Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Bakat Bertampang Rakyat Jelata

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
21 Oktober 2018
A A
Bakat Bertampang Rakyat

Bakat Bertampang Rakyat

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dalam kisah pewayangan, kita mengenal sosok bernama Dasamuka, ia merupakan sosok yang punya tampang sesuai dengan namanya, dasamuka: berwajah sepuluh.

Saya tentu saja tak tahu, bagaimana rasanya menjadi seorang dasamuka, lelaki dengan sepuluh wajah. Boleh jadi rasanya menyenangkan, sebab dengan sepuluh wajahnya, ia setidaknya tak bakal ditampar oleh perempuan yang muak dengan sikap dan kelakuannya. Yah, kecuali memang perempuannya punya nyali dan tenaga sepuluh kali lipat. Atau, bisa juga menyebalkan karena konsumsi sabun muka untuk mengurangi minyak dan mengusir komedo di wajahnya harus sepuluh kali lipat lebih banyak ketimbang pria-pria lain pada umumnya.

Namun demikian, saya punya sedikit gambaran tentang bagaimana rasanya ketika tampang kita diartikan dan diinterpretasikan sebagai banyak tampang lain yang bukan kita.

Saya pernah mengalaminya, dan berkali-kali.

Saya ingat betul, beberapa tahun yang lewat, dalam sebuah acara resepsi pernikahan seorang sanak, saya pernah dianggap sebagai petugas katering. Padahal penampilan saya kala itu cukup meyakinkan sebagai tamu undangan, bukan sebagai seorang petugas yang bertugas menunggu satu stan makanan.

“Mas, saya siomay-nya satu, ya,” ujar seorang tamu perempuan pada saya.

Ia menganggap saya yang berdiri tak jauh dari stan siomay kala itu sebagai petugas penunggu stan yang bertugas menyajikan siomay kepada para tamu.

“Ehm, maaf mbak, mas siomay-nya sedang ke belakang, saya di sini juga sedang menunggu siomay…” ujar saya.

Si Mbaknya tampak merasa bersalah dan tak enak pada saya. Ia kamudian meminta maaf dan segera menyingkir, tak jadi memesan siomay.

Saya sempat agak jengkel, untung mbaknya cantik, jadi jengkel saya bisa segera mereda seketika.

Tapi yang jelas, ada satu hal yang kemudian saya mesti ketahui: Ternyata tampang saya cocok sebagai seorang petugas katering pernikahan, wabil khusus petugas penjaga stan siomay.

Pada kesempatan yang lain, saat plesir belanja oleh-oleh di salah satu pusat oleh-oleh di Madura, saya disalahsangkakan sebagai penjual oleh-oleh. Padahal sekali lagi, penampilan saya sebenarnya cukup layak sebagai seorang turis yang ingin membeli oleh-oleh di sana.

Kali ini, yang menyalahsangkakan saya adalah seorang perempuan setengah baya yang kebetulan juga sama-sama turis.

Saya dikira sebagai penjual oleh-oleh mungkin karena saya menenteng rengginang (yang sedang ingin saya beli), dan berdiri di dekat pintu lapak.

Iklan

“Mas, kalau yang ini harganya berapa mas?” begitu tanya si turis perempuan itu.

Saya tak tahu, kenapa penampilan saya yang sebenarnya sudah cukup turis itu masih saja tak mampu menjadikan saya sebagai seorang turis sampai-sampai ada orang yang menganggap saya sebagai penjual oleh-oleh.

Akhirnya, saya kembali tahu akan satu hal: tampang saya ternyata cocok sebagai seorang penjual oleh-oleh di tempat wisata.

Yang paling saya ingat tentu saja adalah sebuah peristiwa memalukan di pusat kota Jakarta beberapa tahun yang lalu.

Saat itu, saya baru pertama kalinya ke Jakarta seorang diri. Saya tak terlalu tahu arah. Tujuan saya ke Jakarta saat itu adalah untuk menghadiri acara diskusi yang diadakan oleh salah satu BUMN di sebuah hotel di sekitaran jalan Sudirman. Saat itu, saya kebetulan menjadi salah satu pemenang lomba blog yang diadakan oleh BUMN tersebut, dan penyerahan hadiahnya dilaksanakan bersamaan dengan acara diskusi, sehingga saya harus datang langsung ke Jakarta untuk mengikuti rangkaian acaranya.

Saya turun dari bus TransJakarta di salah satu halte di jalan Sudirman. Karena saat itu saya belum akrab dengan Google maps, maka saya pun bertanya ke beberapa orang yang lalu lalang di sekitaran jalan Sudirman tentang lokasi hotel tempat acara dilaksanakan.

Dan bajangkrek setan alas, saat saya akan bertanya pada seorang pria setengah baya, dia secara spontan menyodorkan tangan seolah-olah ingin mengatakan “yang lainnya saja…”

Bedebah, kali ini saya dikira pengemis.

Saya tentu saja jengkel setengah modiar. “Asuuu!!!” umpat saya dalam hati. Bagaimana bisa saya disalahsangkakan sebagai pengemis, padahal seingat saya, penampilan saya waktu itu tidak buluk dan tidak compang-camping amat.

Bah, satu lagi fakta yang harus saya ketahui: tampang saya ternyata juga cocok sebagai seorang pengemis di tengah belantara ibukota.

Kini saya paham betul, bahwa semua orang memang ditakdirkan untuk punya bakat masing-masing. Dan bakat saya yang paling menonjol agaknya adalah membaur bersama rakyat.

Terakhir diperbarui pada 6 November 2018 oleh

Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

5 makanan khas Jawa Timur (Jatim). Beri kesempatan kaum pas-pasan cicipi kuliner terbaik/terenak dunia MOJOK.CO
Kuliner

5 Makanan Khas Jawa Timur yang Beri Kesempatan Orang Pas-pasan Nikmati Kuliner Terenak Dunia, Di Harga Murah Pula

1 Maret 2026
Honda Scoopy Jual Tampang Bikin Malu, Mending Supra X 125
Pojokan

Honda Scoopy yang Cuma Jual Tampang Seharusnya Malu kepada Supra X 125 yang Tampangnya Biasa Saja, tapi Mesinnya Luar Biasa

28 Februari 2026
Motor Matic Sering Dibilang Ringkih dan Modal Tampang Doang, tapi Saya Tetap Memilihnya daripada Motor Bebek Mojok.co
Pojokan

Motor Matic Sering Dibilang Ringkih dan Modal Tampang doang, tapi Saya Tetap Memilihnya daripada Motor Bebek

28 Februari 2026
Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) kerap disalahpahami mahasiswa PTN atau PTS umum lain MOJOK.CO
Edumojok

4 Hal yang Sudah Dianggap Keren dan Kalcer di Kalangan Mahasiswa UIN, Tapi Agak “Aneh” bagi Mahasiswa PTN Lain

28 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pekerja gila Surabaya yang melamun di Danau UNESA. MOJOK.CO

Danau UNESA, Tempat Pelarian Pekerja Surabaya Gaji Pas-pasan dan Gila Kerja. Kuat Bertahan Hanya dengan Melamun

24 Februari 2026
Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Muhammadiyah selamatkan saya dari tabiat buruk orang NU. MOJOK.CO

Saya Bukan Muhammadiyah atau NU, tapi Pilih Tinggal di Lingkungan Ormas Bercorak Biru agar Terhindar dari Tetangga Toxic

25 Februari 2026
Motor Matic Sering Dibilang Ringkih dan Modal Tampang Doang, tapi Saya Tetap Memilihnya daripada Motor Bebek Mojok.co

Motor Matic Sering Dibilang Ringkih dan Modal Tampang doang, tapi Saya Tetap Memilihnya daripada Motor Bebek

28 Februari 2026
Perfeksionis

Derita Jadi Orang Perfeksionis: Dianggap Penuh Kesempurnaan, padahal Harus Melawan Diri Sendiri agar Tak Kena Mental

27 Februari 2026
lulusan LPDP, susah cari kerja.MOJOK.CO

Curhatan Alumni LPDP yang Merasa “Downgrade” Ketika Balik ke Indonesia, Susah Cari Kerja Hingga Banting Setir demi Bertahan Hidup

23 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.