• 177
    Shares

MOJOK.CO Ternyata Pak Prabowo jago bikin kalimat sarkas untuk Orde Baru. Tahukah kamu, yang jago bikin sarkas dan satire itu ciri orang cerdas. Berarti, Pak Prabs itu…

“Dari awal, dari sekian belas tahun, sekian puluh tahun, dari saya masih di dalam Orde Baru saya sudah melihat arah pembangunan, arah pembangunan Indonesia, sebenarnya arahnya menuju arah yang keliru,” ungkap Prabowo seperti dikutip oleh Kompas.

Pernyataan di atas Prabowo ungkapkan ketika menghadiri perayaan ulang tahun ke-20 Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) di Sports Mall, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Prabowo juga tidak lupa menyelipkan serangan kepada elite zaman sekarang yang gagal mengelola negara ini. Mantan Danjen Kopassus itu menyebutnya sebagai “elite yang tiada gunanya”. Kalau bahasa naq masa kini: “Elite nir faedah. Ra mashoookk!”

“Saya melihat waktu itu kekeliruannya adalah bahwa elite bangsa ini, elite yang tidak ada gunanya. Elite ini gagal memberikan arah kepada bangsa, gagal untuk mengelola bangsa ini. Ya, ini saya sampaikan di mana-mana. Banyak yang tidak suka sama saya, yang penting saya bicara apa adanya kepada rakyat Indonesia saudara-saudara,” tambah calon presiden 02 itu.

Salah satu poin penting dari serangan Prabowo ke “masa lalu” dan “masa sekarang” adalah hasil pengelolaan sumber daya alam yang justru disimpan di luar negeri. Akibatnya, banyak rakyat Indonesia sendiri yang tidak bisa menikmati hasil kekayaan negara.

Ini bentuk pelajaran yang baik. Tepatnya, pelajaran menggunakan kalimat sarkas di saat dan momen yang tepat. Nggak hanya admin Mojok yang jago sotar-satir sarkas-sirkus, ternyata Pak Prabs jago juga.

Begini…

Kalau menyerang “elite masa kini yang tiada berguna” itu sudah biasa. Lantaran hanya ada dua calon presiden untuk Pilres 2019–Prabowo dan Jokowi–maka kita langsung paham siapa yang diserang kalau ada salah satu calon memproduksi pernyataan yang keras.

Ya kalau Pak Prabs keras, selalu diartikan sedang menyerang pemerintahan Jokowi sebagai petahana. Demikian juga sebaliknya. Ketika Jokowi bilang ada yang “sedang pakai konsultan asing”, kita akan otomatis menoleh ke arah Prabowo dengan tatapan menyelidik. Begitulah kalau hanya ada dua calon presiden yang kejar-kejaran di kontestasi politik.

Baca juga:  Boyolali Atau Jakarta, Kita Semua Sama-sama Kaya

Nah, sungguh menarik ketika Pak Prabs bilang bahwa, “Arah pembangunan sudah salah sejak zaman Orde Baru.” Ada dua pihak yang ditampar secara telak lewat kalimat sarkas tersebut. Dua pihak yang saya maksud adalah mantan mertua Pak Prabowo sendiri, Soeharto, dan bapaknya sendiri(!) yaitu Sumitro Djojohadikusumo.

Soeharto, ketika “berkuasa” sejak tahun 1966, membutuhkan bantuan para tenaga ekonom muda untuk menentukan arah kebijakan ekonomi Indonesia. Majalah Historia mencatat bahwa ekonom muda yang digandeng Soeharto adalah Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Mohammad Sadli, Subroto, dan Emil Salim.

“Soeharto mengenal mereka ketika mengikuti kursus di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) di Bandung di mana mereka kerap jadi pengajar.” Tulis Historia.

Begini timeline-nya: Januari 1966, beberapa ekonom berdiskusi. Mereka mencari pemecahan masalah ekonomi dan keuangan di Universitas Indonesia. Maju ke Mei, diskusi yang sama digelar kembali.

Nah, saran-saran yang muncul dari seminar itu menjadi kebijakan ekonomi Kabinet Dwikora yang Disempurnakan dan punya pengaruh besar kepada rumusan-rumusan ketetapan MPRS tahun 1966. Dengan kata lain, saran-saran dari para ekonom tersebut menjadi tonggak Orde Baru.

