktu kemudian menentukan jalannya. Cak Imin “gagal” menjadi calon wakil presiden Jokowi. Intensitas kemunculan wajahnya pun kemudian kembali menurun seiring dengan makin berkurangnya baliho berwajah dirinya untuk kemudian digantikan oleh wajah Jokowi dan Ma’ruf Amin.

Orang-orang kemudian lupa dengan Cak Imin yang, pada satu titik, sempat menghiasai relung pandangan mata mereka.

Apakah kelak Reno bakal mengikuti jejak Cak Imin yang belakangan sudah membranding namanya dengan Gus Ami itu? Tentu saja tak ada yang tahu.

Namun yang jelas, kelak, seiring berjalannya waktu, baliho bergambar wajah Reno itu pasti akan berkurang drastis untuk kemudian digantikan oleh politisi-politisi lain.

Dari dulu, memang begitulah hubungan antara baliho dan politik.

Namun yang jelas, selagi baliho Reno Maju itu masih ada, mari kita nikmati saja. Nikmati wajahnya yang tampak sumringah itu. Setidaknya selagi bisa. Sebab belum tentu setelah ini ia masih bakal punya senyum yang sesumringah itu.

Ingat! Baliho politisi fana, spanduk rumah makan Pringsewu abadi.

Terakhir diperbarui pada 24 Agustus 2020 oleh

Tags: balihocondongcaturreno
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Dukuh Sanggrahan, Daerah Termaju di Condongcatur yang Jadi Saksi Muramnya Nasib Para Pekerja Jogja.MOJOK.CO
Ragam

Dukuh Sanggrahan, Daerah Termaju di Condongcatur yang Jadi Saksi Muramnya Nasib Para Pekerja Pakuwon Mall Jogja

19 Juni 2024
Depok dan Seturan Bikin SDM Sleman Paling Maju se-Indonesia MOJOK.CO
Esai

Tanpa Depok, Seturan, dan Babarsari, Sleman Tidak akan Menjadi Daerah dengan SDM Paling Maju se-Indonesia

12 Juni 2024
3 Alasan Mengapa Notoprajan Jogja Jadi Kawasan Paling Menyebalkan Bagi Driver Ojol.MOJOK.CO
Ragam

Monumen Kromoredjo Condongcatur, Saksi Bisu Kerasnya Kehidupan Jalanan Driver Ojol: Terlilit Utang, tapi Masih Mau Membantu Orang Asing yang Kesusahan

21 Mei 2024
scbd jogja.MOJOK.CO
Ragam

Kawasan SCBD Jogja Bukan Perkantoran Elite tapi Tempat Para Perantau Bakar Duit, Cari Kebebasan, dan Kesenangan

3 Mei 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit MOJOK.CO

Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit

13 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Suzuki S-Presso memang mobil aneh karena jelek tapi keren MOJOK.CO

Ibarat kata, Suzuki S-Presso adalah “Crocs KW” yang jelek tapi keren dan kini menjadi benteng pertahanan terakhir melawan kegilaan dunia yang serba mahal ini

14 Juli 2026
Yamaha Gear Ultima, Motor Underrated tapi Tangguh: Andalan Para Ibu Rumah Tangga bahkan Cocok Bagi Bikers Pecinta Touring.MOJOK.CO

Yamaha Gear Ultima, Motor Underrated tapi Tangguh: Andalan Para Ibu Rumah Tangga bahkan Cocok Bagi Bikers Pecinta Touring

12 Juli 2026
donasi ekonomi.MOJOK.CO

“Rakyat Bantu Rakyat” Menguat, tapi Jangan Jadi Alasan Pemerintah Lepas Tangan dan Abai Pada Nasib Masyarakat

14 Juli 2026
Impact of Asia Limited (IOA) Global Pte Ltd Singapura jajaki kerja sama jangka panjang dengan Jawa Tengah lewat investasi manufaktur hingga pengembangan SDM MOJOK.CO

Peluang Investasi dan Kesempatan Pelatihan di China bagi Anak Muda Jateng

14 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.