MOJOK.COGagal nonton dangdut koplo, aku dan teman-teman pulang dengan perasaan takut. Ternyata, sosok perempuan dengan muka hancur mengikutiku sampai ke rumah.

Aku tinggal di Wonosobo. Daerah yang sejuk dengan lanskap perbukitan dan kebun teh. Salah satu perkebunan teh terletak di kaki Gunung Sindoro. Kala itu, yang punya perkebunan teh sedang mengadakan acara peresmian pasar tradisional. Hiburan dangdut koplo jadi pilihan.

Aku dan teman-teman, sebagai hooligans dangdut koplo tentu tidak ingin melewatkan acara tersebut. Kami berangkat dari pusat kota Wonosobo menuju perkebunan teh sekitar pukul empat sore. Kami sengaja berangkat sore karena acara dangdutan baru dimulai malam hari sekitar pukul delapan.

Kami sampai di wilayah perkebunan teh sekitar pukul setengah lima sore. Sembari menunggu, kami mampir ke salah satu rumah teman, akamsi perkebunan teh. Kami disuguhi kopi panas dan gorengan. Sungguh sore yang menyenangkan.

Malam hari pun tiba. Setengah delapan malam, kami menuju lokasi dangdut koplo. Suasana desa lumayan sepi. Mungkin karena letaknya tepat berada di kaki Gunung Sindoro dan berhawa dingin. Jadi para warga lebih memilih untuk berada di dalam rumah sambil menunggu dangdutan mulai.

Hawa dingin khas pegunungan membuat tubuhku sedikit gemetar ketika berjalan di sekitar rimbunnya semak-semak tanaman teh. Sesampainya di kawasan perkebunan teh, kami keheranan karena suasana sangat sepi untuk area yang jadi lokasi dangdutan.

Lantaran  kadung sampai lokasi, kami lanjut berjalan menyusuri perkebunan teh menuju gedung pusat. Di kawasan gedung pusat terdapat pos satpam, pabrik pengolahan daun teh, kantor, aula kecil, dan beberapa vila yang disewakan.

Pertama, kami menuju pos satpam untuk meminta izin masuk dan bertanya terkait acara dangdut koplo digelar. Namun ketika sampai di pos satpam, kami tidak bertemu dengan siapa pun. Bikin makin bingung karena jelas-jelas aku mendapat informasi di grup WhatsApp bahwa acara dangdutan akan dilaksanakan malam hari setelah acara peluncuran pasar tradisional.

Namun, di sini cuma ada suasana sepi.

“Apa mungkin acara dangdutannya di belakang gedung pengolahan daun teh, ya?”

Terlanjur sampai sini, kami beranjak ke aula kecil. Bisa jadi dangdutannya dilaksanakan di sana. Kami berjalan melewati sebelah barat gedung pengolahan daun teh. Jalanan yang basah itu cuma diterangi lampu temaram bohlam-bohlam kecil.

Jalan setapak yang kami lalui diapit pepohonan pinus yang tinggi dan rimbun. Di tengah perjalanan, kami juga melewati beberapa bangunan vila. Karena suasana makin sepi, kami agak mempercepat langkah kami. Tiba-tiba, datang angin lumayan kencang sehingga membuat ranting-ranting pohon pinus bergoyang-goyang dalam suasana temaram.

Sejenak tiba-tiba aku merasa seperti ada aktivitas dari vila-vila yang ada di lokasi tersebut. Aku merasakan sensasi seperti ada yang memperhatikan gerak-gerik kami. Rasa tidak nyaman, gelisah, sedikit takut, dan perasaan lain yang tidak bisa kuungkapkan rasanya sangat mengganjal saat itu.

Kuperhatikan teman-temanku. Mereka berjalan biasa saja sambil ngobrol. Di antara keasyikan teman-temanku yang sedang ngobrol, sejenak aku mencoba menenangkan pikiranku dengan berpikir bahwa mungkin vila-vila yang ada di tempat tersebut sedang disewa.

Namun diriku sendiri juga menepis pemikiran tersebut karena saat kuperhatikan lagi, vila-vila yang ada di situ dalam keadaan gelap tanpa penerangan. Rasanya aneh, tapi kucoba untuk cuek lalu nimbrung ngobrol sama teman-teman.

Setelah melalui kawasan vila, sayup-sayup kami mendengar suara keramaian. Kami agak lega karena akhirnya ketemu juga, nih, dangdut koplo yang jadi pashion kami.

Dari luar pagar aula kecil, terlihat ingar-bingar kegembiraan. Ada beberapa orang yang sedang duduk sambil menikmati makanan dan minuman. Ada biduan yang sedang bernyanyi diiringi organ tunggal. Beberapa bapak-bapak ikut berjoget.

Tanpa pikir panjang, kami langsung masuk ke aula. Di pintu aula, kami berpapasan dengan seorang satpam. Aku pikir mungkin ini satpam yang seharusnya berjaga di pos satpam di depan gedung pengolahan daun teh tadi.

Satpam tersebut menanyakan apakah kami membawa undangan. Kalau mau masuk aula, kami harus menunjukan undangan. Kami kaget karena tak satu pun dari kami punya undangan acara dangdut koplo itu. Aku bingung karena acara dangdutan ini terbuka untuk umum, seperti yang dibilang di grup WhatsApp.

Satpam yang berjaga menjelaskan bahwa acara dangdutan malam itu hanya khusus untuk panitia peresmian pasar tradisional dan beberapa tamu undangan. Beliau juga menegaskan sebenarnya acara tersebut bukan dangdutan tapi ramah-tamah dan perjamuan tertutup.

Kecewa, kami memutuskan untuk langsung pulang saja. Aku sangat menyesal karena menelan mentah-mentah informasi grup WhatsApp. Kami pulang lewat jalan setapak yang diapit pohon pinus tadi. Kita berjalan berjalan dalam diam karena sangat kecewa tidak jadi joget dan nyawer biduan malam itu.

Memasuki jalan setapak suasana makin sunyi. Perlahan, suara merdu biduan menghilang. Yang terdengar hanya suara langkah kaki ranting-ranting pinus yang bergesekan diterpa angin dingin. Setiap embusan angin yang datang terasa lebih dingin. Tak lama kemudian, kami sampai kawasan vila yang gelap dan sepi tadi. Tiba-tiba perasaan tidak nyaman itu muncul lagi.

Aku merasakan lagi ada yang sedang memperhatikan kami. Kuperhatikan teman-temanku lagi. Mereka masih biasa saja.

Sedetik kemudian, angin kencang datang lagi. Ranting-ranting pohon pinus bergoyang-goyang dalam suasana gelap. Kami terkejut. Saat itu, pandanganku jatuh ke teras salah satu vila. Di sana, seorang perempuan yang sedang duduk.

Aku bertanya ke teman-teman apakah ada yang melihat seorang perempuan di teras vila. Tak ada satu pun dari teman-temanku yang menjawab. Mereka diam, tapi raut muka bingung tergambar jelas.

Salah satu temanku berkata, “Perasaan ndak ada siapa-siapa deh di depan vila.”

Mendadak hawa dingin seperti menjalar di punggung. Entah kenapa, suasana jadi tegang dan mencekam. Beberapa teman mulai menyalahkan aku. Sudah gagal nonton dangdut koplo, aku bikin mereka takut.

Untuk menghindari keributan, aku mengajak rombongan untuk segera pergi dari kawasan vila. Kami setuju dan mempercepat langkah.

Perasaan aneh masih belum juga hilang, ditambah sekarang seperti ada yang sedang mengikuti di belakangku. Punggungku berangsur-angsur terasa berat. Aku bisa merasakan perempuan yang kulihat duduk di depan vila seperti sedang mengikuti.

Aku mencoba mengabaikan perasaan tersebut hingga akhirnya kami sampai di depan gedung pengolahan daun teh. Bergegas, kita berjalan keluar dari kawasan gedung pusat menuju jalan di sekitar semak-semak tanaman teh.

Sampai di sini, suasana jadi lebih ringan. Kami mulai bisa ngobrol dan bercanda lagi.

Karena gagal nontong dangdut koplo, kita sepakat langsung pulang saja. Sesampainya di rumah, kondisi sudah sepi. Keluargaku sudah tidur di kamar masing-masing. Setelah selesai memasukan sepeda motor dan mengunci pintu, aku memutuskan untuk duduk sejenak di ruang tamu.

Rasa gelisah yang tadi kurasakan datang lagi. Parahnya, secara mendadak, timbul rasa penasaran yang sangat besar. Terasa seperti ada yang menarik diriku untuk membuka gorden jendela.

Perasaanku tidak karuan waktu itu. Rasa gelisah bercampur penasaran yang mendadak muncul membuat aku cukup tersiksa secara batin. Dengan perasaan yang masih campur aduk, kuberanikan diri untuk mengintip melalui gorden dan melihat keluar rumah untuk memuaskan rasa penasaranku.

Saat mengintip dari dalam, terlihat seorang wanita sedang berdiri di depan rumahku. Aku sangat terkejut karena aku melihat kondisi wajah dari wanita tersebut (maaf) sangat tidak karuan. Aku tidak bisa menggambarkan secara detail, yang kuingat sampai sekarang adalah bola mata yang copot dan bergelantung di pipi yang mulai membusuk.

Aku bergegas masuk ke kamar. Menarik selimut dan berusaha keras untuk tidur. Sulit rasanya untuk tidur cepat dalam kondisi batin yang bergejolak dan dihantui sosok wanita dengan muka yang hancur di depan rumah.

Aku tersadar bahwasanya perasaan tidak enak yang mulai kurasakan ketika berada di kawasan perkebunan teh merupakan pertanda bahwa sedang ada yang mengikuti diriku. Entah apa yang wanita tersebut inginkan, aku tidak tahu sampai sekarang.

Malam itu aku akhirnya berhasil tertidur. Dalam tidurku samar-samar aku mendengar bisikan yang terdengar sangat jelas di telinga: “Aku datang tidak sendirian.”

BACA JUGA Orang Kesurupan Lalu Ngaku Sebagai Perempuan yang Dulu Tewas Dibunuh dan kisah dihantui lainnya di rubrik MALAM JUMAT.

Baca juga:  Kebangkitan Kedua Didi Kempot: Karena Tak Seharusnya Orang Bersedih Sendirian