Tertanggal 12 September 1966, para ekonom tersebut diangkat sebagai Staf Pribadi Ketua Presidium Kabinet. Setelah Soeharto “resmi” menjadi presiden, mereka menjadi Tim Ahli Ekonom Indonesia. The Dream Team terbentuk ketika Sumitro Djojohadikusumo (bapak dari Prabowo) bergabung menjabat Menteri Perdagangan, Frans Seda sebagai Menteri Perhubungan, dan Radius Prawiro sebagai Gubernur Bank Indonesia.

The Dream Team inilah perancang kebijakan ekonomi Orde Baru. wartawan Amerika, David Ransom, melabeli mereka sebagai “Mafia Barkeley”, merujuk almamater mereka. David Ransom, yang menulis “Mafia Barkeley dan Pembunuhan Massal di Indonesia” dan terbit di majalah Rampart menyebut bahwa Amerika terlibat dalam kebijakan ekonomi Orde Baru.

Salah satu akibat turunan dari kebijakan yang disusun ayahanda Prabowo, investasi asing masuk sebagai sumber dana Orde Baru di Indonesia.

“Di bawah arahan para teknokrat, sebutan lain untuk penasehat ekonomi Soeharto, upaya liberalisasi ekonomi diwujudkan. Orde Baru mengeluarkan UU No. 1/1967, setelah melalui perdebatan sengit di parlemen, untuk menarik investor asing dan menjamin kemanan investasinya di Indonesia. Pemerintah lalu membentuk Tim Teknis Penanaman Modal Asing dengan ketua Mohammad Sadli.” Tulis Historia.

Protes keras mengalir deras sejak UU tersebut diberlakukan. Kontrak karya sektor pertambangan dianggap merugikan negara karena adanya sistem konsesi, bagi hasil yang tak seimbang, dan keringanan pajak untuk para investor. Plus, dampak sosial bagi masyarakat di sekitar lahan konsesi.

Baca juga:  Sebetulnya Rupiah Tidak Apa-Apa Meski Dollar Naik

Kalau bicara tambang di Indonesia, tentu saja yang fenomenal adalah Freeport. Konon, gosipnya, keinginan Amerika untuk menguasai Freeport membuat Sukarno terpaksa digulingkan. Maklum, Bung Besar menolak habis kerja sama dengan Amerika untuk eksploitasi hasil bumi Indonesia.

Selain tambah, bidang kehutanan juga kena dampak. Hak Pengusahaa Hutan (HPH) merusak lingkungan dan tatatan masyarakat. Para teknokrat Soeharto, termasuk ayahanda Prabowo, dituding membuat ekonomi Indonesia bergantung pada bantuan dan modal asing. Akibatnya, kesenjangan ekonomi melebar serta berkembang konglomerat, monopoli pemangsa, dan korupsi.

Penguasaan asing yang sudah terlalu kuat itu tentunya sangat sulit untuk dilepaskan. Pengaruhnya sudah terlalu dalam, sehingga siapa saja yang berkuasa, ha mbok yakin, akan sangat sulit berkelit dari pepetan “kuasa asing”.

Oleh sebab itu, yang disampaikan oleh Prabowo bahwa elite sekarang tidak ada gunanya itu ada benarnya. Elite-elite ini sudah susah lepas dari kuasa asing. Nah, masalahnya, siapa yang mengizinkan asing menancapkan kukunya di Indonesia? Wah tiba-tiba ilang singal, sodara-sodara….HIYA HIYA HIYA.

Pernyataan sarkas Prabowo ini sungguh tepat momen. Ngapain menegaskan bahwa arah pembangunan Indonesia sudah salah sejak Orde Baru di zamannya Pak SBY, misalnya. Nggak ada pengaruhnya sama elektabilitas. Nah, kalau sekarang kan ada pengaruhnya. Masak begitu nggak paham juga kamu itu.

Banyak yang nggak suka Orde Baru. Dan citra “bagian dari” Orde Baru itu sedang berusaha dipupus oleh Prabowo. Namun, hati-hati Pak Prabs, serangan yang terlalu liar bisa berputar kembali menusuk kalbu karena sejarah Indonesia pasca-G30S/PKI ada yang mencatat.

Eh iya, gimana perasaan Mbak Titiek, ya? Cumak nanya, sih.

  • 177
    Shares


Loading...



No more articles