• 13
    Shares

Curhat

Dear, Cik Prim dan Mas Agus yang bijak dan baik hati. Ini pertama kalinya saya kirim tulisan curhat ke mojok, semata karena saya sudah tidak tahu mau cerita sama siapa lagi. Curhatan ini sudah saya ceritakan pada teman-teman, respon yang mereka ucapkan adalah “Sabar, saya di sini untuk kamu”, padahal tidak ada. Semoga Cik Prim dan Mas Agus baca, syukur kalau dikasih solusi.

Begini ceritanya:

Saya sudah menjalani hubungan dengan seorang pria—sebut saja Ipul, selama empat tahun. Kami memutuskan berpisah karena saya ketahuan selingkuh. Saya terima dan enyahlah saya dari hidup dia. Namun ternyata, perjalanan melupakan itu tidak mudah. Selama hampir satu bulan, dia terus-menerus mengubungi saya dengan dalih ingin memulai kembali hubungan alias balikan. Saya kemudian memikirkan kembali alasan saya selingkuh yang mana antara lain adalah karena dia kasar, temperamental, dan ringan tangan.

Memang selingkuh itu tidak dibenarkan, namun saya juga punya alasan. Akhirnya dua bulan berlalu, setelah saya tolak dia berkali-kali, sekarang giliran saya yang merindukan sosok dia.

Kami lantas memutuskan untuk bertemu dan membicarakan semuanya secara empat mata. Alih-alih berharap lebih baik, kami di sana bertengkar, beruntungnya dia tidak main tangan. Dia jujur pada saya, bahwa dia sudah memiliki kekasih baru.

Saya cukup nyesek, secepat itukah dia mendapatkan pengganti saya?

Saya kemudian mencoba berlapang dada, membiarkan dia move on bersama kekasih barunya itu.

Setelah pertemuan itu, dia terkadang menghubungi saya. Kalo dihitung, mungkin seminggu dua kali, dia chat saya lewat WA. Dia berkata, bahwa dia sangat merindukan saya dan ingin memutuskan hubungan dengan pacarnya. Bukannya senang, saya malah jengkel. Karena menurut saya, dia tidak menghargai komitmen dan tidak punya tanggung jawab atas apa yang dia mulai. Lalu saya abaikan dia, dan bilang padanya bahwa saya sudah tidak ingin lagi memulai hubungan. Dan akhirnya, dia berhenti menghubungi saya.

Tiga bulan berlalu. Dan tadi pagi, saya mendapat pesan yang tidak mengenakan dari Ipul. Semalam sebelumnya, saya sempat bertanya pada salah satu temannya tentang sebuah lokasi konser musik yang akan saya datangi, hanya itu, mungkin si teman Ipul ini bicara pada Ipul bahwa saya menghubunginya. Kemudian Ipul menngirim pesan yang sangat merendahkan saya, entah apa sebabnya.

Awalnya dia berspekulasi bahwa saya akan menemui seseorang, lalu mungkin dia merasa cemburu. Nyatanya, saya memang akan menemui seseorang, tapi bukankah itu sudah bukan urusan dia? Dia mungkin marah karena alasan saya menolak dia adalah karena saya punya gebetan baru. Kemudian saya berpikir lagi, itu juga sudah bukan urusan dia, apalagi dia sudah punya kekasih. Dia selalu bermain dengan spekulasinya, dan menyalahkan saya atas pikiran-pikirannya itu.

Saya coba abaikan dengan mengatakan bahwa apapun yang saya lakukan bukan lagi urusannya. Dia kemudian meminta saya untuk tidak menghubungi salah satu temannya meskipun untuk kepentingan. Maka saya minta maaf dan saya berjanji. Alih-alih selesai dengan kesepakatan, dia malah memaki-maki saya dengan hinaan yang sangat tidak mengenakan.

Pertama, dia komentari tubuh saya dengan menyebutnya gendut, jelek, dan tidak bisa dandan. Saya cukup terpukul, namun masih bisa saya abaikan. Ternyata dia tidak menyerah, selanjutnya dia membanding-bandingkan saya dengan kekasih barunya. Katanya, kekasihnya sekarang lebih cantik daripada saya, dan dia menyesal memacari saya. Saya mulai naik pitam, namun masih saya tahan meskipun sambil baca saya terisak.

Setelah puas menghina saya, kemudian dia kirimi saya fotonya dengan kekasih barunya, beserta segala history chat mereka yang dia screenshot. Mungkin niatnya mau buat saya cemburu, alhasil saya tertawa geli. Ternyata tidak ada yang berubah dari dia. Sifat kekanak-kanakannya, keras kepala, dan lain-lainnya.

