MOJOK.COKobe Bryant sudah tiada. Tetapi tantangan yang dia gelar di laga pamungkas masih bergema dan kelak menjadi inspirasi bagi calon legenda dunia bola basket.

Beberapa tahun yang lalu, saya sering menghabiskan banyak waktu dengan anak-anak basket. Kebanyakan dari mereka berasal dari sebuah klub basket di Wonosari, DIY. Klub basket itu bernama Steeler. Logo klub berupa kepala pasukan romawi, dengan warna dominan hijau. Di sana, ada tiga anak kembar. Semuanya gila basket. Ketiganya mengidolakan Kobe Bryant.

Awan, Adi, dan Ari, nama ketiga anak kembar itu. Ketiganya hampir selalu bersama. Berbagi sebungkus rokok bersama, makan bersama. Cuma pacar aja yang untungnya nggak dibagi rata. Terutama soal basket, ketiganya lumayan jago.

Dua dari tiga anak itu pernah lolos ke sebuah SMA favorit di Kota Jogja berkat kecapakan bermain basket. Beasiswa. Namun, karena ada satu anak yang gagal lolos, keduanya memutuskan untuk tidak mengambil beasiswa tersebut. Akhirnya, ketiganya menyelesaikan SMA di Wonosari, sebelum berkualiah di Jogja.

“Kenapa suka banget sama Kobe Bryant?” Tanya saya yang awam dengan dunia basket.

Ketiganya hampir menjawab bersamaan ketika saya mengangkat tangan dan berkata, “Satu orang aja yang jawab. Jangan semuanya.” Mereka tertawa.

Saya lupa siapa yang akhirnya menjelaskan. Mungkin Ari yang terlihat paling dewasa, bisa juga awan yang penuh antusias ketika ngobrol dengan siapa saja, atau Adi yang kolokan, tapi paling menyenangkan kalau diajak “nakal”, mabuk misalnya.

Dari ketiganya, saya mulai mengenal Kobe Bryant. Legenda NBA yang disebut paling mendekati Michael Jordan itu itu tidak berhenti ke “bakat alam saja”. Jordan adalah salah satu legenda dengan kekerasan hati paling paripurna. Bahkan terkadang dianggap arogan. Kobe pun begitu. Dia dianggap sulit bekerja sama. Dianggap terlalu menonjol di LA Lakers.

“Saya memang sulit (bekerja sama, bersosialsasi) di mata banyak orang. Tapi, itu terjadi kepada orang-orang yang tidak bisa bekerja dengan saya,” kata Kobe Bryant menjelaskan sifatnya itu.

Baca juga:  Cara Menentukan Jenis Olahraga yang Cocok untuk Kita

Bekerja bersama Black Mamba adalah bekerja semaksimal mungkin, mendekati kesempurnaan. Hanya mereka yang bisa mendekati limit itu yang akan bertahan bersama Kobe.

Sebagai atlet, hidup Kobe adalah tentang determinasi dan totalitas kepada bola basket. Begini rutinitas Kobe: Bangun pukul 4 pagi. Latihan dari pukul 5 sampai 7 lalu sarapan dan istirahat. Latihan lagi dari pukul 9 pagi sampai 11 siang. Jeda istirahat dan makan siang. Latihan dimulai lagi pukul 1 sampai 3 sore. Istirahat. Terakhir, latihan dari pukul 7 sampai 9 malam.

Ketatnya jadwal latihan setiap hari itu merupakan wujud ambis Kobe Bryant: “Saya ingin menjadi yang terbaik. Sederhana dan cukup jelas.”

Kobe sadar kalau bakat alam saja tidak cukup untuk mendaki sampai ke puncak. Bakat akan kalah oleh orang yang bekerja lebih keras dan berkorban lebih banyak. Tiga anak kembar yang saya kenal tahu betul rutinitas idolanya. Mereka punya komitmen sangat besar ketika main basker. Jauh lebih besar ketimbang tugas-tugas mereka di bangku kuliah.

Saking mengidolakan Kobe Bryant, komputer mereka banyak berisi video hasil mengunduh dari Youtube. Isinya soal kompilasi clutch moment dan buzzer beater dari Kobe. Ada juga kompilasi teknik menembak Kobe yang hampir selalu mereka tiru di lapangan latihan.

Suatu ketika, salah satu senior dan pelatih tiga anak kembar itu di Steeler pernah marah. Namanya Coach Amri. Dia marah karena ketika anak itu terlalu berusaha meniru teknik menembak Kobe Bryant. “Nggak usah ngikutin Kobe. Kalian itu fokusnya ke cara main sendiri-sendiri.”

Dasarnya ndablek, ketiganya masih sering mencoba teknik-teknik sulit yang ditunjukkan Kobe, bahkan di pertandingan, dan gagal. Mereka tahu akan dimarahi oleh pelatih. Mereka tahu akan gagal. Namun, di titik yang berbeda, mereka merasakan kebahagiaan dan keseruan bermain basket.

Baca juga:  Kronologi Kobe Bryant dan Putrinya Meninggal dalam Kecelakaan Helikopter

Terkadang, apapun perjuangan yang tengah dihadapi, kalau kamu menikmatinya, semuanya terasa lebih mudah. Kegagalan adalah titik yang akan selalu ada di setiap perjuangan. Paling tidak, kamu menikmati dinamika usaha keras itu. Awan, Adi, dan Ari menikmatinya, meskipun karier basket mereka hanya mentok sampai kompetisi basket antar-kampus.

Mereka mendapatkan satu nilai penting dari Kobe Bryant tentang makna rasa sakit. Suatu ketika di sebuah kompetisi di Wonosari, Steeler bertemu lawan berat. Salah satu pemain lawan adalah pebasket senior yang jago melukai lawan untuk menggembosi mental. Mereka merasa gentar.

Steeler akhirnya kalah di pertandingan itu. Namun, ketiganya, setidaknya sudah berusaha sekeras mungkin menghadapi rasa takut. Tahukah kamu, di pertandingan terakhir sebelum pensiun, Kobe mencetak 60 angka!

Kobe Bryant, di laga pamungkas kariernya, melakukan 50 shots, menghasilkan 60 poin. Dia melakukanya sambil menahan rasa sakit di punggung dan pundak yang mati rasa, sebagai bentuk rasa sakit yang menumpuk setelah 20 tahun kariernya bersama LA Lakers.

Orang mengira laga pamungkas Kobe Bryant akan berjalan melankolis. Banyak tangis yang mewarnai. Namun, yang ditunjukkan Kobe adalah esensi dari kerasnya persaingan para profesional. “Apa yang kamu lihat di pertandingan terakhir adalah adegan pembuka dari pengantin yang berlumuran darah versi basket. Seperti adegan pembuka dari film Kill Bill!”

Kobe Bryant pensiun dengan meninggalkan tantangan terbesar bagi rekan dan rival. Basket bukan sekadar kompetisi, tetapi juga palagan perang bagi mereka yang terseleksi oleh alam. Sebuah tantangan yang diteruskan oleh LeBron James dan jagoan lapangan basket lainnya.

Kobe Bryant sudah tiada. Tetapi tantangan yang dia gelar di laga pamungkas masih bergema dan kelak menjadi inspirasi bagi calon legenda dunia bola basket.

Mamba out!

BACA JUGA Kronologi Kobe Bryant dan Putrinya Meninggal dalam Kecelakaan Helikopter atau tulisan Yamadipati Seno lainnya.