MOJOK.CO – Kalau pekerjaannya ABRI, dokter, arsitek, guru, tentu mudah untuk menjelaskannya kepada orangtua, tapi kalau Buzzer, Influencer, freelancer, dan -er -er lainnya, tentu tak semudah itu.

Saya sedang duduk di sebuah warung penyetan pecel lele, menunggu pesanan makanan saya datang, sebab saat itu, baru teh anget dan air kobokannya saja yang sudah disajikan di atas meja. Di seberang saya, duduk seorang lelaki setengah baya yang juga sama-sama sedang menunggu pesanannya datang.

Mungkin karena dilandasi jiwa korsa sebagai sesama lelaki yang kelaparan tapi makanan belum datang, ia kemudian berbasa-basi membangun percakapan dengan saya.

“Kuliah di mana, Mas?” tanyanya.

Saya, dengan tampang yang sebenarnya sangat tidak akademik, agak tersinggung. Maklum, sebagai anak yang nggak pernah kuliah, ditanya kuliah di mana rasanya memang agak anyel. Rasanya pengin saya bales, “Lha kalau sampeyan jadi dosen di mana?”, tapi tentu saja itu urung terjadi.

“Nggak kuliah, Pak. Saya kerja.”

“Ooo, kerja apa, Mas? Di mana?”

Nah, jika pertanyaan pertama bikin saya anyel, maka pertanyaan kedua ini bikin saya bingung. Maklum saja, setiap kali ditanya kerja di mana, saya memang selalu butuh waktu ekstra untuk berpikir mencari jawabannya. Bukan karena pekerjaan saya nggak punya nama, tapi karena saya bingung, bagaimana menerangkan pekerjaan saya.

Begini, saya bekerja sebagai seorang redaktur di sebuah media online. Media yang sedang Anda baca sekarang ini. Masalahnya, tidak mudah menjelaskan profesi ini. Pengin bilang wartawan, tapi saya bukan wartawan. Pengin jawab jurnalis, tapi saya merasa kata “jurnalis” masih terlalu asing.

Pada akhirnya, jawaban yang saya berikan adalah jawaban “dusta” yang saya anggap paling mudah dan paling mewakili pekerjaan saya walau secara teknis agak berbeda.

“Kerja di penerbitan buku, Pak. Jadi tukang ngedit naskah.”

* * *

Menjawab pertanyaan “kerja apa?” di jaman sekarang memang pada titik tertentu bukanlah hal yang mudah. Di era digital seperti sekarang ini, banyak pekerjaan baru yang kadang memang susah untuk dipahami oleh orang-orang tua.

Sebelum bekerja sebagai redaktur, saya sempat bekerja sebagai blogger. Ehm, sebenarnya bukan pekerjaan juga, sih, tapi karena saat itu, itulah “kegiatan” yang menghasilkan uang bagi saya, jadi saya akui saja itu sebagai pekerjaan.

Nah, menjelaskan blogger sebagai pekerjaan itu adalah sebuah kesulitan tersendiri. Bayangkan, bagaimana menjelaskan apa itu blogger kepada orang yang bahkan tidak tahu apa itu internet.

Itulah sebabnya saya mengaku sebagai penulis kalau bapak saya nanya. Dan itu kadang membawa saya pada permasalahan yang lain, sebab bapak saya tampaknya tak terlalu suka dengan pekerjaan menulis. Bapak saya menganggap bahwa menulis adalah hobi belaka, bukan pekerjaan.

Bapak saya memang ingin sekali saya bekerja yang “benar-benar kelihatan kerja”. Semacam pekerjaan yang, apa ya, pokoknya semacam kerja yang ada seragamnya, lah. Padahal kalau bapak saya mau lebih sering menonton serial Spongebob Squarepants, bapak saya pasti paham satu kata mutiara dari Squidward bahwa seragam adalah simbol penindasan.

Beruntung, dari ngeblog, saya bisa menghasilkan uang yang lumayan, uang yang bisa saya belikan televisi, mesin cuci, kulkas, dll sehingga bapak saya mulai “merestui” pekerjaan saya yang penulis itu.

Ketika kemudian saya bekerja sebagai redaktur di media online, kesulitan menerangkan pekerjaan ini kembali menjadi rutinitas saya sehari-hari.

* * *

Tak bisa kita mungkiri bahwa memang era digital banyak melahirkan profesi-profesi baru yang kerap tidak mudah dimengerti oleh orang-orang tua, apalagi yang tidak melek teknologi. Jangankan orang tua, bahkan untuk menjelaskan pekerjaan yang agak rumit, misal programmer atau layouter kepada kawan sendiri yang usianya sepantaran saja kadang kita begitu kesulitan untuk mencari kata-kata yang termudah.

Beberapa profesi baru muncul seiring dengan kebutuhan di era digital. Bisnis jual beli online, misalnya, melahirkan satu profesi baru bernama sprinter, yakni orang yang mengambil paket dari penjual untuk kemudian menyebarkannya ke counter-counter ekspedisi.

Bisnis kampanye digital melahirkan profesi buzzer dan influencer, dua profesi yang cukup sering membikin orang bingung untuk menjelaskannya.

Berbagai profesi ini muncul tanpa banyak diduga oleh banyak orang. Jasa apa pun ada. Bahkan untuk sekadar bikin caption Facebook atau Instagram pun ada yang siap mengerjakannya. Dan kelak, aneka profesi yang “aneh” itu bakal membawa konsekuensi berupa kesulitan menerangkan pekerjaannya kepada orangtua atau calon mertua.

Kalau tidak diterangan dengan detail, hal tersebut mampu melahirkan polemik tersendiri. Seorang kawan pernah ditanya oleh seorang petugas kecamatan tentang pekerjaannya. Ia menjawab “penulis”. Sesaat setelah menjawab pertanyaan tersebut, si petugas kemudian langsung pasang tampang ramah. Padahal sebelumnya, wajahnya sengak bukan kepalang.

Belakangan diketahui kalau si petugas kecamatan mengira kalau pekerjaan penulis itu ya wartawan. Sehingga ia takut kalau ia bersikap tidak ramah, niscaya bakal ditulis di media.

Modiar.

Seorang kawan saya yang lain, yang kebetulan juga penulis punya nasib yang nggak jauh berbeda. Ketika ia menjawab profesinya sebagai “penulis”, orang yang tanya itu langsung menimpali, “Oalah, sekretaris.”

Ah, betapa susahnya hal yang sebenarnya simpel begini.

Saya jadi nggak bisa bayangin bagaimana kawan-kawan saya yang bekerja sebagai admin sosial media menjelaskan pekerjaannya.

“Kamu kerjanya apa, Dek?”

“Admin sosial media, Bu.”

“Admin sosial media? Itu kerjanya ngapain?”

“Ya ngurus Facebook, Twitter, sama Instagram.”

“Oalah, anak muda sekarang ya, bukannya kerja, malah Facebookan.”