MOJOK.CO – Kami berbincang dengan Ivan Lanin, wikipediawan pencinta (ingat, beda ya dari “pecinta”) bahasa Indonesia yang tidak mau dipanggil kamus berjalan.

Saya ingat betul, sore itu saya sedang menemani Kalis berbelanja sayur-mayur di salah satu swalayan di bilangan Jalan kaliurang. Kalis memang baru saja punya kompor dan kulkas di kontrakannya, tak heran jika kemudian ia punya nafsu memasak (yang tentu saja harus diikuti dengan nafsu belanja sayur-sayuran) yang sporadis. Dan sebagai kekasih yang baik, saya harus siap memfasilitasi nafsu memasak dan nafsu belajanya yang memang sedang berada dalam kurva tertinggi. Dan menemaninya saat belanja adalah salah satu implementasinya.

Saat saya duduk di salah satu sudut swalayan untuk menunggu Kalis memilih aneka sayur (yang entah kapan selesainya), pesan WhatsApp itu kemudian masuk.

Saya baca, ternyata dari kompatriot saya di Mojok, Prima “Cik Prim” Sulistya. Pesannya singkat, namun cukup membuat saya bergidik agak ngeri.

“Gus, sore ini bisa nggak syuting Movi, wawancara sama Ivan Lanin di Kafe Basabasi?” tulis Prima.

Saya langsung mak tratap. Bukan karena pesannya yang mendadak, namun karena ada embel-embel nama Ivan Lanin di situ. Di Movi, saya memang sudah biasa menjadi pewawancara. Jam terbang saya lumayan mengesankan. Namun, mewawancarai Ivan Lanin, itu tentu saja hal yang berbeda. Untuk soal satu ini tentu butuh mental, keberanian, dan kecakapan berbahasa yang mumpuni.

Prima menyuruh saya dan Iqbal Aji Daryono sebagai pewawancara.

Saya berusaha menolak, sebab saya merasa kurang kompeten untuk mewawancarai seorang Ivan Lanin. Saya memang sudah saling follow sejak lama dengan dia, tapi untuk ngobrol secara langsung, saya merasa jiper.

Rasanya berat untuk menjadi pewawancara bagi Ivan Lanin. Namun, Prima memohon dengan permohonan yang jauh lebih tulus ketimbang permohonan seorang terpidana mati, sebab menurut Prima, si Iqbal tidak berani mewawancarai Ivan Lanin jika tidak ditemani oleh saya. Trembelane.

Maka, sebagai pria berhati putih yang tiada tega melihat seorang perempuan seperti Prima harus memohon-mohon kepada lelaki seperti saya, akhirnya saya mengiyakan permintaan Prima.

Saya langsung mengabari Kalis soal hal ini. Alhamdulillah, ia adalah tipikal perempuan yang baik dan pengertian. Ia bukan saja mengizinkan saya untuk segera meluncur ke kafe Basabasi, ia bahkan menemani saya ke sana. Sungguh, rasanya ingin sekali saya segera melamar perempuan ini.

Di Kafe Basabasi, saya langsung bergabung bersama Prima, Iqbal, dan Pak Edi, juragan Kafe Basabasi yang sedang getol menggelar acara diskusi di kafenya itu, termasuk diskusi bersama Ivan Lanin yang sedianya terjadi malam di hari kami wawancara.

Kebetulan Ivan Lanin masih berada di hotel dan jadwal syuting Movi-nya masih dua jam lagi. Masih ada waktu untuk mempersiapkan beberapa pertanyaan yang nantinya bisa ditanyakan.

Dari Pak Edi, kami jadi sedikit tahu bagaimana sosok Ivan Lanin, utamanya dalam berkomunikasi.

“Dia itu cukup disiplin dalam berbahasa, aku ngomong marketplace, sama dia langsung dikoreksi menjadi lokapasar, aku ngomong outbond, langsung dikoreksi jadi mancakrida,” ujar Pak Edi sembari tertawa.

Kami ikut tertawa, walau jujur, dalam hati, kami semakin gentar.

Tak berapa lama Pak Edi harus pulang karena ada keperluan. “Nanti aku balik lagi,” katanya.

Tak berselang lama setelah Pak Edi pergi, muncullah sosok yang kami tunggu-tunggu. Ivan Lanin. Sosok yang tampangnya memancarkan optimisme bahwa Indonesia tak akan bubar di tahun 2030 nanti.

Sosoknya persis seperti yang terpampang di foto profil akun Twitter-nya: tinggi, putih, gagah, dan tentu saja, tampan.

