• 97
    Shares

MOJOK.COSurvei Kompas menunjukkan bahwa selisih elektabilitas Prabowo dengan Jokowi semakin merapat. Kini, jarak keduanya hanya tinggal 11 persen. Makin rapat!

Maraton itu salah satu olahraga ekstrem. Rata-rata, kamu membuat 30 ribu langkah. Setiap langkah kamu menahan 1,5 hingga tiga kali berat tubuh normal. Oleh sebab itu, pelari maraton harus punya kapasitas paru-paru dan jantung yang prima untuk mengambil dan menghembuskan oksigen.

Paru-paru dan jantung juga bekerja keras untuk mempercepat penyerapan asam laktat ke dalam aliran darah agar dapat dibuang dari tubuh. Akumulasi asam laktat adalah sisa metabolisme pembakaran oksigen untuk energi tubuh. Semakin besar kadar asam laktat pada darah, semakin besar pula energi yang dihasilkan dari metabolisme tubuh untuk digunakan dalam berlari.

Yang terjadi pada pelari pemula, terkadang, energi tubuh yang dimiliki tak sebanding dengan seberapa baik dan seberapa cepat metabolisme tubuh bekerja.

Coba bayangkan ini: lari terus-menerus selama lima menit per 1,6 kilometer ketika maraton akan membutuhkan suplai energi hingga 15 kali lipat dari kondisi normal. Suplai energi harus tersedia selama lebih dari dua jam, waktu rata-rata maraton.

Kebanyakan pelari maraton pemula membutuhkan waktu hingga empat jam untuk bisa menembus garis akhir. Itu artinya, kamu harus bisa menjaga peningkatan metabolisme sampai 10 kali lipat dari kondisi normal. Tubuh kamu harus dalam kondisi super prima untuk bisa melakukan metabolisme semacam itu.

Sudah sangat ekstrem, sekarang coba kamu bayangkan jika maraton dikawin-mawinkan dengan politik. Sudah bakal lombanya lama, menjemukan, penuh caci-maki, serangan-serangan ke personal, hoaks, fitnah, kegoblokan, dan lain sebagainya. Bayangkan itu menyiksa kamu selama dua tahun lebih, kira-kira.

Maraton antara Prabowo dan Jokowi sendiri sudah masuk ke paruh akhir. Ibarat kata sudah tinggal tiga kelokan lagi sebelum garis akhir. Mendekati garis akhir, nampaknya kubu Jokowi sudah semakin tersengal. Bulir-bulir keringat yang mengucur sudah sangat deras. Pasangan 01 butuh asupan cairan dan energi baru.

Baca juga:  Dilema Anak Rantau Antisakit Menghadapi Orang Tua yang Super Khawatir

Semakin dekat. Pasangan 02 konsisten berlari. Ajeg, tidak terlalu cepat, tidak melambat. Sementara itu, kaki pasangan 01 semakin berat. Mereka harus susah payah untuk mengangkat kaki, kanan dan kiri, berganti-gantian menjejak bumi, payah menahan berat badannya sendiri.

Pasangan 02 semakin dekat. Kehadiran Prabowo dan Sandiaga Uno bahkan sudah bisa dirasakan di punggung pasangan Jokowi dan Ma’ruf Amin. Awalnya terasa hangat. Derap kaki dan suara napas yang memburu mulai terdengar. Suara napas itu mengancam. Kalau tidak dianggap sebagai ancaman nyata, kuatnya aura kehadiran pasangan 02 bakal mengganggu konsentrasi Jokowi dan Ma’ruf Amin ketika melakukan sprint di 100 meter terakhir nanti.

Adalah survei Kompas pada awalnya. Litbang Kompas melakukan survei dari tanggal 22 Februari 2019 sampai 5 Maret 2019. Survei dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan melibatkan 2.000 responden yang dipilih secara acak melalui pencuplikan sistematis bertingkat di 34 provinsi di Indonesia. Tingkat kepercayaan mencapai 95 persen dan margin of error +/- 2,2 persen. Peneliti Litbang Kompas, Bambang Setiawan mengungkapkan, jarak elektabilitas kedua pasangan calon semakin menyempit, 11,8 persen.

