Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Selamatkan Pamela Safitri

Shellya Febriana A. oleh Shellya Febriana A.
13 April 2015
A A
Selamatkan Pamela Safitri

Selamatkan Pamela Safitri

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Saya menjalani ritual pagi hari seperti biasanya, membaca-baca timeline twitter sembari menikmati telur rebus setengah matang dan segelas susu. Tapi siapa sangka, susu yang saya dapat kali ini berlebihan, tidak hanya segelas, tapi malah se-timeline twitter!

Jumat, 10 April 2015, netizen digemparkan dengan munculnya beberapa foto semlohay Mbak Pamela. Bukan, bukan mbak Pamela Anderson yang uhuy itu. Yang dimaksud disini Mbak Pamela Safitri, salah satu personel Duo Ratu Dribel yang gaya pantul kedua bolanya itu dapat membuat lengah pertahanan para pria dan menghasilkan tembakan three-point pada beberapa lembar tisu.

Melalui akun instagram Mbak Pamela di @pamelasafitri, kebesaran ilahi dalam membesarkan bagian tubuh yang (dianggap) paling sensual terungkap. Bola yang biasa Mbak Pamela dribel dalam goyangannya itu, terekspos begitu saja tanpa dibalut apapun. Terbuka. Bahkan lebih terbuka dibanding sistem pemilihan ketua Perbasi beberapa waktu yang lalu.

Keterbukaan ini tentunya menuai berbagai opini publik. Pro dan kontra. Mulai dari yang bersyukur hingga yang melontarkan cercaan penuh kebencian—seakan dirinya lebih suci daripada tempat wudlu masjid. Pujian dan kecaman. Semuanya memiliki satu persamaan, yakni menjadikan Mbak Pamela sebagai objek. Ya objek tontonan, objek tertawaan, objek hinaan, atau mungkin objek tulisan—seperti saya.

Sesungguhnya kasus Mbak Pamela ini mengingatkan saya dengan banyaknya kasus remaja cewek masa kini yang foto pribadinya disebar-luaskan oleh cowok-cowok tidak bertanggung jawab.

Salah satu contoh kasus yang paling saya ingat, dan sempat menggegerkan netizen di tahun 2012 lalu, adalah Amanda Todds Story. Buat yang belum tahu, awalnya Dik Manda Todd ini cuma cewek abege biasa, seperti remaja pada umumnya, yang sedang sangat ingin eksis. Terbuai bujuk rayu pria hidung belang yang memujinya terus-terusan, Dik Manda iya-iya aja waktu diminta memperlihatkan kemolekan tubuhnya via webcam.

Ndilalah, kok Dik Manda ini akhirnya malah dikuntit dan foto syur-nya itu disebarkan ke orang sekitarnya. Meski udah beberapa kali pindah rumah dan pindah sekolah, Dik Manda tetep diteror kayak gitu. Dia depresi berat, sampe akhirnya gak kuat dan milih kendat.

Baik Mbak Pamela maupun Dik Manda, mereka sama-sama memiliki tingkat awareness yang rendah terhadap konten yang mereka bagikan ke orang lain. Mungkin dulu waktu masih dimabuk cinta, Mbak Pamela rela-rela aja diminta pose syur sama pacarnya.

Namanya juga cinta, kalo logis ya dia gak akan nunggu Rangga sampai 12 tahun. Namanya juga cinta, pose kayang di puncak Semeru aja bisa di-iyain, apalagi sekadar pose syur. Tapi namanya juga pria, makhluk dermawan, punya foto syur ya kenapa gak dibagi-bagi? Daripada mubazir disimpen sendiri, kan? Selain Mbak Pamela dan Dik Manda, di luar sana masih banyak juga dedek-dedek gemes yang rentan menjadi korban.

Di Surabaya saja sudah pernah terjadi kasus yang sedikit mirip-mirip Dik Manda. Si pelaku akhirnya mmang tertangkap, tapi sayangnya hanya dihukum beberapa tahun. Lha daripada kita mengutuk sistem hukum yang cuma memberatkan beberapa tahun atas hancurnya masa depan salah satu generasi muda penerus bangsa, mendingan pihak Kominfo menggalakkan penyuluhan tentang pembagian konten sensitif.

Usul saya sih gitu.

Mencegah lebih baik lho, Pak Menteri, daripada mengobati tapi malah salah obat pakai blokir. Daripada melulu sibuk menanggulangi hilir konten internet, kenapa nggak sekali-sekali membenahi hulunya? Dan ini semua demi kemashalatan generasi penerus bangsa.

Selamatkan Pamela Safitri, selamatkan dedek-dedek gemes!

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: Amanda ToddDuo SrigalaPamela Safitri
Shellya Febriana A.

Shellya Febriana A.

Artikel Terkait

bunuh diri mojok
Status

Mengapa Orang Memutuskan Bunuh Diri?

11 Juli 2017
Florence Sihombing
Esai

Florence Sihombing: Anomali, Ironi dan Eulogi

21 April 2015
Pamela Safitri, Potret Kartini Masa Kini
Esai

Pamela Safitri, Potret Kartini Masa Kini

20 April 2015
Al-Koruptor ar-Rajim
Esai

Al-Koruptor ar-Rajim

15 April 2015
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warga makin malas bayar pajak bukan berarti membangkang, tapi karena ulah pemerintah sendiri MOJOK.CO

Makin Malas Bayar Pajak Bukan Semata Membangkang tapi Akumulasi Kekecewaan, Pemerintah Bisanya Nagih Doang

10 Juli 2026
Tahlilan di desa. MOJOK.CO

Gen Z di Desa Ogah-ogahan Ikut Tahlilan Bikin Cemas Para Tetua: Bisa Hilang Budaya Srawung dan Peduli Tetangga

8 Juli 2026
Ketika Militer Masuk Sekolah: Mengobati Gejala, Melupakan Akar Masalah MOJOK.CO

Ketika Militer Masuk Sekolah: Mengobati Gejala, Melupakan Akar Masalah

8 Juli 2026
Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda MOJOK.CO

Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda

10 Juli 2026
Truk sampah di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO

Mengais Asa di TPA Troketon, Benteng Terakhir Penghidupan Warga Klaten

10 Juli 2026
Setiabudi Jakarta Selatan, Work Life Balance.MOJOK.CO

Kawasan Setiabudi Strategis buat Ngekos, tapi Menyimpan Masalah yang Menyiksa Perantau Gen Z Jakarta

7 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.