Kedatangan Ivan Lanin sedikit memunculkan kembali rasa cemburu saya. Maklum, dulu Kalis pernah ikut kelas Ivan Lanin di acara Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI), dan ia begitu terkagum-kagum kepada Ivan Lanin.

“Ya ampun, Mas, Ivan Lanin itu lho, sudah pinter, peduli bahasa, orangnya cakep lagi. Apalagi kalau pas dia pakai baju putih, lengan bajunya di-luntung, dan pegang rokok. Sumpah, cakep biyangeeet, Mas,” kata Kalis kala itu.

Oleh karena itu, kehadiran Ivan di depan saya, terlebih ketika saya bersama Kalis, membuat saya sedikit insecure. Untung saya segera tersadar, Ivan Lanin sudah punya anak dan istri. Jadi, saya bisa merasa sedikit ayem.

Kami kemudian ngobrol ngalor-ngidul dengan Ivan Lanin. Kesan kaku serta serius dalam berbahasa ternyata sama sekali tidak tampak. Ia begitu rileks dan hangat. Sebagai satu-satunya orang yang bukan penutur bahasa Jawa, Ia bisa sangat cair menempatkan diri dalam obrolan-obrolan kami. Hal tersebut cukup membuat saya dan Iqbal rileks.

Kami menggoda Ivan dengan papan penunjuk pemesanan di dekat kasir kafe. Papan tersebut bertuliskan “ORDER DISINI”.

“Gimana rasanya melihat papan petunjuk pemesanan itu, Mas Ivan?” tanya saya.

“Nah, itu dia, saya dari tadi juga gatel banget pengin komentar soal itu sama Pak Edi. Itu kenapa harus ditulis ORDER, kenapa nggak ditulis PESAN, kan sama-sama lima huruf, terus kenapa DISINI, bukan DI SINI,” jawab Ivan.

Tentu saja kami tertawa.

“Saya itu selalu gelisah kalau malihat yang seperti itu,” kata Ivan Lanin, “Geregetan, gitu.”

Tawa kami semakin keras.

“Eh, ini nanti wawancaranya di panggung, ya?” tanya Ivan Lanin.

“Oh, enggak, kita wawancara di lantai dua, di atas, soalnya kita akan membicarakan bahasa dan bahasa selayaknya ditempatkan di tempat yang tinggi,” jawab saya.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah 7, saatnya wawancara. Kami pun segera naik ke lantai dua, ke sebuah ruangan yang memang sudah dipersiapkan Pak Edi untuk kami sebagai tempat wawancara.

“Bal, pokoknya, selama wawancara, kamu harus lebih banyak tanya lho, ya, kamu kan pengasuh blog Mabuk Bahasa, jadi kamu pasti lebih paham soal bahasa,” bisik saya kepada Iqbal.

Hasyah, tenang wae, aku yakin wawancara pasti berjalan lancar, wong tadi pas ngobrol saja suasananya nyaman, kok,” kata Iqbal mencoba ngayem-ayemi saya yang sebenarnya memang masih agak gugup untuk mewawancarai Ivan Lanin.

Alhamdulillah, selama wawancara, kami bertiga (saya, Iqbal, dan Ivan) bisa memunculkan suasana komunikasi yang lancar dan cair. Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan bagai peluru yang terus keluar dari magasin.

Beberapa pertanyaan bernada serius, tetapi lebih banyak yang nadanya bercanda.

Ada cukup banyak poin yang bisa kami bahas dalam obrolan selama satu jam itu. Ivan menceritakan bagaimana mulanya ia bisa terjun di dunia bahasa, bagaimana ia mengadapi pandangan-pandangan orang yang menganggapnya polisi bahasa, juga bagaimana ia menyikapi perbedaan mazhab dalam berbahasa.

Dalam obrolan kami, Ivan juga mengungkapkan kekecewaannya kepada orang-orang yang terlalu banyak berdebat remeh-temeh soal bahasa, padahal itu sama sekali tiada perlu.

“Kita itu lebih banyak memperdebatkan mana yang benar, misal jomblo atau jomlo, padahal itu sama sekali tak penting. Masih banyak masalah-masalah kebahasaan yang jauh lebih substansial dan kontekstual untuk dibicarakan.”

Di akhir obrolan, Ivan juga mengajak pada seluruh orang tua untuk mengajarkan bahasa daerah pada anak-anaknya, sebab di zaman yang semakin maju ini, bahasa daerah semakin sedikit penuturnya.

Ingat. Utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing.

Loading...



No more articles