Saya cukup terpukul pagi ini. Di mana terkadang saya mendapati diri adalah seseorang yang sering inscure, rendah diri, dan overthinking. Belum lagi saya selalu merasa anxious. Ya, saya memang punya mental yang sangat sensitif, dan butuh waktu lama untuk kembali normal. Meskipun saya mencoba tidak peduli, pesan Ipul itu membuat saya lunglai. Saya selalu mencoba untuk mengabaikan dia, karena perkataannya sangat menyakiti.

Ketika saya blokir dia di semua media sosial, namun dia seakan punya banyak cara untuk menghubungi saya dan mengganggu kehidupan saya. Apalagi dia melarang saya berteman dengan relasi-relasi yang sempat dia kenalkan pada saya dulu, bahkan untuk suatu kepentingan.

Saya sudah tidak mencintai dia, dan sudah merelakan dia. Namun dia selalu mengganggu saya dan mengusik kehidupan saya. Ketika dia tanya kenapa saya menolaknya, saya selalu jelaskan dengan rinci bahwa sifatnya tidak berubah dan saya sudah tidak mau. Namun dia tetap menyangkal. Saya merasa diteror dan benar-benar ingin pergi, tapi tidak tahu ke mana.

Saya harus bagaimana, Cik Prim dan Mas Agus? Apa yang harus saya lakukan agar dia tidak ganggu saya lagi, dan agar saya merasa tenang tanpa bayang-bayang dia yang membuat saya semakin terpukul?

Salam hangat, Erina.

 

Jawab

Dear Erina yang saya yakin baik hatinya (walau pernah selingkuh, sih).

Masalah sampeyan ini sebenarnya masalah yang sederhana, namun dibikin rumit oleh sampeyan sendiri.

Sampeyan bilang bahwa sampeyan selingkuh demi bisa lepas dari Ipul, tapi ketika sampeyan berhasil (sampeyan bisa lepas dari Ipul dan Ipul bisa punya pacar lagi), sampeyan malah nyesek.

Sampeyan juga bilang bahwa setelah putus, Ipul seharusnya sudah tidak berhak ikut campur urusan sampeyan lagi, namun ketika Ipul marah dan meminta sampeyan untuk tidak menghubungi salah satu temannya meskipun untuk kepentingan, sampeyan malah minta maaf dan kemudian berjanji pada Ipul.

Masalah itu ada pada sampeyan sendiri. Masalah sampeyan sebenarnya sudah perlahan menjauh, tapi sampeyan menariknya kembali.

Begini, Erina.

Saya setuju sampeyan lepas dari Ipul. Sangat sangat setuju. Sebab, dalam hubungan, tak ada toleransi untuk tindakan berlaku kasar terhadap pasangan. Namun begitu, saya juga tidak setuju dengan cara sampeyan memutuskan hubungan dengan cara selingkuh. Itu tak kalah bajingannya dengan berlaku kasar. Dari sini, kita sudah mendapat premis, bahwa sebenarnya, sampeyan dan Ipul sama-sama kasar, sama-sama menyakiti, walau mungkin dalam konteks yang berbeda.

Hubungan yang baik dibangun dari keterusterangan, begitu juga dengan pemutusan hubungan, ia akan baik (atau setidaknya, lebih baik) jika dilandasi keterusterangan. Saya selalu yakin, untuk jadian, butuh persetujuan dua pihak, namun untuk bubaran, persetujuan satu pihak sudah cukup. Ketika sampeyan merasa sudah tidak nyaman dengan sikap kasar Ipul, saat itu juga sampeyan berhak untuk memutuskan dia. Tapi tentu saja bukan dengan cara selingkuh. Tapi yah, percuma juga saya bahas ini, sudah kejadian ini.

Permasalahan sampeyan yang begitu pelik, mbulet, dan semrawut ini sebenarnya sudah selesai ketika sampeyan bilang “Saya sudah tidak mencintai dia, dan sudah merelakan dia.”

“Ketika saya blokir dia di semua media sosial, namun dia seakan punya banyak cara untuk menghubungi saya dan mengganggu kehidupan saya”

Nah, ini dia yang saya penasaran. Lewat apa dia menghubungi sampeyan selain sosial media kok sampai-sampai sampeyan bilang dia punya banyak cara?

Dia menghubungi sampeyan lewat telepon? Kalau begitu, blokir nomor teleponnya.

Dia mendatangi rumah sampeyan? Kalau begitu, jangan bukakan pintu untuk dirinya.

Dia menghubungi sampeyan melalui kawan sampeyan? Kalau begitu, abaikan saja.

Sekali lagi, Erina. Masalah sampeyan sudah selesai. Sudah selesai. Tak ada lagi yang perlu diributkan.

Kalau kemudian sampeyan masih merasa tidak tenang, itu bukan karena Ipul, tapi itu karena sampeyan sendiri yang terlalu obsesif pada Ipul.