MOJOK.CO –  Selamat Hari Pramuka buat Pembina, kakak-kakak berusia 60 tahun. Semoga sehat selalu, bahagia, ceria, dan masih hapal Dasa Dharma Pramuka.

Tapi maaf, nih, meskipun masih akan dipanggil kakak meski sudah berusia 60 tahun nanti, saya tetap sulit jatuh cinta kepada pramuka. Dari dulu, sejak saya SD, SMP, untungnya SMA nggak ada pramuka, hingga sekarang, mengikuti “pelajaran tambahan” ini begitu menyebalkan. Kenapa bisa begitu, berikut alasannya.

Bagi saya, pramuka adalah “pelajaran tambahan”

Bagi anak SD dan SMP, pulang sekolah adalah waktu yang dinanti. Saya nggak mau percaya sama anak yang sedih ketika jam pelajaran selesai. Meskipun jam pelajaran hati itu menyenangkan semua, diasuh oleh guru favorit, waktu pulang tetap yang dinanti. Dan keasyikan itu terusik di hari Jumat, jadwal pramuka.

Pramuka mengajarkan banyak hal. Beberapa di antaranya adalah mengajari kedisiplinan, setia kawan, dan tali-temali. Yang diajarkan sama sulitnya seperti Matematika atau Fisika. Sandi rumput, sandi morse, semaphore, dan lain sebagainya. Itu sulit banget dikuasi buat siswa yang pada dasarnya sudah malas tetap ada di sekolah setelah jam pelajaran selesai.

Atribut yang bikin repot

Tiap Jumat, saya harus pakai seragam yang berbeda, bawa tongkat dari bambu, bawa topi yang bikin gatal jidat, bawa tali yang bikin tas sekolah makin berat, dan kaos ganti kalau keringatan. Ini super repot.

Bayangin, kamu berangkat sekolah naik sepeda. Tangan kiri yang sudah sibut mengatur keseimbangan stang, masih harus disibukkan dengan memegang tongkat. Sering terjadi, tongkat pramuka diapit di antara ibu jari dan ujung stang. Gimana kalau tiba-tiba harus mengerem? Jari-jari harus berakrobat dan biasanya berakhir kegencet.

Lalu topi pramuka. Ini super merepotkan. Kamu tahu, topi ala tentara itu pakai bahan plastik di dalamnya. Kalau terlalu lama dipakai, ditambah keringat, maka gatal yang terasa di jidat.

Baca juga:  Sebuah Suara di Pos Jurit Malam Kemah Pramuka

Pernah suatu kali saya tak tahan dengan gatal di jidat. Topi saya buka dan jari tangan kiri menggaruk dengan brutal. Enak betul rasanya. Tapi, tiba-tiba, kakak pembina seusia bapak saya datang dan menegur. Saya dibilang nggak bisa disiplin dan dimarahi. Ha gatal mentok, je, Pak. Mbok dibantu garukin kan malah sama-sama enak.

Buku saku penuh dosa

Buku saku pramuka itu berwarna cokelat. Isinya adalah tugas dan keterampilan yang harus dikuasai. Misalnya bisa mengerjakan sandi rumput, sandi morse, semaphore, bikin simpul, dan hapal dasa dharma pramuka. Kalau bisa mengerjakan, kakak pembina berusia 60 tahun akan membubuhkan tanda tangan.

Pada akhir semester, kalau kolom tugas belum berisisi tanda tangan, kamu harus mengulang. Pokoknya sampai bisa. Oleh sebab itu, malas menunggu antrian maju mengerjakan tugas dan sudah merasa malas, saya palsukan tanda tangan kakak pembina. Saya sisakan beberapa tugas yang sudah saya kuasai. Hasilnya, saya bisa lulus dengan cepat.

Ini jangan ditiru, ya. Dosa. Ya tapi itulah, buku saku malah bikin saya berdosa. Yang bikin jengkel lagi, kakak pembina pramuka nggak curiga tanda tangannya sudah saya palsukan. Tapi jujur, saya pernah agak menyesal nggak serius menguasai teknik simpul. Saya jadi nggak bisa bantuin ibu memasang tali jemuran.

Persami

Sebagai anak yang menggilai sepak bola, Sabtu dan Minggu adalah waktu yang ditunggu-tunggu. Di akhir minggu, saya bisa menonton sepak bola dan begadang tanpa ada yang menggerutu.

Namun, pramuka dan persami atau perkemahan sabtu-minggu merusak kesenangan kecil itu. Ya memang nggak setiap minggu ada kemah, memangnya anak pecinta alam. Namun, ketinggalan satu pertandingan itu bikin sedih betul. Zaman dulu belum ada situsweb buat streaming full match atau Youtube buat nonton highlight kayak sekarang.

Baca juga:  Jendela, Jendela Apa yang Kalau Dipecahkan, Hukumannya Penjara 20 Tahun?

Persami khas pramuka juga membuat saya harus berada dalam satu kelompok bersama manusia yang lebih suka melanggar peraturan ketimbang susah-susah mematuhinya.

Misalnya begini saya tergabung di sebuah kelompok bernama Regu Kelelawar. Hari Minggu, kami ikut dalam tugas susur jejak. Sederhana banget sebetulnya. Kami tinggi mengikuti peta yang sudah dibuat kakak pembina. Di sepanjang jalan, ada pita-pita yang menjadi petunjuk. Kalau tertib mengikuti peta dan petunjuk, susur jejak itu cepat selesai. Apa yang terjadi?

Kawan-kawan saya memutuskan untuk mencari jalan baru! Kalau pita petunjuk ada di kanan, mereka memutuskan belok kiri. Maunya apa coba! Kamu tahu, ketika garis finish tinggal sepelemparan batu, mereka memutuskan memutari pematang sawah sambil berbaris ala tentara. Sambil mulut mereka berteriak-teriak: “Tuk, wak, tuk, wak, satu duwak”. Dasar anak-anak setan! Kok ya saya mau saja mengikuti tingkah goblog itu.

Kakak pembina pramuka sudah berteriak-teriak memanggil kami. Meminta segera masuk garis finish. Hasilnya, butuh lebih dari 3 jam untuk menyelesaikan susur jejak itu. Dan goblognya, kami jadi yang paling pertama sampai!

Ternyata, ada teman saya yang melepas pita penunjuk jalan dan menyembunyikannya. Healah, dobol! Lebih goblog lagi, di akhir persami, kami jadi regu terbaik! Jadi ini siapa sih yang nyeleneh! Ini campuran antara jengkel karena capek betul sama perut sakit karena tertawa melihat regu lain tersesat. Untung persami waktu itu ada di dalam kampung. Gawat kalau ada di hutan.

I hate you pramuka.



Tirto.ID
Loading...

No more articles