Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Hidup yang Sawang Sinawang ala Jogja dan Jakarta

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
15 Juni 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi banyak orang yang bekerja di Jogja, dengan pekerjaan yang nggak berat-berat amat, dan dengan gaji yang nggak rendah-rendah amat, rasanya tak ada yang lebih menyenangkan ketimbang mensyukuri kehidupan di Jogja dan menggunjingkan orang-orang yang hidup dan bekerja di Jakarta.

Puji Tuhan, saya termasuk dalam golongan ini.

Dan semalam, saya, bersama beberapa kawan yang juga berada dalam satu golongan, asyik melaksanakan ritual pergunjingan tersebut.

Kami memang sepakat, bahwa Jakarta bukan tempat yang ramah untuk hidup, setidaknya bila dibandingkan dengan Jogja.

Dafi, si redaktur Mojok yang bahkan tidak tahu apa arti kata Bucin itu, menceritakan pengalamannya saat sempat beberapa bulan bekerja di Jakarta. Ia mengatakan betapa di Jakarta, orang-orang punya logika jarak yang sangat menyedihkan.

Bayangkan, di Jogja, perjalanan dalam kota sejauh 30 kilometer bisa ditempuh dengan perjalanan santai dalam waktu satu jam. Waktu tempuh tersebut tentu saja tak bisa dicatatkan oleh orang-orang di jakarta. Lha orang-orang Jakarta itu mau bepergian 10 kilo saja bisa sampai 1 jam. Bahkan pada jam-jam tertentu, bisa berkali-kali lipat.

“Kantorku di Kemang, kosku di Senayan, paling cuma 7-8 kilo, tapi perjalananya bisa sampai satu jam,” katanya.

Dafi juga menceritakan bagaimana ia pernah menempuh waktu empat jam hanya untuk berkendara dari Jakarta selatan ke Bekasi.

“Bayangkan, Gus. Empat jam perjalanan. Itu kalau dipakai buat motoran dari Jogja, sudah sampai Semarang aku.”

Saya tentu saya mengamini apa kata dia, sebab saya pun berkali-kali mengalaminya. Terjebak dalam perjalanan berjam-jam padahal jarak yang ditempuh kerap tak lebih dari 10 kilo.

Kokok Dirgantoro, penulis Mojok yang sekarang nggak pernah menulis lagi di Mojok itu pernah suatu ketika datang ke acara Mojok di Jogja pukul 4 sore, padahal acara baru dilaksanakan pukul 6 dan jarak antara venue acara dengan penginapannya tak sampai 3 kilo. Ketika kami tanya, kenapa ia datang terlalu awal, jawabannya bikin kami geleng-geleng. “Wah, Aku lupa kalau ini di Jogja. Aku terbiasa menggunakan jam Jakarta. Kalau ada acara, aku terbiasa berangkat dua jam sebelumnya biar nggak terlambat.”

Lain jarak, lain pula kepekaan sosial.

Kawan kami yang lain, yang masih satu golongan, sebut saja Yanto, tak mau kalah. Ia menceritakan betapa orang Jakarta sangat berbeda dalam menyikapi kecelakaan.

“Kalau di Jogja, begitu ada orang jatuh dari motor, orang-orang pasti ngerubung dan menolong. Ada yang menggotong korban,ada yang menepikan motornya, atau memberikan air putih. Tapi kalau di Jakarta, beberapa kali aku saksikan sendiri, ketika ada orang jatuh dari motor di jalan raya, orang-orang sekitar hanya melihat dan nggak menolong. Butuh waktu sampai beberapa saat sampai kemudian ada satu atau dua orang yang menghampiri si korban untuk sekadar menanyakan kondisinya.”

Iklan

Saya mendengarkan ceritanya seraya mangut-mangut.

“Pokoknya ya lihat sekelebat, trus berlalu begitu saja. Seakan-akan semua punya kegawatan masing-masing sampai-sampai nggak punya waktu untuk sekadar menolong,” lanjut Yanto.

Hidup di Jakarta, memang nyatanya keras. Tahun 2013 silam, saya pernah terpaksa “kesasar” di Jakarta. Saya tak punya kenalan, juga tak punya banyak uang.

Dalam kondisi yang demikian, saya pun mencari musala. Tentu saja untuk numpang tidur. Maklum, di Jogja, saya biasa tidur di warnet atau musala kalau saya kemalaman.

Tapi ternyata, susah cari musala yang boleh ditumpangi untuk tidur. Beberapa kali saya ditegur oleh penjaga musala agar saya tidak tidur di musala yang mereka jaga.

“Jakarta ini memang kejam, og,” kata Dafi.

“Iya, jauh lebih enak Jogja.”

“Bener, kalau di Jakarta, sudahlah jalanan panas, macet, ramainya ngaudubillah, ditambah klaksonnya nggak berhenti-berhenti. Ya wajar kalau banyak orang yang stres di sana. Nggak betah,” sahut Yanto.

Jogja boleh jadi memang semakin macet. Namun, dalam kemacetan itu, nuansa srawung dan tepo seliro masih cukup terasa.

Ini nyata adanya. Dalam kemacetan Jogja, kita masih sering berjumpa dengan pengendara-pengendara yang saling meminta dan menerima maaf sembari menyunggingkan senyum saat kendaraan mereka menyenggol dan tersenggol kendaraan lain. Mereka sadar, bahwa dalam macet, bersenggolan adalah hal yang lumrah. Macet memang menyempitkan jangkauan kendaraan mereka, tapi sekaligus juga melapangkan hati mereka.

“Kalau di Jakarta, senggol dikit, panas semua.”

Obrolan semalam entah kenapa menjadi klop. Mungkin karena obrolan tersebut melibatkan orang-orang yang sama-sama pernah merasa sakit hati dengan Jakarta. Dan sudah mahfum, bahwa obrolan orang-orang yang punya musuh yang sama, cenderung sangat mengasyikkan.

“Tapi kamu sadar nggak, Daf, To, bahwa orang-orang Magelang, Wonosobo, Temanggung, Klaten, dan kota-kota kecil di sekitar Jogja juga merasa seperti kita?”

“Maksudnya?”

“Ya merasa bahwa hidup mereka jauh lebih mengasyikkan ketimbang hidup orang-orang Jogja. Sama seperti kita yang merasa sangat nyaman kerja di Jogja dan membandingkannya dengan orang-orang Jakarta.”

“Bisa jadi. Dan kelihatannya sangat mungkin.”

Hidup memang sawang-sinawang.

Terakhir diperbarui pada 15 Juni 2019 oleh

Tags: jakartaJogja
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO
Urban

Bagi Pekerja Bergaji Dua Digit “Nanggung” di Jakarta, Menyewa Apartemen di Tengah Kota Lebih Baik Ketimbang Ambil KPR di Pinggiran

9 Februari 2026
Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan Lebih Mudah Diterima daripada Gagal Jadi Sarjana Hukum UGM MOJOK.CO
Edumojok

Perjuangan Ojol sambil Kuliah: Pernah Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan, Kini Lulus Jadi Sarjana Hukum UGM

5 Februari 2026
Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO
Sosok

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026
Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik MOJOK.CO
Esai

Masturbasi di KRL dan TransJakarta: Maskulinitas Kota dan Tubuh yang Terjepit di Ruang Publik

4 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jogja City Mall, Sleman bikin orang nyasar. MOJOK.CO

Megahnya Jogja City Mall Bergaya Romawi dengan Filosofi Keberuntungan, Nyatanya Makin Menyesatkan Orang “Buta Arah” Seperti Saya

3 Februari 2026
TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO

Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti

7 Februari 2026
Rekomendasi penginapan di Lasem, Rembang. MOJOK.CO

Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal

6 Februari 2026
Hidup setelah resign dan menikah. MOJOK.CO

Dihujat ‘Salah Pilih Suami’ usai Menikah karena Terlanjur Resign dari Pramugari, Kini Jadi Pedagang Kopi Keliling

3 Februari 2026
Balai Penjamin Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Sumatera Selatan menjadikan peringatan Hari Ulang Tahun ke-42 sebagai momentum strategis untuk memperkuat ekosistem pendidikan yang inklusif dan kolaboratif MOJOK.CO

BPMP Sumsel Bangun Ekosistem Pendidikan Inklusif Melalui Festival Pendidikan

7 Februari 2026
self reward.mojok.co

Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan

6 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.