Penyusutan jarak ini terbilang cukup banyak. Pada Oktober 2018, selisih keduanya masih di sekitaran 19,9 persen. Tidak berselang lama, Maret 2019, jarak keduanya hanya tinggal 11,8 persen. Saat itu, elektabilitas Jokowi dan Kia Ma’ruf 52,6 persen, sementara Prabowo dan Sandiaga 32,7 persen. Sebanyak 14,7 responden menyatakan rahasia. Artinya, ketika elektabilitas Joko Widodo mengalami penurunan sebanyak 3,4 persen, keterpilihan Prabowo Subianto naik 4,7 persen.

Prabowo seperti “menginjeksi” dirinya dengan energi baru. Beliau seperti makan pisang untuk merapatkan jarak dengan rivalnya: Jokowi.

Berdasarkan survei Kompas, pasangan 02 unggul di Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta. Namun, 02 kalah telak di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Unggul di daerah perkotaan menjadi indikasi betapa besar energi medsos pasangan 02. Selama ini, simpatisan 01 dan 02 bertarung menggunakan tagar di Twitter. Sebuah strategi lawas yang masih agak ampuh nampaknya.

Baca juga:  Jokowi Masuk Kakbah Kok Pada Heboh, SBY dan Soeharto Dulu Biasa Aja Tuh

Satu lagi data yang menarik dari survei Kompas adalah pasangan 01 unggul di pemilih milenial matang, sementara pasangan 02 unggul di pemilih usia muda alias generasi z (usia di bawah 22 tahun).

Dikutip dari survei Kompas, Begini hasil surveinya:

Gen Z/Pemilih Mula (<22)
01. Jokowi-Ma’ruf Amin 42,2%
02. Prabowo-Sandiaga 47%
Rahasia 10,8%

Milenia Muda (22-30)
01. Jokowi-Ma’ruf Amin 49,1%
02. Prabowo-Sandiaga 41%
Rahasia 9,9%

Milenia Matang (31-40)
01. Jokowi-Ma’ruf Amin 46,6%
02. Prabowo-Sandiaga 39,7%
Rahasia 13,7%

Kenapa pasangan 02 bisa unggul di usia pemilih generasi z? “Karena generasi z di Indonesia adalah digital native angkatan pertama, terutama yang lahir di perkotaan. Konsumsi informasi menjadi kunci memahami partisipasi mereka. Media sosial menjadi referensi sekaligus alat partisipasi dalam diskursus publik,” tulis Aulia D Nastiti di Tirto.

Mesin pasangan 02 juga lebih aktif di media sosial. Produksi tagar hingga menjadi trending topic, produksi bahan kampanye yang “bombastis”, hingga militansi “akun-akun tertentu” menjadi pembeda.

Ingat, elektabilitas Joko Widodo mengalami penurunan sebanyak 3,4 persen, keterpilihan Prabowo Subianto naik 4,7 persen. Meski terlihat sedikit saja, tetapi penurunan pasangan 01 berpengaruh besar terhadap jarak secara nasional. Kekuatan media sosial bakal sangat menentukan.

Menjelang coblosan pada 17 April, kira-kira 28 hari lagi, bisa jadi pasangan 02 bakal semakin dekat. Kasus mantan Ketum PPP, Romahurmuziy, kepolisian yang dianggap condong ke 01, hingga dukungan Erwin Aksa–keponakan Jusuf Kalla yang dipecat Golkar karena mendukung 02–bisa digoreng sedemikian rupa lewat medsos dan tim 01 akan sulit membendungnya. Seperti biasanya.

Sisa 28 hari bukan waktu yang lama. Siapa yang akan menjuari maraton politik? Ia yang konsisten berlari? Atau ia yang sempat kehilangan napas dan susah payah menyeret kakinya?

  • 97
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles